e-Life

Pilah Pilih Jamu dan Herbal untuk Tambah Imunitas

dtv - detikNews
Rabu, 07 Jul 2021 06:46 WIB
Jakarta -

Kebutuhan untuk menjaga daya tahan tubuh terasa semakin meningkat di kala pandemi COVID-19 mengganas di pertengahan tahun 2021 ini. Selain mengandalkan makanan bergizi, mengonsumsi vitamin dan suplemen tambahan, beberapa orang juga menggunakan produk herbal dan jamu tradisional untuk menambah imunitas.

Memiliki komposisi bahan yang dianggap alami, produk herbal dan jamu tradisional kerap dianggap sebagai opsi yang lebih baik untuk melindungi tubuh dari paparan virus. Akan tetapi, hanya karena suatu produk membuat klaim bahwa ia terbuat dari bahan alami, bukan berarti produk ini pasti aman dikonsumsi dan benar-benar berpengaruh baik ke kesehatan.

"Kalau herbal, tergantung ya. Ada penelitiannya nggak, nih? Ada literaturnya nggak? Kalau memang penelitiannya sudah banyak, terus sudah BPOM, nggak ada tambahan zat kimia lagi, boleh aja dikonsumsi," kata Dokter Spesialis Gizi Klinik, dr. Raissa Edwina Djuanda, M.Gizi, Sp.GK di acara e-Life detikcom.

dr. Raissa menekankan untuk selalu memeriksa kandungan dari produk yang dikonsumsi, termasuk produk herbal. "Apakah ditambahkan obat mungkin di dalamnya? Nah itu kan jadi perlu hati-hati nih gitu, tergantung herbalnya apa," jelasnya.

Selain itu, orang Indonesia juga memiliki kebiasaan meminum jamu tradisional, atau biasa disebut sebagai empon-empon. Kebiasaan ini meningkat sejak pandemi tahun 2020 lalu.

Menanggapi hal ini, dr. Raissa memaparkan bahwa hanya karena produk tersebut adalah jamu, bukan berarti pasti lebih aman atau lebih baik daripada sumber nutrisi lainnya. "Kalau mau konsumsi jamu, ya boleh aja. Tapi pilih yang alami. Nggak ada tambahan zat kimia, nggak ada pengawetnya. Atau bahkan kalau mau, buat sendiri. Atau pakai buat bumbu masakan, gitu," saran dr. Raissa.

Selain itu, salah satu hal yang perlu digarisbawahi dari konsumsi jamu adalah kemungkinan penambahan gula yang justru bisa memicu penyakit lainnya.

"Mpon-mpon itu kebanyakan gulanya banyak. Kalau gula terlalu berlebihan, nanti ada penyakit lainnya nih. Bukannya kena COVID-19, yang ada malah kena penyakit gula gitu kan," kata dr. Raissa.

(gah/gah)