PAN Setuju Dokter Magang Terjun Tangani COVID: Jadi Syarat Kelulusan

Isal Mawardi - detikNews
Rabu, 14 Jul 2021 07:09 WIB
Seorang dokter tengah menyuntikan vaksin COVID-19 di Rumah Sakit swasta daerah Jakarta Selatan, Kamis (14/1/2021). Rumah Sakit swasta ini mulai menyuntikan vaksin covid-19 bagi para Tenaga Kesehatan (Nakes) di sebagian daerah Jakarta Selatan.
Ilustrasi tenaga kesehatan (Foto: Grandyos Zafna/detikcom)
Jakarta -

Pemerintah berencana menerjunkan dokter yang akan selesai internship diterjunkan ke lapangan membantu tenaga kesehatan (nakes) dalam penanganan COVID-19. PAN setuju dengan rencana itu.

"Saya kira sangat masuk akal dan bisa diterapkan," ujar Ketua Fraksi PAN DPR Saleh Partaonan Daulay ketika dihubungi detikcom, Selasa (13/7/2021).

Saleh menyebut dokter magang yang nantinya diterjunkan harus diawasi ketat baik dari perguruan tinggi maupun Kemenkes. Sehingga mereka dapat menerapkan kerja yang profesional.

"Mungkin dibuat semacam laporan harian harus mereka isi dan diparaf oleh para petugas yang diberi tanggung jawab mengawasi. Jadi kalau diberi kemudahan untuk lulus tapi bukan berarti outputnya sembarangan, outputnya tetap berkualitas," kata Saleh.

Ketua DPP PAN, Saleh Partaonan Daulay (Rahel/detikcom)Foto: Ketua DPP PAN, Saleh Partaonan Daulay (Rahel/detikcom)

Biasanya, tes kompetensi dokter, sebut Saleh, tidak mudah. Banyak calon dokter yang tak lulus karena tes kompetensi tersebut. Sehingga, Saleh menyarankan kegiatan terjun langsung menanggulangi COVID-19 bisa dijadikan syarat kelulusan.

"Jadi paparan Menkes itu kan mereka diterjunkan langsung untuk penanggulangan COVID jadi nanti mereka berkoordinasi dengan Kemendikbud. Lalu dari koordinasi itu diharapkan bahwa pengalaman mereka untuk penanggulan COVID bisa dijadikan dan syarat kelulusan," imbuh Saleh.

"Andaikata itu (kegiatan terjun langsung ke lapangan) dimaksudkan untuk kompetensi maka saya menyarankan agar ini ada supervisi yang lebih ketat," tuturnya.

DKI Jakarta menggelar vaksinasi COVID-19 massal bagi tenaga kesehatan (Nakes) di sejumlah puskesmas. Salah satunya di Puskesmas Kecamatan Setiabudi.Ilustrasi, tenaga kesehatan (Foto: Rengga Sancaya/detikcom)

Begitu halnya dengan perawat tingkat akhir. Saleh menyebut perawat yang diterjunkan butuh pengawasan ketat.

"Tentu mereka (perawat) bisa langsung diterjunkan tetapi khusus untuk para perawat ini, meskipun mereka langsung diterjunkan saya tetap berharap ada supervisi yang dilakukan oleh pihak perguruan tinggi tempat mereka belajar sehingga tidak lepas saja begitu," terangnya.

Indonesia Butuh 16-20 Ribu Perawat

Budi Gunadi Sadikin melaporkan sejumlah provinsi membutuhkan tambahan tenaga kesehatan hingga 20 ribu perawat atau dokter. Tujuh provinsi yang butuh tambahan perawat adalah Bali, Banten, DIY, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Kemenkes telah berkoordinasi dengan Kemendikbud agar perawat yang sedang tingkat akhir pendidikan bisa terjun langsung ke lapangan.

"Jadi saya sudah minta agar tim kami berbicara dengan Kemendikbud, sudah dilakukan pembicaraan agar kita bisa mengakselerasi teman-teman perawat bisa masuk ke lapangan. Dan kalau bisa, yang mereka lakukan dihitung sebagai kreditnya mereka karena mereka sudah praktik. Ini harusnya bisa dimasukkan sebagai salah satu parameter penilaian ketika mereka lulus," ujarnya.

Lantas bagaimana dengan kebutuhan dokter di tengah pandemi Corona ini? Menkes Budi mengatakan para calon dokter yang sedang internship akan dipercepat proses administrasinya.

"Selain perawat, kita membahas soal dokter. Untuk pertumbuhan 30 persenan, ini kita kekurangan 2.200-2.900 dokter. Kita mengamati, kira-kira berapa banyak dokter yang akan selesai internship dan ternyata akan ada 3.900 dokter yang akan selesai internship. Nah, ini akan kita percepat seluruh proses administrasinya sehingga mereka bisa masuk ke rumah sakit untuk bisa merawat pasien COVID," imbuhnya.

Simak juga Video: Cegah Hoax COVID-19, IDI Minta Masyarakat Tanya ke Ahlinya

[Gambas:Video 20detik]



(isa/mae)