Cerita Hotman Paris Soal Biaya Kremasi Rp 7 Juta Bengkak Jadi Rp 40 Juta

Rakha Arlyanto Darmawan - detikNews
Jumat, 23 Jul 2021 18:43 WIB
Hotman Paris (Foto: Rakha/detikcom)
Foto: Hotman Paris (Foto: Rakha/detikcom)
Jakarta -

Pengacara kondang Hotman Paris kembali bercerita perihal dugaan praktik kartel kremasi jenazah COVID-19. Hotman mengungkapkan, dugaan itu muncul kala seorang perempuan menghubunginya guna meminjam uang.

Perempuan itu, kata Hotman, ingin meminjam uang sebesar Rp 40 juta kepadanya. Uang tersebut, lanjutnya, untuk digunakan membayar biaya kremasi suaminya yang baru saja meninggal.

"Jadi gini, salah satu seorang wanita yang suaminya meninggal gara-gara Covid jam 2 subuh menelfon saya dia bilang, 'Pak bisa pinjam uang 40 juta?', Saya tanya kenapa? Karena untuk kremasi dibutuhkan 40 juta," ujar Hotman Paris, di kawasan Pantai Indah Kapuk 2, Jakarta Utara, Jumat (23/7/2021).

Hotman lantas bertanya berapa tarif normal biaya kremasi kepada perempuan itu. Perempuan itu, kata dia, mengatakan bahwa biaya kremasi normalnya sebesar Rp 7 juta.

"Terus saya tanya, biasanya normal berapa? Katanya normal biasanya Rp 7 juta, jadi dia kaget jadi Rp 40 juta. Akhirnya begitu sekretaris saya sudah bangun, saya suruh transfer Rp 40 juta, saya pinjamkan Rp 40 juta," cerita Hotman.

Dari kejadian itu, Hotman pun bertanya-tanya mengapa biaya kremasi melambung tinggi.

"Gara-gara itu mulailah saya berpikir, saya tanya dia caranya gimana harga 40 juta itu? Ternyata orang RS kasih tau dia bahwa kalau mau kremasi ternyata seperti burung kondor. Ternyata itu orang-orang kremasi itu udah di lobby 24 jam. Ada di lobby rumah sakit menunggu ada keluarga yang menunggu mayat istilahnya, seperti burung kondor di hutan menunggu bangkai binatang langsung disergap," ujar Hotman.

Akhirnya, dia pun mengunggah peristiwa itu ke akun media sosialnya. Dia berharap peristiwa tersebut menjadi perhatian kepolisian.

"Jadi gara-gara itu akhirnya saya buat di Instagram saya minta perhatian dari Bapak Kapolri dan ternyata langsung segera. Bapak Kapolri dan Kabareskrim sudah bertindak dan hari ini juga saya ketemu dengan para penyidik senior dari Kabareskrim sudah ada yang bikin LP," ungkap Hotman.

Alhasil, kata Hotman, polisi pun bergerak mengusut dugaan kartel kremasi itu. Dia mengatakan, dalam waktu dekat ini, akan disampaikan mengenai perkembangan penyelidikan terkait dugaan kartel kremasi itu.

"Dalam 2 atau 3 hari ini akan ada kabar penyidikan yang dilakukan, sudah dibagi ke beberapa kremasi, ada yang ke Cilingcing ada yang ke Tangerang, ada yang ke Karawang, jadi bakal serius ini, itu kira kira," ucap Hotman.

"Sudah bergerak timnya, ada yang ke daerah. Bahkan tadi pagi saya masih ngopi dengan timnya," lanjutnya.

Menurut Hotman, tempat yang memasang tarif tidak masuk akal untuk jasa kremasi bisa dijerat dengan pasal pemerasan. "Pasal yang dikenakan, karena memang pasalnya kan tidak ada, akhirnya saya bilang pakai pasal pemerasan, Pasal 368. Berarti unsur pemerasannya bisa kena, artinya memaksa orang menyerahkan uang karena terpaksa, itulah pemerasan," tegas Hotman.

Selain itu, Hotman juga bercerita bahwa dirinya menerima sebuah pesan dari sebuah grup WhatsApp yang menawarkan tarif jasa kremasi sebesar Rp 80 juta rupiah. Lokasinya diduga ada di wilayah Karawang, Jawa Barat.

"Kalau yang di grup chat itu ada, cuma saya enggak kenal orangnya. Di grup chat itu beredar Rp 80 juta, katanya itu di daerah karawang ya," cerita Hotman.

(mae/mae)