Sosok Doni, Cuma-cuma Rawat Anabul Terlantar Karena COVID-19

Khairunnisa Adinda Kinanti - detikNews
Minggu, 11 Jul 2021 06:19 WIB
Jakarta -

Tidak semua orang berani untuk mencurahkan waktu dan tenaganya demi anak bulu anjing maupun kucing terlantar. Berbeda dengan Doni Herdaru Tona (43), lulusan sarjana Akuntansi STIE Tri Dharma Widya ini justru mendirikan shelter yang diberi nama Animal Defenders Indonesia di tahun 2011.

Keputusan Doni mengurus ratusan anjing dan kucing ini mendapat dukungan dari anak dan istrinya. Namun, walau begitu tetap saja ada orang yang nyinyir dengan pekerjaannya ini.

"Pernah dapat cibiran 'Itu sepupu-sepupu lu udah pada ganti mobil, beli rumah, lu uangnya abis buat anjing'. Saya bilang, 'Ya yang penting gue gak nyusahin orang'," cerita Doni sembari tersenyum dalam program Sosok di detikcom.

Anjing dan kucing di shelter milik Doni tentu sudah disteril dan divaksin. Walaupun shelternya lebih banyak merawat anjing kampung, Doni yakin anjing-anjing itu tidak kalah dengan jenis ras yang punya penampilan lebih baik.

Di masa pandemi COVID-19 yang kasusnya kian melonjak, pria bertato dengan rambut gondrong ini ternyata punya hati yang mulia. Doni Herdaru Tona mempunyai program untuk membantu hewan-hewan yang pemiliknya sedang isolasi mandiri karena positif COVID-19.

Program ini dirancang untuk membantu orang yang terpapar COVID-19 sehingga harus dirawat di rumah sakit atau isolasi mandiri di luar rumah. Oleh karena itu hewan peliharaan yang ditinggal pemiliknya itu berpotensi terlantar, tidak ada yang mengurusnya di rumah.

Semua itu dilakukan Doni tanpa ada biaya alias gratis. "Buat saya, di suatu titik akan menjadi booming kasus COVID-19 lagi. Maka saya bersama teman-teman sudah mengantisipasi untuk bikin program AD19. Animal Defenders COVID-19," ujar Doni.

Doni dan tim terjun langsung untuk mengevakuasi anjing ataupun kucing yang dilaporkan oleh keluarga atau tetangganya yang terpapar COVID-19. Mereka memastikan bahwa hewan tersebut sehat dan tidak dalam kondisi yang memprihatinkan.

Program AD19 baru berjalan beberapa hari, tetapi Doni sudah mendapat banyak laporan perihal hewan yang butuh pertolongannya. Saking membeludaknya, ia harus melakukan screening terhadap kasus-kasus yang masuk. Ada 3 level urgensinya, yakni Top Priority, Middle, dan Low.

"Pada program AD19 ini, kami meminta pelapor baik itu sebagai pemilik maupun anggota keluarga, ataupun tetangga korban COVID-19 ini untuk mengisi form lewat Google Form. Begitu orang itu isi form, maka kami bisa tahu urgensinya seperti apa. Oh ini top priority, ini medium, ini low. Kita pilah-pilah," ujarnya.

Meskipun program ini belum mendapat dukungan dari pemerintah, tetapi Doni dan tim tetap bersikeras untuk membantu sesama di masa sulit sekarang ini.

"Buat kami, ada bantuan atau tidak, semua harus tetap jalan. Ini adalah point of no return. Di mana perjuangan itu tidak bisa cengeng." tegas Doni.

(fuf/gah)