Belajar Bersyukur dari Indah, Bocah Pemulung Punya 11 Anggota Keluarga

Nurcholis Maarif - detikNews
Selasa, 13 Jul 2021 06:18 WIB
Belajar Bersyukur dari Indah, Bocah Pemulung Punya 11 Anggota Keluarga
Foto: Dok. CXO Media
Jakarta -

Daging masih jadi bahan pangan yang mewah bagi masyarakat Indonesia. Karena harganya yang cukup tinggi, tak semua orang punya kesempatan mengonsumsi daging setiap hari.

Seperti halnya Indah (10 tahun), pemulung yang kegiatan sehari-harinya selain sekolah, ia juga ikut mengamen dan mencari barang bekas untuk membantu ibu dan keluarganya.

Dari kegiatan itu Indah, kakak dan ibunya bisa menghasilkan Rp 60-100 ribu per hari. Dengan penghasilan sebesar itu, kebutuhan makan pokok pun hanya ala kadarnya.

"(Mengamen dan memulung) dari jam 12 sampai jam 2 sama abang, adek, dan ibu. (Dari mengamen dan memulung tersebut) kadang-kadang dapat Rp 60 ribu, kadang Rp 100 ribu. (Hal yang saya inginkan ialah) pengen punya rumah besar supaya bisa tidur tidak sempit-sempitan," ujar Indah dalam YouTube CXO Media yang dilihat detikcom, Selasa (12/7/2021).

Hal itu juga yang membuat daging jadi barang mewah buat Indah dan keluarganya. Sebab uang hasil mengamen tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan makan 11 anggota keluarga di rumahnya.

Indah bercerita terakhir makan daging sudah lama, dan biasanya 2 kali dalam setahun yakni saat lebaran Idul Adha. Itu pun daging yang didapatkan dari kurban yang dibagikan dari masjid dekat rumahnya.

Namun Indah mensyukuri keadaannya karena masih bisa makan, bisa berjalan, dan bisa memegang. Meskipun rumah yang ia tinggali sempit, ia juga bersyukur karena masih bisa kumpul bersama-sama.

"Bisa makan, bisa jalan, bisa memegang dengan ada mama papa. Terus di rumah meskipun sempit tapi masih bisa mengumpul bersama-sama," ujarnya saat ditanya hal apa yang paling disyukurinya.

Ia sebenarnya punya keinginan memiliki kulkas untuk menyimpan sayuran dan minuman dingin.

"Soalnya kalau di luar mahal," ujarnya.

Cerita dari sudut kota yang mengangkat Indah ingin ditunjukkan CXO Media dan Dompet Dhuafa sebagai bentuk refleksi diri agar masyarakat bisa terus berbagi dengan sesama meski dalam kondisi sulit dan serba tidak pasti seperti saat ini.

Riset yang dilakukan IDEAS tahun 2020, Jabodetabek mengalami surplus 24.000 ton daging kurban, sementara wilayah lain mengalami defisit daging kurban. Makanya pendistribusian daging kurban secara merata sampai ke desa-desa adalah solusi.

Pada masa pandemi yang masih melanda, ibadah kurban ini tidak hanya jadi simbol taat semata, tapi bisa jadi berkah untuk masyarakat yang membutuhkan, baik jadi pelipur lara di saat banyak rentetan ujian dan musibah yang tengah dihadapi oleh masyarakat Indonesia

Berkurban secara online menjadi pilihan terbaik di tengah pandemi yang mengharuskan kita di rumah saja. Tenang, meski tak bisa melihat secara langsung proses kurban, kurban Dompet Dhuafa ini tidak hanya untuk mereka yang berhak sesuai syariat, tapi juga fokus ke pemerataan daging hingga pelosok negeri.

Untuk mengajak lebih banyak lagi penerima manfaat yang bisa merasakan nikmatnya daging kurban, khususnya di masa sulit seperti ini, yuk kurban digital! #BeraniBerkurbanLagi melalui kurban.dompetdhuafa.org.

(akd/ega)