Meski Kasus COVID-19 Turun, Satgas Sebut Masih Perlu Perbaikan

Khoirul Anam - detikNews
Kamis, 22 Jul 2021 21:53 WIB
Jubir Pemerintah untuk Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito
Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden
Jakarta -

Juru bicara Satgas Penanganan COVID-19, Wiku Adisasmito, mengungkapkan bahwa secara nasional kasus positif COVID-19 mengalami penurunan jika dilihat tujuh hari ke belakang. Ia memaparkan, semula 56.757 kasus pada 15 Juli dan menjadi 33.772 pada 21 Juli atau turun sebesar 40%.

Selain itu, kata dia, kesembuhan selama tujuh hari terakhir juga menunjukkan adanya peningkatan, yaitu sebesar lebih dari 70%.

"Jika dilihat pada persen kasus aktif, terlihat mulai mengalami penurunan selama 3 hari terakhir," ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (22/7/2021).

Ia juga mengatakan, persentase Bed Occupancy Ratio (BOR) atau keterisian tempat tidur harian di tingkat nasional konsisten mengalami penurunan selama 7 hari terakhir, dari 76,26% menjadi 72,82%.

Lebih lanjut, Wiku menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh tenaga kesehatan yang tidak kenal lelah merawat pasien sekaligus kepada pemerintah daerah yang telah bergerak cepat dalam membantu pelaporan pasien serta kontak erat COVID-19.

Namun, ia juga menyampaikan beberapa hal yang perlu menjadi perbaikan bersama. Pertama, peningkatan testing perlu menjadi salah satu hal yang diperhatikan.

Ia menyebutkan bahwa jumlah orang diperiksa yang mengalami penurunan selama 4 hari terakhir perlu untuk segera dikejar agar meningkat kembali. Ia menekankan, semakin tinggi testing semakin banyak kasus yang dapat terdeteksi dan ditangani sejak dini.

Dia menegaskan, hal lainnya yang perlu menjadi fokus adalah kematian. Menurutnya, angka kematian yang cenderung mengalami peningkatan selama 7 hari terakhir ini patut dijadikan refleksi bersama.

Terlebih sudah 6 hari berturut-turut kematian kita mencapai angka lebih dari 1.000 setiap harinya.

"Ini tidak bisa ditoleransi lagi karena ini bukan sekadar angka, di dalamnya ada keluarga, kerabat, kolega, dan orang-orang tercinta yang pergi meninggalkan kita," tegas Wiku.

Menurutnya, kasus positif yang turun dan kesembuhan yang meningkat harus diikuti dengan menurunnya angka kematian. Selain itu, kata dia, zonasi risiko tingkat kabupaten/kota saat ini menunjukkan perkembangan ke arah yang kurang baik.

Wiku mengungkapkan bahwa saat ini Kabupaten/kota dengan zona risiko tinggi menjadi yang terbanyak sepanjang pandemi, yaitu 180 Kabupaten/kota. Zonasi ini didominasi Kabupaten/kota dari provinsi Jawa Timur sebanyak 33 kab/kota, Jawa Tengah 29 kab/kota, dan Jawa Barat 21 kab/kota.

"Untuk itu perlu dipastikan sebelum dilakukan pembukaan bertahap, kita wajib bergotong royong dalam meningkatkan testing dan menurunkan angka kematian," lanjutnya.

Dia menambahkan, perkembangan sudah relatif membaik seperti kasus positif, kasus aktif, dan BOR harian yang menunjukkan penurunan, serta kesembuhan yang meningkat harus terus dipertahankan.

Dengan begitu, ungkapnya, zonasi risiko wilayah-wilayah yang saat ini berada di zona merah dapat segera membaik dan berpindah ke zona oranye dan zona kuning.

Selain itu, Wiku menyatakan, jika dilihat pada 7 provinsi Jawa-Bali yang melaksanakan PPKM Darurat, perkembangan selama 7 hari terakhir masih menunjukkan fluktuasi.

"Dalam menilai kesiapan daerah dalam pembukaan bertahap, kita perlu melihat perkembangan kasus positif, kesembuhan dan kematian, serta BOR," katanya.

Ia juga memparkan, jumlah desa/kelurahan yang tidak mematuhi protokol kesehatan dan cakupan posko di wilayah tersebut yang melaporkan kinerja juga perlu dijadikan pertimbangan. Menurutnya, kasus positif selama 7 hari terakhir sudah menunjukkan tren penurunan pada hampir seluruh provinsi ini, kecuali Bali.

"Bali masih mengalami kenaikan kasus positif hingga 3 hari terakhir. Sama halnya dengan kasus sembuh, 5 dari 7 provinsi ini menunjukkan adanya tren peningkatan, kecuali DKI Jakarta dan DIY," katanya.

Wiku menyebut, kedua provinsi itu masih menunjukkan adanya penurunan kesembuhan.

"Hal yang masih menjadi tantangan adalah kematian. Kematian pada hampir seluruh provinsi masih menunjukkan tren peningkatan, kecuali DKI Jakarta. DKI Jakarta per kemarin menunjukkan penurunan yang signifikan, dari 268 menjadi 95 kematian dalam sehari. Jika dilihat dari BOR, seluruh provinsi telah menunjukkan penurunan, kecuali Bali," ujar Wiku.

"Bali, sama seperti kasus positifnya, BOR nya masih perlu menjadi perhatian untuk segera diperbaiki. BOR di Bali masih menunjukkan peningkatan selama 7 hari terakhir," lanjutnya.

(ega/ega)