ICW Tuding Ada Keterlibatan Moeldoko di Balik 'Promosi' Ivermectin Obat COVID

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 22 Jul 2021 14:30 WIB
Jakarta -

Indonesia Corruption Watch (ICW) menuding ada sejumlah pihak yang mencari untung di tengah pandemi Corona atau COVID-19. Salah satunya dengan 'mempromosikan' ivermectin sebagai obat untuk menanggulangi Corona.

Dilihat detikcom, Kamis (22/7/2021), ICW mengulas polemik Ivermectin sebagai 'obat' COVID-19 ini dalam situs resminya lewat artikel berjudul 'Polemik Ivermectin: Berburu Rente di Tengah Krisis'.

"Hasil penelusuran Indonesia Corruption Watch (ICW) menemukan dugaan keterkaitan anggota partai politik, pejabat publik, dan pebisnis dalam penggunaan obat Ivermectin untuk menanggulangi COVID-19. Polemik Ivermectin menunjukkan bagaimana krisis dimanfaatkan oleh segelintir pihak untuk mendapat keuntungan," demikian tulis ICW mengawali penjelasannya.

ICW menyebut polemik terkait ivermectin ini berawal pada Oktober 2020. Kala itu, menurut ICW, dokter dari Departemen Penelitian dan Pengembangan PT Harsen Laboratories Herman Sunaryo menyebutkan Ivermectin dapat digunakan sebagai alternatif pengobatan COVID-19.

"Polemik lalu berlanjut pada awal Juni 2021, ketika PT Harsen Laboratories mengumumkan telah memproduksi Ivermectin, obat yang diklaim sebagai alternatif terapi COVID-19," tulis ICW.

Selain itu, ICW menyebut Menteri BUMN Erick Thohir mengirim surat ke BPOM yang berisi permohonan penerbitan emergency use authorization untuk Ivermectin. Menurut ICW, surat itu bernomor S-330/MBU/05/2021.

"Setelah mendapat peringatan dari BPOM, Menteri BUMN Erick Thohir menyatakan akan memproduksi Ivermectin sebanyak 4,5 juta dosis, yang akan diedarkan oleh PT Indofarma," tulis ICW.

Ivermectin menjadi salah satu daftar obat yang ditawarkan pemerintah untuk terapi COVID-19. Padahal belum ada uji klinis tepat terkait kegunaan obat-obatan tersebut pada pasien COVID-19.

"Selama 18 bulan pandemi, pemerintah telah mengedarkan obat Chloroquine, Avigan, wacana vaksin Nusantara, hingga Ivermectin," tulis ICW.

Temuan ICW

ICW mengaku menemukan potensi rent-seeking dari produksi dan distribusi Ivermectin. Praktik itu, menurut ICW, diduga dilakukan oleh sejumlah pihak untuk memperkaya diri sendiri dengan memanfaatkan krisis kesehatan.

"ICW ikut menemukan indikasi keterlibatan anggota partai politik dan pejabat publik dalam distribusi Ivermectin," ujarnya.

Menurut ICW, ivermectin tersebut akan diproduksi oleh PT Harsen Laboratories dengan merek Ivermax 12. ICW menyebut perusahaan ini dimiliki oleh pasangan suami-istri, Haryoseno dan Runi Adianti.

"Kedua nama tersebut tercatat dalam dokumen Panama Papers dan diketahui terafiliasi dengan perusahaan cangkang bernama Unix Capital Ltd yang berbasis di British Virgin Island," tulis ICW.

Selanjutnya
Halaman
1 2