Rekahan Kubah Merapi Semakin Lebar
Sabtu, 25 Mar 2006 13:25 WIB
Yogyakarta - Aktifitas Gunung Merapi yang berada di perbatasan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah semakin meningkat sejak ditetapkan status "Waspada." Berdasarkan pengamatan dari Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK), sejak 15 Maret lalu, deformasi atau perekahan kubah semakin melebar meski jaraknya tidak panjang. Posisi magma saat ini diperkirakan berjarak sekitar 1 kilometer dari bibir puncak Merapi.Saat ini kandungan gas mulai naik. Pergerakan magma dari perut bum juga semakin cepat dan meningkat ke arah barat laut menuju hulu Sungai Woro dan Kali Gendol. Meski demikian pergerakan itu belum mengkawatirkan."Saat ini aktivitas Merapi terus kita pantau baik dari semua pos pengamatan maupun dari Balai. Gempa vulkanik juga semakin meningkat dan terjadi pelebaran kawah," kata Subandriyo Kepala Seksi Gunung Merapi BPPTK kepada detikcom, Sabtu (25/3/2006).Dia mengatakan saat ini energi kekuatan gempa di Gunung Merapi yang mempunyai ketinggian 2.987 mdpl itu meningkat hingga 200 ribu Erg sejak tahun 2005. Halitu berarti mengalami peningkatan dua kali dibandingkan dengan kondisi normal yang hanya 100 ribu Erg.Menurut dia, pengamatan terus dilakukan baik secara visual maupun menggunakan alat-alat pemantau seperti siesmograf yang dipasang di pos pengamatan maupun dibalai. Hanya saja pengamatan visual selama beberapa terakhir ini agak terganggu karena kabut dan badai terus menyelimuti kawasan puncak, meski cuaca cerah."Gempa-gempa vulkanik yang terjadi sekarang sudah berada di permukaan, tinggal menunggu saja kemana arahnya nanti," katanya.Semua petugas di pos pengamatan setiap hari melakukan pemantauan dan kemudian dilakukan evaluasi. Pemantauan masing-masing dilakukan di Pos Jrakah Kecamatan Selo Kabupaten Boyolali, yang memiliki peralatan Cospect untuk mengukur emisi gas (solfatara) di puncak Merapi. Di Pos Babadan Kecamatan Dekun Kabupaten Magelang untuk mengamati deformasi atau perubahan di sekitar gunung api dengan alat Electrooptical Distance Measurement (EDM).Selanjutnya Pos Kaliurang Kabupaten Sleman untuk yang mengamati deformasi dengan peralatan EDM Total Station. Serta pos pengamatan Selo, Boyolali danNgepos Kecamatan Srumbung Kabupaten Magelang untuk mengamati seismograf. Subandriyo menambahkan pengamatan visual saat ini diperlukan untuk mengetahui arah letusan. Namun tanda-tanda visual seperti guguran batuan dan jarakluncuran lava, tekanan, warna dan bau asap sampai sekarang memang belum tampak. Sedang hasil evaluasi hari ini, cuaca di sekitar Merapi tertutup kabut dan mendung. Asap solfatara terpantau berwarna putih tebal dengan tekanan lemahdan tinggi sekitar 40 meter. Guguran lava tidak terjadi dan suara guguran tidak terdengar. "Kegempaan yang tercatat terjadi Gempa multifase terjadi sebanyak 35 kali dan guguran sebanyak 5 kali," katanya.
(jon/)











































