Disahkan PN, Warga di Jakut Ganti Jenis Kelamin dari Wanita ke Pria

Andi Saputra - detikNews
Jumat, 09 Jul 2021 18:33 WIB
Ilustrasi Palu Hakim
Ilustrasi pengadilan (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Pengadilan Negeri Jakarta Utara (PN Jakut) mengesahkan perubahan jenis kelamin warga, OFT (28), dari perempuan menjadi laki-laki setelah melakukan terapi hormon dan operasi ganti kelamin. Sebab, OFT yang terlahir perempuan merasa tumbuh dewasa menjadi laki-laki.

Hal itu tertuang dalam putusan PN Jakut yang dilansir website-nya, Jumat (9/7/2021). Masa kanak-kanak OFT disebut cenderung berperilaku dan bersifat seperti seorang laki-laki dan memiliki hormon laki-laki lebih dominan dibandingkan dengan hormon perempuan.

"Hal mana dibuktikan dengan tingkah laku, penampilan dan gaya bicara pemohon yang maskulin, serta Pemohon lebih memilih permainan dan/atau aktivitas permainan selayaknya anak laki-laki dibandingkan dengan permainan boneka selayaknya anak perempuan. Selain itu, sejak kecil pemohon merasa dirinya adalah seorang laki-laki, dan pemohon merasa kurang nyaman dengan bagaimana orang-orang memperlakukannya sebagai seorang perempuan meskipun sebatas memanggilnya dengan nama panggilan perempuan," tutur OFT dalam permohonannya.

Saat beranjak remaja dan masuk dewasa, OFT semakin yakin merasakan dirinya adalah seorang laki-laki. Perasaan tersebut sering kali OFT ungkapkan kepada sahabat karibnya.

"Pemohon mulai bisa lebih bebas menampilkan dirinya sebagai laki-laki sejak memasuki masa kuliah, dari awal perkuliahan teman-teman dan dosennya mengenali dirinya sebagai seorang laki-laki. Bahkan bila Pemohon ke toilet, Pemohon memilih untuk masuk ke toilet laki-laki," papar pemohon.

OFT mengaku memiliki hubungan yang baik dengan keluarganya. Bahkan kedua orang tua dan adiknya sudah mengetahui masalah yang dialami OFT dan mereka dapat menerima pilihan OFT tersebut.

Sejak 2017, OFT menjalani konsultasi dengan seksolog dan psikiater. Lalu OFT disarankan menjalani terapi hormon berupa penyuntikan hormon testosteron setiap 2 minggu sekali.

Akhirnya, OFT menetapkan hati dan memutuskan untuk melakukan serangkaian operasi penyesuaian jenis kelamin menjadi seorang laki-laki. Hal itu dimulai dengan operasi pengangkatan payudara (mastectomy) pada September 2019. OFT juga akan menjalani operasi pengangkatan kandungan (hysterectomy) dan pembuatan organ kelamin laki-laki (phalloplasty). Namun rencana itu belum berjalan imbas pandemi Corona.

Selain itu, OFT sudah melakukan pemeriksaan kesehatan jiwa. Dia ditangani oleh beberapa dokter.

"Setelah melalui serangkaian pemeriksaan mendalam kemudian disimpulkan bahwa pada diri Pemohon didapatkan adanya riwayat gangguan psikologis yang dalam istilah kedokteran dinamakan gangguan identitas jenis kelamin yang ditandai dengan adanya rasa ketidaknyamanan dengan jenis kelamin dan perannya sebagai perempuan serta keinginan untuk mengubah jenis kelaminnya dan diterima sebagai anggota dari kelompok lawan jenisnya baik secara nyata ataupun secara legal," papar OFT.

OFT menyatakan memahami tindakan medis yang akan dijalani dan memahami risiko maupun konsekuensi dari tindakan medis ataupun putusan legal yang akan diambilnya. Serta mampu mencari alternatif dan rencana solusi yang terbaik dari hambatan yang akan dihadapi terkait putusannya tersebut.

"Bahwa sebagaimana disampaikan oleh Dr Karen Gurney seorang psikolog klinis serta ahli ilmu kesehatan seksual dan Eithne Mills seorang dosen senior di Universitas Deakin, Victoria serta ahli hukum keluarga Murdoch University dalam Electronic Journal of Law, Vol 12, No #1 & #2, orang-orang yang menjalani terapi sulih hormon atau sedang menjalani operasi pergantian jenis kelamin seperti yang diajukan oleh Pemohon adalah sebuah penegasan eksistensi sebagai jenis kelamin tertentu dari orang tersebut, bukan tentang perbuatan menjadi jenis kelamin yang diinginkan. Sehingga pergantian jenis kelamin merupakan sebuah penyesuaian terhadap norma-norma gender, bukan menantangnya," kata OFT mengutip kesaksian ahli.

Atas paparan OFT di atas, hakim tunggal PN Jakut, Tumpanuli Marbun, mengabulkan permohonan itu.

"Menetapkan Pemohon yang semula jenis kelamin perempuan diganti menjadi jenis kelamin laki-laki," ujar Tumpanuli.

Dengan penetapan di atas, hak-hak hukum OFT juga berubah. Yaitu, mengubah identitas kelamin di akta kelahiran, KTP, dan hak-hak sipil lainnya.

"Pengadilan berpendapat bahwa permohonan pemohon untuk memperoleh kepastian hukum akan status Pemohon untuk mengubah jenis kelamin Pemohon dengan suatu penetapan adalah tidak bertentangan dengan perundang-undangan yang berlaku. Sehingga permohonan pemohon untuk dapat dinyatakan sah penggantian kelamin Pemohon dari sebelumnya Perempuan menjadi laki-laki dapat dikabulkan," kata Tumpanuli.

(asp/haf)