Sosok

Jasa Besar Pak Kasur bagi Kak Seto dan Arti Angka 4-4-4

Khairunnisa Adinda Kinanti - detikNews
Minggu, 18 Jul 2021 19:35 WIB
Jakarta -

Apakah kamu tahu bahwa Kak Seto (69) yang dikenal sebagai sahabat anak dan psikolog terpandang saat ini dulunya sangat berambisi sekali menjadi seorang dokter. Keinginannya menjadi seorang dokter harus dikubur dalam-dalam karena selalu tidak lulus ujian masuk perguruan tinggi kala itu.

Kak Seto dan saudara kembarnya, Kresno Mulyadi, mencoba mengikuti tes kedokteran di Universitas Airlangga, Surabaya, selepas lulus SMA. Kembarannya diterima sebagai mahasiswa kedokteran, tetapi tidak dengan Kak Seto.

Tidak menyerah, Kak Seto mencoba daftar lagi dan mengikuti tes untuk masuk kedokteran di beberapa kampus mulai dari Universitas Gadjah Mada, Universitas Diponegoro, hingga Universitas Indonesia. Namun hasil yang diterima tetap sama, yaitu gagal menjadi mahasiswa kedokteran.

Merasa terpukul, Kak Seto 'minggat' ke Jakarta pada 28 Maret 1970. Dengan modal nekat cuma membawa barang dan pakaian seadanya, Kak Seto muda mengadu nasib di ibu kota tanpa rencana maupun tujuan yang jelas. Sang ibu sempat mencegah Kak Seto, tapi Kak Seto tetap pada keputusannya untuk hijrah.

Di Jakarta, Kak Seto mengaku pernah bekerja sebagai pemulung dan pengemis untuk bertahan hidup. Namun Kak Seto tetap berpakaian rapi dengan batik walaupun tidak punya tempat tinggal yang tetap.

"Ya akhirnya ya sudah karena selalu dibanding-bandingkan oleh teman-teman, oleh keluarga seolah-olah yang gagal itu ya kamu gagal. Akhirnya saya nggak kuat juga. Ya sudah bahasa Prancis-nya minggat gitu," kenang Kak Seto dalam program Sosok di detikcom.

Kehidupannya mulai berubah ketika Kak Seto melihat acara Taman Indria di TVRI yang saat itu dibawakan oleh Bu Kasur. Kak Seto merasa dia bisa membantu Bu Kasur dalam acara itu.

Lalu Kak Seto mencari Bu Kasur mulai dari studio TVRI sampai ke rumahnya. Seorang penjaga di TVRI memberikan alamat Bu Kasur karena saat itu tokoh anak-anak yang terkenal pada zamannya tersebut tidak berada di tempat.

"Sudah siang kira-kira setengah dua itu saya ketuk pintunya ternyata yang membukakan pintu bukan Ibu Kasur tapi Pak Kasur. Nah saya pernah membaca perjuangan beliau mencintai anak-anak terus waduh ini seperti 'tumbu nemu tutup' (serasi, pas, red). Ya ini justru yang saya lebih idolakan juga gitu," ujarnya.

Kepada Pak Kasur, Kak Seto memperkenalkan diri sebagai calon mahasiswa UI. Dia mengutarakan niatnya membantu Pak Kasur secara cuma-cuma, walaupun tanpa dibayar sekalipun.

"Pak saya ini calon mahasiswa UI. Saya bilang gitu. Namanya calon, ya kapan-kapan ya. Maksudnya itu," kata Kak Seto

"Oh boleh baik nanti sore coba datang ke Taman Situlembang," kata Kak Seto menirukan jawaban Pak Kasur waktu itu.

Kak Seto diminta Pak Kasur membantunya di kelompok bermain yang ada di Taman Situlembang, Menteng. Pak Kasur memperkenalkan Kak Seto sebagai asistennya, calon mahasiswa UI. Ketika diperkenalkan Pak Kasur, Kak Seto sempat melirik jam dan waktu menunjukkan pukul 4 sore.

Di acara Pak Kasur tersebut, Kak Seto membantu sebisanya. Mulai dari ikut lompat-lompat, mengumpulkan bangku untuk anak-anak, dan sebagainya. Seusai acara selesai, Kak Seto kembali ke Blok M dan menyadari ada hal yang menarik di hari itu.

"Sorenya saya kembali ke tempat saya mangkal di Blok M sebenarnya dekat tempat sampah begitu. Saya selalu bikin catatan harian hari ini jam 4 tanggalnya oh iya ini tanggal 4 ya bulan April ya nah sudah saya catat. Lama-lama saya tahu lho kok ini serba 4 tanggal 4, bulan 4, jam 4 lagi ya sudah mudah-mudahan ini sesuatu yang sangat bersejarah," tutur Kak Seto.

Cukup lama Kak Seto menjadi asisten Pak Kasur. Hingga sampai di satu hari Kak Seto mengikuti tes kedokteran yang kesekian kalinya dan kembali gagal. Pak Kasur yang ternyata sudah melihat potensi pada diri Kak Seto, memberi masukan agar dirinya mencoba masuk Fakultas Psikolog. Dan benar saja, Kak Seto diterima menjadi mahasiswa psikologi di Universitas Indonesia pada 1972.

Sempat malas-malasan kuliah karena tidak sesuai dengan impiannya menjadi dokter, Kak Seto mengaku perlahan jatuh cinta pada psikologi. Dia menyelesaikan studi S1 psikologi UI setelah 9 tahun kuliah karena sempat asal-asalan menjalaninya.

Kini Kak Seto dikenal sebagai psikolog dan aktivis perlindungan anak. Dia tidak mau mencoba profesi lain karena memegang teguh amanat yang diberikan Pak Kasur. Pak Kasur menitipkan anak-anak Indonesia pada Kak Seto.

"Saya ingat tanggal 23 September waktu saya bantu memperbaiki Angklung, menyusun rapi di loteng di tempat tinggal Pak Kasur lalu beliau langsung memegang pundak saya. "Dek, sekarang ingat kata-kata saya kalau saya mati tolong Adek yang melanjutkan perjuangan saya melindungi dan mendidik anak-anak Indonesia." "Siap Pak siap saya pegang amanat Bapak," jawab saya. Itu saya tulis di buku harian saya," ungkap Kak Seto.

(gah/gah)