Aparat Korem Ketahuan Inteli Asrama Mahasiswa Papua
Rabu, 22 Mar 2006 18:42 WIB
Yogyakarta - Seorang anggota intel Korem 072 Pamungkas Yogyakarta tertangkap saat menginteli Asrama Mahasiswa Baliem-Papua di Condong Catur Depok Sleman. Namun dia berhasil meloloskan diri. Hanya sebuah sepeda motor dan handphone yang masih di asrama itu.Salah seorang saksi mata, Sandro kepada wartawan di Asrama Mahasiswa Baliem di di Mancasan Kidul, Condong Catur Depok Sleman, Rabu (22/3/2006) mengatakan peristiwa itu terjadi pada hari Kamis (16/3/2006) pukul 12.00 WIB. Ketika para penghuni sedang pergi kuliah, asrama yang terletak tidak jauh dari Polsek Depok Timur itu didatangi seorang intel yang menyamar sebagai orang Papua. Menurut Sandro, aparat yang berpakaian preman itu kemudian menemui beberapa penghuni sambil menanyakan berbagai hal. Beberapa pertanyaan diajukan seperti seorang yang sedang mengiterograsi. "Pertanyaannya soal demo-demo mahasiswa Papua dan soal Freeport," katanya.Sambil bertanya macam-macam, intel tersebut sempat mencatat menggunakan handphone beberapa nama-nama yang tertulis dalam daftar iuran listrik yang terpasang di salah satu tembok asrama. Namun kemudian ketahuan salah seorang mahasiswa sehingga sempat terjadi keributan. Mahasiswa berhasil merampas handphone. Namun aparat itu langsung melarikan diri dan meninggalkan sepeda motor Honda GL 100 warna hitam Nopol AD 4242 AD. "Saat terjadi saling pukul, orang itu mengaku dari Papua yang bertugas sebagai aparat dan disuruh atasannya," kata Sandro didampingi Humas Solidaritas Kasus PT Freeport Indonesia, Yogyakarta, Junus Eduway. Setelah melarikan diri katanya, ternyata kemudian meminta bantuan aparat Polsek Depok Timur yang terletak sekitar 150 meter dari asrama. Setelah itu datang beberapa orang petugas berpakaian dan nyaris terjadi keributan lagi.Setelah dilakukan pembicaraan dengan penghuni asrama lainnya, mahasiswa Papua kemudian mendatangi Polsek Depok Timur beramai untuk menyelesaikan masalah. Di Polsek Depok Timur itu, mahasiswa baru mengetahui bila aparat intel itu anggota TNI. "Kami tahu setelah komandan Korem langsung telpon dan mengakui bila itu anak buahnya," katanya.Sementara itu menurut Junus, hingga hari ini Rabu (22/3/2006), motor dan handphone itu belum diambil pemilik atau instansi yang bersangkutan. Saat ini mahasiswa merasa was-was dan asrama selalu diawasi banyak petugas. "Kami merasa terancam, tetapi sejak peristiwa itu belum ada penyelesaian dari polisi," kata Junus.Menurut Junus, mahasiswa besok pada hari Kamis (23/3/2006) siang akan beramai-ramai mendatangi Polsek Depok Timur untuk menyerahkan sepeda motor dan handphone milik intel tersebut. Rencananya sore ini, namun Kapolsek baru bersedia menerima Kamis besok. Sebelumnya pihak kepolisian tidak bersedia menerima dan meminta mahasiswa menyerahkan langsung kepada yang bersangkutan di Korem. "Kami tak mau itu. Barang itu akan kami serahkan ke polisi. Kami juga tak mau barang itu jadi beban semua penghuni asrama," tegas Junus.
(mar/)











































