Imparsial Nilai Tudingan BIN Soal Papua Upaya Balas Dendam
Kamis, 23 Mar 2006 00:43 WIB
Jakarta - Imparsial menilai tuduhan BIN soal adanya kelompok LSM yang mendalangi kerusuhan anti Freeport di Abepura adalah upaya balas dendam BIN terhadap LSM. Direktur LSM Imparsial, Rachland Nashidik menyatakan, tudingan itu sangat terkait dengan kampanye sejumlah LSM dalam kasus Munir yang banyak menyoroti peran BIN."Itu balas dendam BIN terhadap kampanye LSM dalam kasus Munir," tandas Rachland Nashidik dalam jumpa pers di Kantor Imparsial di Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat (22/03/2006).Lebih jauh, Rachland Nashidik melihat adanya kampanye permusuhan yang dilakukan oleh Kapolri dan Kepala BIN terhadap LSM yang diakibatkan oleh ketidakmampuan mereka dalam menangani masalah. "Kalau pernyataan BIN tentang keterlibatan LSM dianggap benar oleh pemerintah, maka pemerintah berarti melakukan kampanye permusuhan terhadap LSM," urainya.Rachland Nashidik mengakui, memang ada staf LSM yang dia pimpin berada di lokasi pada saat terjadinya kerusuhan. "Tapi hanya untuk mengawasi demonstrasi, apakah berjalan secara demokratis," ujarnya. Sementara LSM Elsam Papua yang sering disebut-sebut oleh kalangan militer sebagai provokator, menurut Rachland Nashidik tidaklah sejauh itu peranannya. LSM tersebut hanya sekedar memiliki pendapat berbeda. "Apa salahnya punya pendapat berbeda," tandasnya.Rachland juga mempermasalahkan pernyataan Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono yang menganalogikan kerusuhan Abepura dengan kasus Santa Cruz di Timor Timur tahun 1991. "Korban di Santa Cruz adalah hasil dari politik keamanan yang represif, sementara korban di Abepura justru dapat menghasilkan politik keamanan yang represif," tegasnya.Namun begitu, selain menyatakan ucapan bela sungkawa-nya terhadap para korban bentrokan tersebut, Rachland berpesan kepada pemerintah agar mengendalikan diri supaya tidak terlibat politisasi kasus Abepura ini.
(mar/)











































