Tembus 54 Ribu, Kasus Harian Corona RI Sementara Tertinggi di Dunia

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 14 Jul 2021 17:50 WIB

Skenario Terburuk

Koordinator PPKM Darurat, sekaligus Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi (Marinves), Luhut Binsar Pandjaitan, sebelumnya mengungkap pemerintah telah menyiapkan skenario apabila tambahan kasus per hari Corona di RI menembus 40 ribu hingga 70 ribu. Pemerintah mengungkap telah menyusun skenario suplai obat, oksigen, dan rumah sakit ketika penambahan kasus Corona memasuki skenario kasus terburuk.

"Sekarang kami sudah buat skenario gimana kalau kasus ini 40 ribu. Jadi kita sudah hitung worst-case scenario, lebih dari 40 ribu. Bagaimana tadi suplai oksigen, bagaimana suplai obat, bagaimana suplai rumah sakit, semua sudah kami hitung," kata Koordinator PPKM darurat Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, dalam jumpa pers virtual, Senin (6/7/2021).

Luhut menyebut angka 40 ribu, 50 ribu, 60 ribu, dan 70 ribu kasus sebagai batasan terburuk pandemi COVID-19 di Indonesia. Tidak jelas betul, mana yang menjadi batasan mutlak, apakah 40 ribu atau 70 ribu. Yang jelas, angka-angka itu semakin dekat saja dari kenyataan yang kini bergerak.

"Tapi kalau kasus ini lebih nanti daripada 40 ribu, 50 ribu, kita tentu akan membuat skenario siapa yang akan kita nanti minta tolong dan sudah mulai kita kerucut itu semua. Oksigen sampai hari ini kami hitung sudah dibuat skenario oleh tim itu bisa sampai 5.000, mungkin malah paling jelek kita sudah bikin sampai 60-70 ribu kasus per hari. Tapi kita tidak berharap itu terjadi karena teman-teman polisi, TNI, saya kira sudah melakukan penyekatan yang cukup baik," ujar Luhut.

Lebih lanjut, pemerintah juga tak menutup kemungkinan meminta bantuan internasional apabila kasus harian Corona telah memasuki skenario terburuk. Luhut mengatakan pemerintah telah menjalin komunikasi dengan Singapura dan China terkait penanganan pandemi.

"Kalau ada yang bilang tadi perlu bantuan dari luar kita juga sudah komunikasi dengan Singapura, kita komunikasi juga dengan Tiongkok, dan komunikasi dengan sumber-sumber lain," kata Luhut.


(rdp/imk)