Harmoko, Kelompencapir dan Pembredelan Media Massa

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Senin, 05 Jul 2021 12:22 WIB
Harmoko
Foto: Menteri Penerangan Era Presiden Soeharto, Harmoko (Antara Foto)
Jakarta -

Selama menjadi Menteri Penerangan di era Presiden Soeharto, Harmoko dianggap sebagai orang yang mendekatkan petani dengan pemerintah lewat Kelompencapir. Namun, di sisi lain, dia juga dianggap sebagai sosok di balik pembredalan sejumlah media massa kala itu.

Harmoko adalah orang yang mengusulkan agar Majalah Tempo dibredel. Pembredelan ini bermula ketika Majalah Tempo mengangkat laporan soal pembelian kapal bekas armada Jerman Timur. Seperti dikutip dari buku 'Cerita di Balik Dapur TEMPO' susunan tim Tempo, laporan tersebut secara tak langsung direspons oleh Presiden Soeharto pada 9 Juni 1994.

Kala itu Soeharto baru saja meresmikan Pelabuhan Teluk Ratai. Dia menegaskan pembelian kapal bekas itu adalah inisiatif pribadinya dan dilakukan diam-diam atas permintaan pemerintah Jerman. Di akhir pidato, Soeharto melontarkan kemurkaannya.

"Ada pers yang mengeruhkan situasi dan mengadu domba. Ini gangguan pada stabilitas politik dan nasional. Kalau tak bisa diperingatkan, akan kita ambil tindakan karena mengganggu pembangunan sebagai tumpuan kita," ujar Soeharto kata itu.

Pidato tersebut menggegerkan meja redaksi Majalah Tempo. Pasalnya, yang dimaksud Soeharto jelas Majalah Tempo. Sebab hanya Majalah Tempo yang menulis laporan terkait kapal bekas itu.

Para menteri kemudian melakukan rapat intensif membahas 'pres yang mengadu domba' itu. Di sanalah peran Harmoko muncul. Harmoko mengusulkan agar Tempo dibredel saja. Meskipun usul itu mendapat penolakan dari Menteri Koordinator Politik dan Kemananan Soesiolo Soedarman.

Vonis bredel pun tetap terjadi. Suratnya terbit pada 21 Juni 1994. Majalah Tempo ditutup bersama tabloid Detik dan Editor. Untuk tabloid Detik dan Editor, tak diketahui secara jelas apa alasan pembredelannya. Namun, kedua media itu juga dinilai terlalu kritis kepada pemerintah.

Ada peran Harmoko dalam pembredelan ini. Sebab, sehari sebelumnya, Harmoko bersama Mensesneg Moerdino sempat dipanggil Presiden Soeharto di Jalan Cendana.