Tepat Sasaran Memilih Suplemen dan Vitamin Penambah Imun

ADVERTISEMENT

e-Life

Tepat Sasaran Memilih Suplemen dan Vitamin Penambah Imun

dtv - detikNews
Rabu, 07 Jul 2021 06:17 WIB
Jakarta -

Salah satu usaha yang bisa dilakukan untuk meningkatkan imunitas di tengah pandemi COVID-19 adalah dengan memenuhi kebutuhan vitamin dan nutrisi penting lainnya dalam tubuh. Jika dirasa perlu, konsumsi vitamin dan suplemen tambahan.

Akan tetapi, vitamin dan suplemen tambahan bukanlah penyedia asupan nutrisi utama. Konsumsi makanan bergizi seimbang setiap hari tetap harus jadi fokus nomor satu.

Adapun makanan bergizi seimbang yang dimaksud terdiri dari karbohidrat (3-4 porsi sehari), sayur dan buah (5 porsi sehari), serta lauk pauk (2-4 porsi sehari). Tak lupa, gula (4 sendok makan sehari), garam (1 sendok teh sehari), dan minyak (5 sendok makan sehari).

Dokter Spesialis Gizi Klinik, dr. Raissa Edwina Djuanda, M.Gizi, Sp.GK menjelaskan bahwa di era pandemi, vitamin dan asupan penting yang harus diperhatikan adalah vitamin C, D, dan zinc. Diperbolehkan juga mengonsumsi multivitamin, contohnya vitamin A, B, E, selenium, omega 3, dan probiotik.

Meski demikian, asupan vitamin dan suplemen tambahan juga harus dilakukan dengan bijak dan tidak perlu berlebihan. Hal ini mengingat produk vitamin dan suplemen tambahan juga memiliki efek samping apabila tidak dikonsumsi dengan benar.

"Efek samping tentunya kalau dikonsumsi secara berlebihan. Apalagi kalau dikonsumsinya secara jangka panjang lama ya, memang beberapa vitamin ini bisa mengakibatkan gangguan organ, seperti misalnya gangguan fungsi ginjal, gangguan fungsi liver, bahkan bisa menyebabkan mual, muntah, diare, nafsu makannya hilang, gitu," jelas dr. Raissa di acara e-Life detikcom.

Bagi orang yang melakukan kontak erat dengan penderita COVID-19, dr. Raissa menyarankan untuk tetap mengonsumsi suplemen hanya dalam jangka waktu tertentu.

"Untuk yang kontak erat, saran saya tetap boleh konsumsi suplemen. Tapi nggak usah jangka panjang juga. Paling hanya selama isolasi saja. Atau dilebihkan, maksimal satu bulan pun nggak masalah," kata dr. Raissa.

Sedangkan bagi penderita COVID-19, dr. Raissa kembali menekankan pentingnya pemenuhan vitamin A, B, C, D, E, serta zinc, selenium, omega 3, dan probiotik. Hal ini ia kutip dari jurnal Nutrients (2020) yang dikeluarkan pada Desember 2020.

Selain konsumsi vitamin dan suplemen tambahan, produk herbal dan jamu (sering disebut sebagai mpon-mpon) juga kerap jadi alternatif untuk menambah imunitas tubuh, terutama di masa pandemi. Menanggapi hal ini, dr. Raissa tidak mempermasalahkan, hanya saja kandungan di dalam produk tetap perlu ditelaah sebelumnya.

"Kalau herbal, tergantung ya. Ada penelitiannya nggak, nih? Ada literaturnya nggak? Kalau memang penelitiannya sudah banyak, terus sudah BPOM, nggak ada tambahan zat kimia lagi, boleh aja dikonsumsi. Sedangkan untuk jamu, ya boleh aja, tapi pilih yang alami. Kalau mau, buat sendiri atau pakai buat bumbu masakan," jelas dr. Raissa.

Perlu diingat juga bahwa jamu biasanya mengandung penambahan gula yang jika diberikan terlalu banyak justru bisa memicu penyakit lainnya.

Untuk mengetahui apakah seseorang kekurangan atau kelebihan kandungan vitamin dalam tubuhnya, bisa dilakukan pemeriksaan cek darah di lab. Apabila tubuh dirasa sehat dan fit, pemeriksaan cukup dilakukan satu tahun sekali. Namun, jika terdapat kondisi medis tertentu, bisa dilakukan lebih sering, tergantung rekomendasi dokter yang menangani.

Secara umum, apabila terjadi konsumsi vitamin di atas kebutuhan sehari-hari, tubuh sudah memiliki mekanisme untuk menetralisirnya lewat urin.

"Selama kita minum dosisnya bukan yang ekstra, badan kita punya mekanisme untuk menetralisir vitamin itu. Misalnya minum vitamin C dosis 1000 mg, padahal kan sehari-hari hanya dibutuhkan sekitar 75-90 mg. Sisanya akan diapain? Dibuang lewat urin, gitu," kata dr. Raissa.

Pada akhirnya, dr. Raissa menekankan bahwa tidak ada yang bisa menggantikan nutrisi dari makanan utuh. Oleh karena itu, pola makan dengan gizi seimbang wajib dijalankan. Vitamin dan suplemen yang bisa dibeli secara bebas hanya berperan sebagai penunjang kebutuhan nutrisi, bukan sumber utama maupun sebagai obat penyembuh sakit.

(gah/gah)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT