Stok Obat Remdesivir dan Actemra Kurang, Ini Langkah Luhut

Tim detikcom - detikNews
Senin, 12 Jul 2021 13:24 WIB
Jakarta -

Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengungkapkan ada 2 jenis obat terapi COVID-19 yang ketersediaannya kurang mencukupi di Indonesia. Dua obat itu yakni remdesivir dan actemra.

"Mengenai obat kita berharap obat ini tadi hanya remdesivir yang kurang dan satu lagi actemra. Remdesivir dan actemra," kata Luhut dalam konferensi pers virtual, Senin (12/7/2021).

Luhut memastikan pemerintah tengah berupaya menambah stok kedua obat itu. Salah satunya dengan memproduksi dalam negeri.

"Sebentar lagi kami dengan menteri Budi akan bicara mengenai licensenya untuk tadi actemra supaya kita bisa produksi dalam negeri," ungkap dia.

Luhut juga mengungkapkan, mulai Rabu pekan ini, pemerintah akan membagikan obat terapi COVID-19 untuk orang tanpa gejala (OTG). Dia mengatakan, ada 300 ribu paket obat yang sudah disiapkan oleh pemerintah.

"Dan kemudian Presiden sudah memutuskan tadi mulai Rabu nanti, minggu ini, kita akan launching ada 300.000 paket obat untuk tadi OTG dan juga untuk yang kelas-kelas yang penyakit yang masih tidak serius," tutur Luhut.

Dia melanjutkan, paket obat ini akan diberikan kepada 210 ribu kasus aktif yang ada di Indonesia. Pemberian obat ini akan dilakukan selama beberapa bulan ke depan.

"Jadi paket obat ini akan menjangkau hampir 210.000 yang kasus aktif yang kita berikan dan ini akan berlangsung selama beberapa bulan ke depan. Ini nanti akan dibagikan oleh TNI dan elemen yang lain," kata Luhut.

Jadi Rebutan di Dunia

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan, remdesivir dan actemra menjadi rebutan negara-negara di dunia. Namun, dia memastikan, Indonesia sudah mendapatkan jatah impor untuk dua obat tersebut.

Budi memaparkan, untuk remdesivir, Indonesia sudah mendapatkan jatah 150 ribu vial. Sementara, untuk actemra, Indonesia mendapatkan jatah sekitar 3 ribuan.

"Memang di dunia rebutannya tinggi sekali sama seperti vaksin. Remdesivir kita sudah mendapatkan jatah untuk impornya 150 ribu vial yang akan masuk secara bertahap mulai minggu ini. Actemra kita juga sudah dapat sekitar 3 ribuan. Tetapi memang jumlahnya lebih terbatas karena ini diproduksi oleh perusahaan yang ada di Swiss," tutur Budi.

(mae/imk)