Spesialis Anak Sebut 4 Sebab Tingginya Kematian Anak Akibat COVID

Deden Gunawan - detikNews
Senin, 05 Jul 2021 08:40 WIB
Jakarta -

Virus Corona varian Delta (B.1.617.2) sangat rawan menulari anak-anak. Hal ini bisa berakibat morbiditas (angka kesakitan) dan angka kematian (mortalitas) bagi anak, terutama balita, akibat COVID-19 akan semakin tinggi.

Menurut Pendiri Yayasan Advokasi Kesehatan Anak Indonesia (YAKAI) Dr dr Bob Wahyudin, SpA, saat ini saja berdasarkan data dari pemerintah melalui laman Covid.go.id, angka kesakitan akibat COVID-19 di Indonesia mencapai lebih dari 2,2 juta. Dari jumlah tersebut, 12,6 persennya adalah anak-anak. "Padahal pada Juni 2020 angkanya cuma 7,8% atau bertambah 4,8 persen," terang Bob Wahyudin kepada detikcom, Jumat (2/7/2021).

Sebagai perbandingan, Bob melanjutkan, di Amerika Serikat angka kesakitan bagi anak-anak mencapai 50 persen. Namun angka kematian anak akibat COVID-19 di negara adi daya itu hanya 0,05 persen. Sedangkan di Indonesia angka kesakitannya 12,6 persen tapi angka kematiannya mencapai 2,9 persen. "Dari persentase tingkat kematian anak akibat COVID-19 usia Balita menyumbang separuhnya," ujar dokter yang berpraktik di RS Siloam Makassar ini.

Ada beberapa faktor yang jadi sebab tingginya kematian anak akibat COVID-19 di Indonesia, antara lain gizi buruk. Faktor ini berdampak rendahnya imunitas atau daya tahan tubuh anak sehingga sangat rentan jika terkena COVID-19.


Faktor kedua, vaksinasi pada anak baru saja dilakukan akibat terbatasnya pasokan jumlah vaksin. Itu pun baru dikenakan terhadap anak-anak berusia 12-17 tahun, sedangkan balita sama sekali belum akan tersentuh vaksinasi dalam waktu dekat.

Faktor ketiga, penerapan protokol kesehatan yang masih sangat lemah. Bob Wahyudin mencontohkan banyak orang tua yang mengajak anak-anak mereka ke mal tanpa mengenakan masker. "Ă–rang tuanya sih bermasker tapi anaknya tidak," ujarnya. Faktor keempat adalah varian Delta yang sangat mudah menular.

(ddg/jat)