350 Hektar Tanaman Bawang di Bantul Terendam Air

350 Hektar Tanaman Bawang di Bantul Terendam Air

- detikNews
Selasa, 21 Mar 2006 18:24 WIB
Jakarta - Sekitar 350 hektar tanaman bawang merah di Kabupaten Bantul terendam air. Diperkirakan petani mengalami kerugian Rp 4,5 miliar.Ratusan hektar tanaman bawang yang terendam air akibat hujan deras tiga hai berturut-turut yang mengguyur wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Lahan yang terendam air akibat luapan Sungai Opak dan Winongo itu di antaranya di Kecamatan Kretek, Bambanglipuro, Sanden dan Srandakan.Hal itu dikemukakan oleh Kepala Dinas Pertanian Kelautan dan Kehutanan Kabupaten Bantul Edy Suharyanto di kantornya Jl Wahidin, Bantul, Selasa (21/3/2006)."Yang paling parah dan paling banyak terendam air di Kecamatan Kretek sekitar 200 hektar dengan total kerugian sekitar Rp 4,5 miliar," katanya.Di Kecamatan Sanden, lahan tanaman bawang yang terendam di antaranya di Desa Gadingsari, Srigading dan Murtigading. Kecamatan Bambanglipuro di Desa Mulyodadi. Sedang Kecamatan Srandakan di Desa Poncosari."Kerugian petani sebesar Rp 4,5 miliar itu bila dihitung berdasarkan asumsi harga 1 Kg bawang merah Rp 5 ribu/Kg. Padahal saat ini harga bawang merah mencapai Rp 8 ribu/Kg," katanya. Menurut Edy, terendamnya lahan pertanian itu akibat hujan deras yang mengguyur wilayah Yogyakarta selaama tiga hari berturut-turut. Akibatnya Sungai Opak dan Winonggo dan beberapa anak sungai lainnya tidak mampu menampung air hingga meluap di areal persawahan. Dia mengatakan tanaman bawang yang terendam air itu diperkirakan berumur antara 2 minggu sampai satu bulan. Tanaman yang terendam sejak Senin kemarin hampir dipastikan akan mati karena akar membusuk dan tanaman tidak akan hidup lagi. "Saat ini banyak petani yang sudah melapor, tapi kita belum bisa memutuskan apakah akan membantu petani dengan memberikan bibit baru atau tidak," katanya. Sementara itu Seti Wiyono, salah satu petani di Tirtohargo, Kretek mengatakan, dirinya mengalami kerugian mencapai Rp 3 juta. Kerugian itu dihitung dari biaya produksi yakni pembelian bibit sebanyak 100 Kg seharga Rp 1,5 juta. Biaya penggarapan lahan satu hektar Rp 750 ribu dan pembelian puuk dan obat-obatan Rp 750 ribu."Selain tanaman mati, saat ini kamu juga masih punya tanggungan mengembalikan pinjaman utang bibit bawang dari kelompok tani yang harus dilunasi saat panen. Tapi nyatanya malah gagal, keluh Wiyono. (nrl/)


Berita Terkait