Rumah Anti Cemburu untuk Aceh
Jumat, 24 Mar 2006 15:54 WIB
Banda Aceh - Pilih yang mana? Rumah tipe 36, 45, atau 72? Kalau dikasih gratis, tentu saja pilih yang tipe 72. Lalu yang dapat tipe 36 atau 45 pastilah mengkel.Bukannya tidak bersyukur dapat rumah gratis tipe 36, tapi kalau bisa dapat yang tipe 72 kan why not!Belum lagi kalau bahan baku dan model rumah yang dibangun non-government organization (NGO) ini lebih bagus ketimbang yang dibangun NGO lainnya.Padahal ketika membangun rumah, NGO yang satu sudah mendapat persetujuan dari masyarakat mengenai modelnya. Tapi ketika melihat model rumah yang dibangun NGO lain, mereka protes."Tolong hormati pemberian orang. Jangan jadi bangsa yang tidak berterima kasih," imbau Deputi Infrastruktur Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias Edi Purwanto saat ditemui jurnalis Jakarta di kantornya, Lueng Bata, Banda Aceh, Rabu 15 Maret 2006.Wuiihhh... hal-hal yang terdengar remeh dan sepele seperti ini, jika tidak tegas dan segera disikapi, tentulah akan berpotensi menimbulkan konflik sosial.Itu sebabnya BRR segera ambil sikap. Lembaga negara yang mengoordinir proyek-proyek yang dilakukan NGO ini langsung menetapkan standarisasi pembangunan rumah."Rumah standarnya kita tetapkan tipe 36. Ini demi menghindari konflik sosial dan kecemburuan," jelas Deputi Komunikasi BRR Sudirman Said.Tidak hanya tipenya saja yang seragam, gambar dan model rumah pun harus sepersetujuan BRR. Dan tentu saja dilakukan pengawasan oleh BRR dan masyarakat, mana tahu pelaksanaan di lapangan akan berbeda."Sampai bahan bakunya pun kita awasi dan kita jaga jangan sampai kurang atau melebihi standar. Satu rumah permanen senilai Rp 42 juta," imbuh Edi Purwanto.Pelaksanaan di lapangan juga ternyata lumayan rumit. NGO yang notabene pihak asing terkadang mengalami benturan dengan kontraktor lokal maupun komunitas setempat.Kalau sudah begini, Tengku Kamaruzzaman turun ke lapangan. Perwakilan GAM yang menjadi wakil kepala operasi di BRR ini bertugas menyelesaikan perselisihan."NGO melakukan tindakan yang tidak sesuai adat istiadat setempat, misalnya bekerja saat warga beribadah Jumat. Ada juga NGO yang diancam kontraktor lokal. Lalu NGO yang komplain ke kontraktor lokal karena ada tagihan yang tidak sesuai jumlah di kontrak," tutur Kamaruzzaman.Terhadap permasalahan tersebut, pihaknya meng-handle dengan serius. Sudah ada 5 kasus yang di-handle dan semuanya selesai dengan baik.Rumah yang dibicarakan BRR adalah rumah permanen untuk rakyat Aceh dan Nias setelah gelombang dahsyat tsunami menyapu bersih rumah mereka pada 26 Desember 2004.Rumah permanen tersebut bisa juga menggantikan rumah knock down (bongkar pasang) tipe 36 yang bersifat sementara namun tahan gempa. Rumah dari kayu untuk korban tsunami ini hanya diikat dengan baut dan mur.International Organization for Migration (IOM) berkomitmen membangun ribuan rumah, baik knock down maupun permanen. Rumah permanen hanya dibangun di daerah yang tak ada lagi masalah kepemilikan tanah.Sedangkan untuk rumah knock down -- IOM menyebutnya rumah transisional -- pengungsi nantinya dapat membawa rumah tersebut ke mana mereka mau menetap setelah