e-Life

Jika 'Terpaksa' Menikah Saat Pandemi Masih Melanda

dtv - detikNews
Selasa, 20 Jul 2021 08:37 WIB
Jakarta -

Banyak hal yang berubah sejak pandemi COVID-19 melanda seluruh dunia. Salah satunya dapat dilihat dari penyelenggaraan pesta pernikahan di masa pandemi. Kini pesta pernikahan hanya bisa digelar dengan mematuhi peraturan dan protokol kesehatan tertentu untuk mencegah persebaran virus yang lebih parah.

"Protokol kesehatan menjadi poin paling penting. Selain harus pakai masker, kemudian hand sanitizer di mana-mana disediakan. Kemudian menjaga jarak yang wajib gitu ya, jadi kalau ada yang berkerumun, security venue maupun dari tim WO (wedding organizer, red) tuh pasti langsung mengingatkan untuk menjaga jarak seperti itu," terang Owner Chandira Wedding Organizer & Planner, Maryani di acara e-Life, detikcom.

Selain itu, jumlah tamu undangan yang dahulu bisa mencapai ribuan, kini hanya dibatasi antara 100-200 orang saja, itu pun bersesi. Teknis pendataan tamu pesta di era pandemi ini juga sudah tidak lagi menggunakan kertas (paperless), sehingga lebih banyak menggunakan barcode.

Pernikahan virtual juga menjadi salah satu opsi di tengah pembatasan kala pandemi COVID-19 ini. Mulanya memang terasa sedikit berbeda karena kehadiran tamu dan keluarga tidak dapat dirasakan secara langsung. Akan tetapi, beberapa perubahan memang harus dilakukan demi kebaikan bersama.

Hal serupa terjadi kepada pasangan artis Calvin Jeremy dan Novia Santoso. Pasangan yang menikah pada 10 Juli 2021 ini sempat harus memindahkan tanggal resepsi pernikahan dan mendahulukan pemberkatan. Walaupun ada rencana-rencana yang harus 'dikorbankan', Calvin menekankan bahwa di saat-saat seperti ini, penting untuk melihat kembali esensi dari pernikahan itu sendiri.

"Apa sih sebenarnya esensi dari sebuah pernikahan itu? Esensi dari sebuah pernikahan itu adalah ya kita mengikat janji suci, dan itu yang dinikmati sama orang-orang. Apakah memang di era seperti sekarang harus hadir secara offline? Nggak kan, karena everything is digital now. Jadi kita juga bisa menyiasati, oke berarti kalau nggak bisa datang langsung, kita tetap bisa menyiarkan secara online," kata Calvin saat hadir di acara e-Life.

Menyiasati pembatasan di era pandemi, pesta pernikahan banyak memanfaatkan teknologi digital untuk tetap bisa dihadiri oleh kerabat dan keluarga. Menurut Maryani, trennya adalah menggunakan platform yang sudah ada, seperti YouTube, Instagram, atau Zoom.

Jumlah tamu yang lebih sedikit, dirasa identik dengan tuntutan yang lebih rendah untuk membuat pesta yang mewah. Banyak yang berpikir bahwa menikah di masa pandemi justru lebih murah daripada sebelum pandemi.

Menanggapi hal ini, Maryani mengatakan bahwa semua tergantung permintaan dan konsep klien. "Nah, kalau di tengah pandemi ini sebenernya kalau mau dibilang relatif lebih murah, bisa. Tapi ada juga yang memang menggunakan ini karena acaranya intimate jadi sekalian bagus, sekalian besar, jadi budget besar pun nggak masalah tuh juga ada," jelas Maryani.

Bahkan Maryani juga berbagi cerita bahwa ia pernah mendapat klien yang menikah hanya dengan modal 5 juta rupiah. Bagi Maryani, menikah itu selalu murah, yang mahal adalah gengsinya.

Salah satu hal penting dalam perencanaan pernikahan adalah menemukan vendor yang tepat, sesuai dengan kebutuhan dan budget calon pengantin. Menurut Calvin, komunikasi yang baik harus terjalin juga kepada vendor. Bagi Calvin, ia tidak menganggap vendor sebagai orang-orang yang bekerja untuknya, melainkan bagian dari kesuksesan acara pernikahannya.

"Jadi again kan yang nomor 1 itu kita komunikasiin, kedua kita juga nggak semata-mata kayak 'Gua udah bayar!', no. Mereka juga part of our success story, gitu kan," kata Calvin.

Selain persoalan komunikasi dengan pasangan dan vendor, perencanaan pernikahan juga akan lancar jika dibarengi dengan komunikasi yang baik kepada keluarga besar. Masa pandemi yang mengharuskan adanya banyak adaptasi dan perubahan konsep acara pernikahan sangat mungkin menyebabkan konflik di dalam keluarga sendiri.

"Biasanya menikah di-setnya 6 bulan sebelumnya, masih banyak waktu kok. Sleep on it. Dengerin, rasain, mereka maunya apa. Mungkin pada awalnya, mama tetap mau ngundangnya sekian, papa mau ngundangnya sekian. Dengerin aja dulu, oke coba ya saya terima dulu. Saya dengerin dulu, gitu. Besok discuss lagi dengan kepala lebih dingin, dengan hati yang lebih tenang. Kita bisa akhirnya ketemu kok pasti di tengah itu," jelas Calvin saat mengingat kembali caranya mengomunikasikan rencana pesta pernikahan kepada orang tuanya.

Bagi pasangan yang hendak menikah, terutama di masa pandemi ini, pada dasarnya hal-hal yang harus diperhatikan sebelum menikah kurang-lebih sama dengan merencanakan pernikahan pada umumnya.

"Setelah komunikasi dengan keluarga, yang pertama pasti budgeting. Kedua, konsep, ini harus dibentuk sebelum lari ke mana-mana. Jangan cari gedung dulu, jangan cari yang lain-lain dulu, konsep dulu dimatengin. Mau pernikahannya indoor atau outdoor atau mau seperti apa? Apa mau kita cukup di KUA? Atau mau holy matrimony aja? Atau pemberkatan dulu? Apa mau apa dulu? Baru mencari vendor-vendor yang tepat yang bisa bekerja sama nanti ke depannya," tutur Maryani.

(gah/gah)