HNW Ajak Dai Muda Contoh Wali Songo dalam Berdakwah

Nurcholis Maarif - detikNews
Senin, 12 Jul 2021 15:28 WIB
Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid hadiri Muktamar IX Himpunan Mahasiswi Persatuan Islam di Bandung. Di hadapan ratusan peserta, HNW turut berikan sosialisasi
Foto: Lamhot Aritonang
Jakarta -

Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid (HNW) memberikan nasihat kepada sejumlah dai muda dari Ma'had Aly An Nuaimy yang akan dilepas ke berbagai pelosok Nusantara untuk mencontoh para wali songo yang menyebarkan Islam Rahmatan Lil 'Alamin. Mereka para wali menyebarkan Islam dengan ilmu, akhlak serta memberikan inovasi dan solusi kepada masyarakat.

"Rasulullah SAW beserta para sahabat mengajarkan dan mencontohkan bahwa agama Islam disebarkan dengan akhlak, ilmu dan prinsip moderat (wasathiyyah) guna menghadirkan solusi kepada umat dan bukti dapat memberi rahmat kepada seluruh alam," ujar dia dalam keterangannya, Senin (12/7/2021).

"Jadi, bukan seperti tuduhan para Islamophobia bahwa Islam disebarkan dengan kekerasan, radikalisme maupun ekstremisme. Ini yang kita dapatkan dari pelajaran sukses dakwah para wali songo di Nusantara," imbuhnya.

Saat pelepasan dai muda dari Ma'had Aly An Nuaimy di Jakarta, Sabtu (10/7), HNW menuturkan peran para dai saat ini adalah melanjutkan praktek yang telah dilakukan oleh Rasulullah SAW, para sahabat, para ulama hingga wali wongo, serta ulama pejuang yang terlibat hadirkan Indonesia Merdeka.

"Mereka menunjukkan pemahaman yang komprehensif terhadap Islam, serta kecerdasan membaca situasi dan memberi solusi ke masyarakat. Dengan berbagai cara dakwah yang menghadirkan kedamaian, alternatif dan solusi bukan dengan menghakimi, mengkafirkan maupun tindakan radikalisme lainnya," ujarnya.

Lebih lanjut HNW mencontohkan bagaimana wali songo berkreasi menciptakan alternatif solusi dengan batik dan berdakwah melalui wayang.

"Di Jawa dahulu, masyarakat mempunyai corak batik yang menampilkan gambar-gambar tertentu. Lalu, para Wali membuat corak batik, memuat gambar yang tidak bermasalah secara syariat. Begitu pula budaya wayang, mereka menciptakan tokoh dan cerita-cerita yang sesuai dengan prinsip ajaran-ajaran Islam. Begitulah seharusnya para dai, karena memang Rasulullah SAW menganjurkan umat untuk berijtihad, dan berdakwah secara hikmah," ujarnya.

Wakil Ketua Majelis Syuro PKS ini mengingatkan para dai bahwa dakwah mereka bertemu dengan era milenial dan pandemi COVID-19 ini. Sehingga perlunya peran dai yang mempunyai pemahaman Islam sebagai Rahmatan Lil Alamin dan menghadirkan solusi makin diperlukan untuk menyelamatkan dan mencerdaskan umat dan masa depan bangsa.

"Dengan merujuk kepada keteladanan para wali dan ulama-ulama pejuang yang adalah bapak-bapak bangsa, maka Islam yang kita yakini dan ajarkan adalah Islam Ahlul Sunnah Wal Jamaah dengan beragam variannya. Itu sangat sesuai bahkan di era milenial dan pandemi COVID-19," tuturnya.

"Ketika dunia dan Indonesia mengalami kesulitan karena pandemi, jangan ditambah susah dengan mudah mengkafirkan atau membid'ahkan, atau malah memprovokasi masyarakat. Itu semuanya bukan Islam yang benar yang diwariskan oleh wali songo dan ulama pejuang bapak-bapak bangsa Indonesia," ujarnya.

"Dan itulah yang kita sebarluaskan ke masyarakat di seluruh Nusantara, sehingga menyemangati ummat dan rakyat untuk tetap melaksanakan ajaran agama yang membawa kebaikan, dan menghadirkan solusi terhadap masalah COVID-19 yang bisa dipahami sebagai cara Allah SWT untuk menaikkan kualitas keagamaan dan kemanusiaan kita," imbuhnya.

Oleh karena itu, para dai harus menjadi teladan dalam menjaga kesehatan dan menjalankan protokol kesehatan secara maksimal. Agar bisa melakukan dakwah dengan maksimal dan total, maka para dai mesti sehat secara rohani tapi juga sehat secara jasmani.

"Para dai dan ulama sangat penting menjadi sehat. Itu sangat diutamakan. Apalagi pada era COVID-19 ini sangat banyak ulama yang wafat. Maka para dai muda juga harus siap-siap melanjutkan estafet perjuangan para ulama itu," ujarnya.

"Maka penting betul menjaga kesehatan dan keselamatan dari COVID-19. Kalau para dai tidak sehat, maka para dai yang akan dipikirkan orang lain. Padahal seharusnya dai lah yang memikirkan dan membantu umat dan bangsa," imbuhnya.

Oleh karena itu, HNW menambahkan bahwa para dai juga harus memahami instrumen-instrumen dakwah yang banyak digunakan generasi milenial. Misalnya melalui media zoom atau media sosial seperti Instagram.

"Ini juga perlu dipahami. Karena di era pandemi seperti ini, ketika tidak dimungkinkan forum secara tatap muka, maka media-media sosial yang merupakan alternatif yang bisa digunakan," ujarnya.

"Sekarang media-media sosial itu yang dirujuk oleh generasi milenial, lebih bagus bila konten-kontennya diisi oleh nilai-nilai positif dan konstruktif yang menyelamatkan masa depan mereka dan masa depan bangsa dan negara. Dan para da'i muda sangat dipentingkan untuk membuat konten-konten alternatif yang positif," pungkasnya.

(ncm/ega)