mengungsi. "Pssttt... rumah ini desain mahasiswa ITS loh," ujar Petugas Pers dan Informasi Nasional IOM Paul Dillon saat memperlihatkan seribuan rumah knock down bermodel seragam di Ulee Lheu, Banda Aceh."Kita juga concern dengan fasilitas kesehatan dan mata pencaharian masyarakat. Makanya kita bangun juga klinik, pabrik batu bata, dan juga sekolah," urai pria yang fasih berbahasa Indonesia ini.BRR menargetkan 30 ribu rumah permanen pada tahun 2005. Faktanya melebihi target, yakni 32 ribu rumah. Sebanyak 3.500 di antaranya dibangun BRR. Selebihnya dibangun NGO dan donor.Tahun 2006 dicanangkan sebagai tahun perumahan dengan target 78 ribu rumah. Sebanyak 40 ribu di antaranya dikontrol BRR, 38 ribu lainnya dibangun NGO dan donor."Targetnya 5.000 rumah per bulan. Semakin banyak kontraktor yang terlibat, semakin cepat selesai. Kita tidak ingin banyak orang masih tinggal di barak lebih lama," ujar Edi Purwanto.Anti KolusiSelain pembangunan rumah anti cemburu sosial, proyek yang anti korupsi, kolusi, dan nepotisme alias KKN juga menjadi perhatian BRR."Bobot kasusnya lebih banyak kolusi daripada korupsi, seperti kongkalikong," ungkap Kepala Satuan Antikorupsi BRR Kevin Evans yang juga fasih berbahasa Indonesia ini.Untuk menangkal permasalahan tersebut, pekerja BRR diberi tameng produk etika. Ada paket integritas yang harus diteken. Kemudian NGO yang dapat proyek menyatakan persetujuan perlakuan bebas KKN."Tidak boleh, nanti saya dipecat. Ucapan ini jadi tameng staf BRR jika ada yang mengajak kongkalikong. Jika ada problem dengan aparat berseragam, kita langsung kontak komandan mereka. Problem selesai," urai Kevin.Secara fatal, lanjut dia, belum ada pihak yang menyulitkan maupun melakukan intimidasi. TNI dan Polri bahkan dinilainya mendukung tindakan BRR."Asalkan kita juga konsisten dan tidak membuat tuduhan ngawur. Asalkan informasinya jelas, mereka sangat responsif," puji Kevin.Ada 1.733 proyek yang terdiri dari 945 proyek pemerintah yang diorganisir 101 satuan kerja (pimpro), dan 828 proyek NGO yang diorganisir 291 penyelenggara.Lebih dari 2 pekan BRR buka tenda dan pasang iklan di 9 media di Aceh, Sumut, dan Jakarta. Prosesnya terbuka. Hingga penutupan pukul 24.00 WIB Selasa 14 Maret, terdaftar 2.388 kontraktor dan konsultan. 90 Persen dari Aceh, 10 persen dari luar Aceh. Akhir bulan Maret akan diumumkan daftar kontraktor yang lulus."Meski kita dapat otoritas penunjukan langsung, tetapi melakukannya dengan transparan. BRR tidak ingin ada spekulan seperti calo. Ada officer yang macam-macam langsung ditindak dan tidak ada kompromi," ujar Sudirman.Dia juga mengklaim BRR sebagai lembaga negara pertama yang mengurus APBN ke DPR dan departemen terkait tanpa menyogok dan tanpa "janji mesra". Begitu juga saat mengurus keppres tidak pakai macam-macam, 1 minggu selesai."Mau titip kontraktor silakan, asalkan penuhi syarat. Kalau tidak, ya dicoret. Kita nggak punya beban apa pun, nggak sibuk dengan amplop dan sogokan. Pokoknya pede aja!" tandas Sudirman.Keterangan Foto:Rumah permanen (atas) dan knock down (bawah) yang seragam tipe dan model di Kecamatan Jantho, Aceh Besar (repro IOM)
(sss/)











































