Memahami Makna Batin Al-Qur'an (8)

Siapa Yang Membahasa Arabkan Al-Qur'an?

- detikNews
Jumat, 23 Jul 2021 04:43 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Pertanyaan yang sering muncul di kalangan teolog, siapa yang membahasa lokalkan Wahyu? Dalam hal ini, siapa yang membahasa Hebrew atau Ibranikan Kitab Taurat? Siapa yang membahasa Suryanikan Kitab Injil? Dan siapa yang membahasa Arabkan Al-Qur'an? Apaka dari sono-nya sudah berbahasa lokal, yakni Tuhan sendiri yang menurunkan wahyu-Nya dengan menggunakan bahasa yang digunakan Nabi penerimanya. Apakah Jibril, karena dia yang mengambilnya dari Lauh al-Mahfuz, lalu menyampaikan kepada Nabi dimaksud. Apakah Nabi yang bersangkutan, yakni Nabi diberi kemampuan kusus untuk memahami bahasa wahyu yang diantarkan oleh Jibril.

Di dalam Islam, setidaknya ada tiga pendapat tentang pembahasa Araban Al-Qur'an. Pertama, yang membahasa Arabkan Al-Qur'an ialah Allah Swt. Pendapat ini didasari oleh pemahaman ayat: Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Al Qur'an dalam bahasa Arab supaya kamu memberi peringatan kepada umulqura (penduduk Mekah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya serta memberi peringatan (pula) tentang hari berkumpul (kiamat) yang tidak ada keraguan padanya. Segolongan masuk surga dan segolongan masuk neraka. (Q.S. al-Syura/42:7). Ada tujuh ayat yang mirip dengan ayat ini menyatakan Al-Qur'an turung dengan menggunakan bahasa Arab, yaitu: Q.S. Yusuf/12:2, al-Ra'd/13:37, Thaha/20:113, al-Zumar/39:28, Fushilat/41:3, al-Syura/42:7, al-Zukhruf/43:3, al-Ahqaf/46:3.

Sebagian lagi ulama mengatakan yang membahasa Arabkan Al-Qur'an ialah Jibril, seperti halnya ia yang membahasa Hebrew atau Ibranikan kitab Taurat dan membahjasa Suryanikan kitab Injil. Pendapat ini didasarkan dari pemahaman dan kesimpulan umum peranan malaikat Jibril sebagai untusan untuk menyampaikan wahyu kepada para Nabi yang ditentukan oleh Allah Swt. Pemahaman ini difahami dari beberapa ayat Al-Qur'an, antara lain: (Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman". Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka (Q.S. al-Afal/8:12). Pendapat ini juga mendasarkan alasannya kepada surah Al-Qadr, yang menggambarkan peristiwa Nuzulul Qur'an pertama kali di Gua Hira, di mana Jibril membawakan wahyu pertama kepada Nabi Muhammad Saw yang sekaligus melantiknya sebagai Nabi.

Pendapat lain, kalangan ulama menggaris bawahi sebuah riwayat yang disampaikan Aisyah ra, yang menyatakan bahwa wahyu yang paling berat diterima Nabi ialah wahyu yang diturunkan dalam bentuk bunyi lonceng oleh malaikan Jibril. Menurut Aiusyah, inilah wahyu yang paling berat diterima Nabi sampai dilukiskan, Nabi terkadang keringatan di musim dingin, begitu berat menerjemahkan bunyi lonceng itu sebagai bahasa Al-Qur'an.

Mungkin juga masih ada orang berpendapat bahwa yang membahasa lokalkan Al-Qur'an kombinasi antara bahasa local yang langsung diturunkan dari langit seperti apa adanya sekarang, sebagian lagi diartikulasikan oleh malaikat Jibril, dan sebagian lainnya diartikulasikan oleh Nabi yang menerima wahyu itu. Meskipun demikian, samasekali tidak mengurangi orisinalitas dan keaslian Wahyu atau Kitab Suci Tuhan.

Bagi umat Islam, sepertinya tidak terlalu mempersoalkan siapa yang membahasa lokalkan Al-Qur'an. Apakah oleh Allah Swt sendiri, Jibril, Nabi Muhammad Saw, atau gabungan ketiganya. Siapapun yang membahasa lokalkan Al-Qur'an tidak akan pernah mengurangi keaslian, orisinalitas, kesakralan, keberkahan, dan kesucian Al-Qur'an. Semuanya itu hanya persoalan teknis. Umat Islam sangat yakin bahwa Al-Qur'an sebagaimana apa adaanya sekarang itulah Kitab Suci Al-Qur'an. Keasliannya dijamin oleh Allah Swt sebagaimana ditegaskan dalam ayat: Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya (Q.S. al-Hijr/15:9).

Prof. Nasaruddin Umar

Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta

Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih - Redaksi)

Lihat juga Video: Makna Orang Beriman dalam Surat Al-Baqarah 183

[Gambas:Video 20detik]



(Prof. Nasaruddin Umar/erd)