3 Kabupaten di Sulsel Dilanda Banjir, 1 Warga Meninggal

Muhammad Taufiqqurrahman - detikNews
Kamis, 08 Jul 2021 15:43 WIB
Evakuasi warga terdampak banjir bandang di Bantaeng dan Jeneponto, Sulawesi Selatan (dok. Basarnas).
Evakuasi warga terdampak banjir bandang di Bantaeng dan Jeneponto, Sulawesi Selatan. (Dok. Basarnas)
Jakarta -

Bencana banjir dan tanah longsor melanda tiga wilayah kabupaten, yakni Kabupaten Bantaeng, Jeneponto, dan Sinjai di Provinsi Sulawesi Selatan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut 1 warga meninggal dunia pada peristiwa ini.

Berdasarkan laporan yang diterima Pusat Pengendali dan Operasi (Pusdalops) BNPB, Kamis (8/7/2021), banjir yang melanda Kabupaten Jeneponto meliputi Kecamatan Tarowang, Kecamatan Binamu, Kecamatan Arungkeke, dan Kecamatan Batang. Hasil kaji cepat sementara, banjir yang terjadi di Kabupaten Jeneponto dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah tersebut pada Rabu (7/7), pukul 02.00 Wita. Tinggi muka air (TMA) banjir dilaporkan berkisar 50-200 sentimeter.

Dari bencana tersebut, satu warga di Kecamatan Tarowang dilaporkan meninggal dunia. Selain itu, banjir menyebabkan sebanyak 13 rumah rusak berat, 43 rumah rusak ringan, dan 5 kantor pemerintahan, yaitu pelayanan kesehatan, pendidikan, serta UPTD Kecamatan Tarowang, terendam.

Kemudian di Kecamatan Binamu, sedikitnya 26 rumah yang masuk wilayah administrasi Kelurahan Balang Toa dan 15 rumah di Kelurahan Balang terendam banjir. Selanjutnya, di Kecamatan Arungkeke, ada 10 rumah yang mengalami rusak berat akibat diterjang banjir. Sedangkan 30 rumah dilaporkan rusak ringan. Berikutnya, tiga unit rumah dilaporkan mengalami rusak berat dan delapan lainnya rusak ringan akibat terdampak banjir di Kecamatan Batang.

Dalam hal ini, menurut laporan dari Tim Pusdalops Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jeneponto, Rahim, banjir di sebagian wilayah tersebut sudah berangsur surut secara bertahap. "Saat ini banjir berangsur surut," kata Rahim.

Di sisi lain, berdasarkan laporan dari Pusdalops BPBD Kabupaten Sinjai, sedikitnya ada empat kelurahan di Kecamatan Sinjai Utara dan satu desa di Kecamatan Sinjai Utara terdampak banjir dan longsor yang dipicu oleh tingginya intensitas hujan pada Kamis (7/7), pukul 03.00 Wita.

Adapun wilayah terdampak bencana tersebut meliputi Kelurahan Biringere, Kelurahan Balangnipa, Kelurahan Bongki, dan Kelurahan Lappa di Kecamatan Sinjau Utara, kemudian Desa Panaikang di Kecamatan Sinjau Utara. Dari banjir tersebut, sedikitnya ada delapan KK yang terpaksa harus mengungsi.

Laporan berikutnya juga datang dari Pusdalops BPBD Bantaeng, yang mana sebanyak empat kelurahan di Kecamatan Bantaeng, tiga kelurahan di Kecamatan Bissappu dan satu desa di Kecamatan Pajukukang terdampak banjir dengan tinggi muka air 50 sentimeter.

Dari wilayah yang terdampak tersebut, BPBD Kabupaten Bantaeng mencatat kurang-lebih 1.000 rumah yang ditinggali oleh 1.000 keluarga atau 5.000 jiwa terdampak banjir. Jumlah tersebut hingga kini masih dalam proses pendataan. BPBD Kabupaten Bantaeng telah berkoordinasi dengan lintas instansi terkait dibantu unsur TNI dan Polri untuk meringankan beban warga dan melakukan evakuasi para korban yang terdampak.

Sementara itu, berdasarkan prediksi akumulasi curah hujan pada 9-14 Juli 2021 dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sebagian wilayah di Sulawesi Selatan masih berpotensi hujan sedang hingga lebat. Selain itu, wilayah lain di Pulau Sulawesi seperti Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tenggara juga diprediksi akan mengalami fenomena yang sama hingga lima hari ke depan.

Melihat dari hasil monitoring prakiraan cuaca dari BMKG tersebut, pemangku kebijakan di daerah diharapkan dapat mengambil kebijakan yang dianggap perlu dalam rangka peningkatan kapasitas, kesiapsiagaan dan mempersiapkan mitigasi bencana. Di samping itu, masyarakat juga diimbau untuk waspada terhadap potensi bahaya hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor, ataupun angin kencang.

"Dalam hal ini, kerja sama antarwilayah dapat membantu untuk meningkatkan kesiapsiagaan bersama, baik yang berada di wilayah hulu maupun hilir di suatu kawasan," kata Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan, Abdul Muhari.

Masyarakat juga dapat secara mandiri melakukan pengecekan potensi cuaca hingga tingkat kecamatan melalui aplikasi Info BMKG dan mengetahui tingkat risiko di daerah masing-masing melalui aplikasi InaRISK BNPB.

(tfq/yld)