Kolom Hikmah

Kelemahan Umat (1)

Aunur Rofiq - detikNews
Jumat, 23 Jul 2021 06:42 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Alhamdulillah penulis dalam perjalanan mengisi Kolom Hikmah pada tanggal 23 Juli 2021 tepat satu tahun. Oleh karenya penulis membuat tulisan seri tentang kelemahan umat.

Ada beberapa pemahaman yang kurang tepat, sehingga menyebabkan kelemahan. Setelah membaca buku-buku karya Dr. Yusuf Qardawi dan Mohammed Farid. Ada beberapa pemahaman yang tentu perlu dimaknai yang tepat, agar masyarakat Islam bisa memberikan sumbangannya.

Ilmu pengetahuan adalah jendela dunia, sebagai alat menggali, menelusuri dan memberikan solusi kehidupan. Menjadi keniscayaan bahwa seorang muslim berkemampuan dengan ilmu pengetahuan. Membaca merupakan perintah pertama dari Gusti Allah pada Muhammad Rasulullah. Dengan membaca, memahami akan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, dimungkinkan memberikan temuan-temuan baru yang berguna untuk peradaban.

Sayangnya, umat ini lemah dalam kemauan untuk membaca, mempelajari, memahami dan menerapkan sesuatu temuan. Pada masa umat Islam memberikan pencerahan dunia / abad pertengahan, banyak penemuan-penemuan dari kalangan Muslim. Pada saat itu Eropa mengalami masa kegelapan. Apa yang dilakukan para pemimpin Islam saat itu adalah, menterjemahkan buku-buku dari Yunani, Persi dan Mesir ke dalam bahasa Arab. Hal ini menjadikan dorongan umat Muslim untuk membaca, memahami dan mencarikan solusi dengan menemukan hal-hal baru. Cara ini dilakukan bangsa Israel dalam masa pertumbuhannya mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bahasa Ibrani. Pada saat ini banyak temuan berbagai bidang muncul dari bangsa tersebut. Salah satu pada bidang pertanian untuk wilayah kering seperti di Afrika, pengairan terhadap tanaman dengan cara tetes. Sekali lagi penulis tegaskan bahwa pembuka kemajuan adalah membaca, membaca dan membaca. Hal ini diperkuat oleh firman Allah, " Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan." ( QS. al-Alaq [96] : 1 ).

Umat ini masih tertidur dan terlena, belum bangun untuk mengejar ketertinggalan yang semakin jauh. Banyak sebab yang menjadikan kondisi ini, salah satunya adalah :

1. Kerja, dipandang sebagai sesuatu yang berat. Padahal kerja merupakan perintah ajaran Islam. Rasulullah bersabda, "Tidak ada yang lebih baik dari usaha seorang laki-laki kecuali dari hasil tangannya (bekerja) sendiri. Dan apa saja yang dinafkahkan oleh seorang laki-laki kepada diri, istri, anak dan pembantunya adalah sedekah." (HR. Ibnu Majah). Hadis tersebut hendaklah menjadi pendorong setiap Muslim untuk bersemangat bekerja. Karena bekerja merupakan bagian dari kehendak dasar (fitrah) setiap orang. Setiap orang yang normal dan sehat akalnya tentu akan merasa senang bekerja guna memenuhi kebutuhannya, dan merasa ada sesuatu yang hilang bila tidak memiliki pekerjaan. Tidak dibenarkan seorang Muslim bermalas-malasan, hanya berharap belas kasih dari orang lain pada hal sebenarnya masih mampu bekerja dengan kekuatan fisiknya. Tidak dibenarkan menyia-nyiakan waktu luang hanya untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. "Dan jika telah selesai satu pekerjaan maka segeralah mengerjakan pekerjaan lain". (Qs Al-Insyirah [94]: 7).

2. Kurang menghargai waktu. Seperti ayat tersebut di atas, bahwa perintah tidak boleh menyia-nyiakan waktu, selesai satu pekerjaan sudah ada pekerjaan selanjutnya. Justru kita temui jika diundang Ormas Islam dalam suatu acara sering terlambat dimulai, hal ini sering dikatakan sudah biasa. Ada yang sudah menerapkan tepat waktu, meski tidak banyak namun patut menjadi contoh sebagai langkah menghargai waktu sesuai perintah.

3. Memandang rendah kemampuan sumber daya manusia. Dalam zaman ini adanya perubahan yang cepat, maka penyesuaian kondisi harus diikuti oleh manusia berkemampuan. Pengembangan manusia merupakan keharusan, sehingga akan menciptakan manusia unggul dan bisa memberikan kontribusi dengan inovasi.

Kekuatan do'a adalah luar biasa, karena memohon pada Yang Kuasa merupakan perintah. Allah Swt memerintahkan hamba-Nya untuk senantiasa berdoa. Perintah ini tertuang dalam Surat Al-Mu'min ayat 60. Allah berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina".

Dalam masyarakat ada kesalahan pemahaman dalam berdo'a, bahwa dengan berdo'a semua urusan akan selesai dengan sendirinya tanpa melakukan sesuatu apapun. Di sini penulis katakan bahwa sikap ini adalah "pasif". Tidak mempunyai pekerjaan? Berdo'alah. Seharusnya langkahnya adalah menyiapkan CV lalu melamar ke beberapa perusahaan yang dituju. Setelah itu serahkan selanjutnya Yang Kuasa dengan berdo'a. Sama dengan petani ketika mau menanam padi, setelah semua persiapan dan penanaman selesai maka berdo'alah. Do'a tidak bisa menggantikan persiapan dan kerja keras. Do'a merupakan pendorong spiritual yang membantu memberikan hasil atas berbagai upaya yang telah kita lakukan.

Dari uraian tersebut di atas, dapat diambil intisarinya untuk menjadikan umat yang unggul dengan langkah utama membaca kemudian diikuti dengan efisien waktu, bekerja dengan cerdas, selalu meningkatkan diri dan yang terakhir adalah melakukan ikhtiar secara maksimal dan berdo'a.

Aunur Rofiq

Sekretaris Majelis Pakar DPP PPP 2020-2025

Ketua Dewan Pembina HIPSI ( Himpunan Pengusaha Santri Indonesia )

*Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. --Terimakasih (Redaksi

(erd/erd)