BEM UI Tolak Kritik 'King of Lip Service' Dibandingkan dengan 'Plonga-plongo'

Wilda Hayatun Nufus - detikNews
Jumat, 09 Jul 2021 12:36 WIB
Ketua BEM UI, Leon Alvinda Putra. (Dok Pribadi Leon AP)
Foto: Ketua BEM UI, Leon Alvinda Putra. (Dok Pribadi Leon AP)
Jakarta -

Ketua BEM Universitas Indonesia (UI) Leon Alvinda Putra bicara soal kritik 'King of Lip Service' yang disematkan ke Presiden Joko Widodo (Jokowi) dibandingkan dengan sebutan 'plonga-plongo'. Dia menilai 'King of Lip Service' merupakan kritik terhadap kebijakan Jokowi.

"Saya kurang sepakat dengan pendapat itu, ketika 'The King of Lip Service' ini disamakan dengan serangan personal ke beliau seperti itu klemar-klemer, plonga-plongo dan lain sebagainya, karena 'The King of Lip Service' ini adalah bentuk kritik kita pada beliau sebagai presiden ketika apa yang beliau sampaikan tidak sesuai dengan kebijakan-kebijakan yang kemudian berlaku gitu, atau kebijakan-kebijakan yang kemudian direalisasikan," kata Leon dalam siaran langsung di kanal YouTube ILUNI UI, Jumat (9/7/2021).

Leon mengatakan poster BEM UI 'The King of Lip Service' tidak bisa diartikan sebagai serangan personal. Dia mengatakan kritik dengan serangan personal adalah dua hal yang berbeda.

"Jadi pertama itu adalah dua hal yang berbeda antara serangan personal klemar-klemer, plonga-plongo dengan kritik yang kita sebut 'The king of lip service'," ucapnya.

Leon menyebut BEM UI selalu mengawasi kinerja pemerintahan Jokowi yang belum terselesaikan. Pihaknya menilai pernyataan Jokowi yang akan menyelesaikan permasalahan di masyarakat hanya menjadi angin segar saja.

"Kenapa 'The King of Llip Service'? Karena sebenarnya banyak permasalahan yang BEM UI dikawal dan aliansi elemen gerakan lainnya juga kawal yang menurut kita harus segera diselesaikan, itu sudah pernah kita dengar pernyataan-pernyataan dari Pak Jokowi yang seperti menjadi angin segar untuk menyelesaikan permasalahan itu, tapi ternyata perkataan-perkataan tersebut tidak terealisasikan atau bertolak belakang dengan kondisi yang terjadi di realita," katanya.

Atas dasar itu, BEM UI menganggap pernyataan-pernyataan Jokowi hanya 'Lip Service' semata. Padahal, kata Leon, Jokowi tahu dan paham ada permasalahan yang harus segera diselesaikan.

"Makanya kita sebut pernyataan-pernyataan yang dikeluarkan oleh beliau hanya sekedar 'Lip Service' saja bukan kemudian pernyataan yang bisa kita pegang sebagai masyarakat untuk berharap permasalahan tadi bisa diselesaikan dari apa yang Pak Jokowi sampaikan, karena menurut kita dengan beliau sampaikan misal revisi UU ITE, terkait Perppu KPK, dan sebagainya menurut kita beliau berarti sudah paham ada masalah di situ dan seharusnya itu bisa dipastikan atau segera diselesaikan," tuturnya.

Sebelumnya, Presiden Jokowi menyampaikan beberapa julukan yang pernah disematkan kepada dirinya. Julukan itu, dari 'plonga-plongo' hingga yang terbaru, 'The King of Lip Service' oleh BEM UI.

"Iya itu kan sudah sejak lama ya, dulu ada yang bilang saya ini klemar-klemer, ada yang bilang juga saya itu plonga-plongo, kemudian ganti lagi ada yang bilang saya ini otoriter," ucap Jokowi dalam kanal YouTube Sekretariat Presiden, seperti dilihat detikcom, Selasa (29/6).

"Kemudian ada juga yang ngomong saya ini 'bebek lumpuh' dan baru baru ini ada yang ngomong saya ini ada yang ngomong saya 'bapak bipang', dan terakhir ada yang sampaikan 'The King of Lip Service'," katanya.

Menurut Jokowi, tindakan dari BEM UI itu adalah wajar. Dia pun berpesan kepada kampus agar tak melakukan tindakan berlebih.

"Saya kira bentuk ekspresi mahasiswa, dan ini negara demokrasi, jadi kritik itu boleh boleh saja, dan universitas tidak perlu menghalangi mahasiswa untuk berekspresi," katanya.

Namun, menurut Jokowi, masyarakat Indonesia memiliki aturan budaya. Tapi, Jokowi kembali menegaskan bahwa tindak mempermasalahkan tindakan dari BEM UI tersebut.

"Tapi juga ingat, kita ini memiliki budaya tata krama, memiliki budaya kesopansantunan, ya saya kira biasa saja, mungkin mereka sedang belajar mengekspresikan pendapat," ucap Jokowi.

(whn/haf)