Melongok 'Sarang' GAM Nan Megah

Melongok 'Sarang' GAM Nan Megah

- detikNews
Selasa, 21 Mar 2006 13:06 WIB
Melongok Sarang GAM Nan Megah
Banda Aceh - Rasa penasaran menyergap ketika diajak ke sarang GAM. Terbayang rumah yang angker dan wajah-wajah sangar para eks gerilyawan hutan.Namun dalam sekejap fantasi itu pupus. Begitu memasuki kawasan Lamdingin, Banda Aceh, yang terlihat justru kebanyakan bangunan permanen.Saat memasuki pelataran luas halaman parkir sebuah bangunan putih dan megah, para jurnalis masih belum ngeh kalau sudah sampai di 'sarang' GAM.Empat pilar menjulang tinggi menopang bangunan dua lantai itu. Nuansa modern begitu kental. Tidak ada papan nama yang mengidentifikan bangunan tersebut sehingga terciri seperti layaknya rumah di pemukiman elit."Kita sebenarnya mengunjungi tempat apa sih? Katanya mau ketemu tokoh GAM di markasnya," celetuk seorang jurnalis penasaran sambil celingak-celinguk mencari papan nama, namun sia-sia belaka.Panas matahari pagi yang sudah terik dan menyengat pada Rabu 15 Maret 2006 itulah yang kemudian membuat para jurnalis dari Jakarta buru-buru ingin berteduh ke dalam rumah megah yang tampak sangat nyaman itu.Sesampainya di beranda, sejumlah pria bertubuh tegap dan berpakaian apik menyambut. Raut wajah yang ramah dengan sapaan bak dendang melayu membuat hati nyaman sehingga ingin segera masuk ke dalam bangunan.Oopss... Tunggu dulu! Rupanya harus melepas sepatu. Meski dahi berkerut heran dan para jurnalis saling bertatapan bingung, sepatu pun dilepas dengan buru-buru. Tak sabar ingin segera melihat ke dalam.Wuihhh... Lantai marmer yang kinclong dan dingin seketika menyejukkan telapak kaki yang telanjang maupun berkaos kaki. Ruangan dalam yang lapang, berplafon tinggi, dan sangat minim furnitur membuat sirkulasi udara tambah sejuk."Selamat datang di kantor pusat GAM. Tolong isi dulu daftar tamu," sapa seorang pria tegap dengan ramah.Kaget ternyata sudah ada di 'sarang' GAM, mata para jurnalis pun bereksplorasi dengan cepat menyoroti setiap sudut dalam bangunan. Begitu juga saat mengisi daftar tamu, sorot mata penasaran terarah pada sejumlah pria bertubuh tegap."Bapak-bapak ini beneran anggota GAM semua yah?" celetuk seorang jurnalis polos yang spontan disambut tawa renyah dan anggukan kepala dengan semangat dari para pria bertubuh tegap itu. Wow! Sama sekali jauh dari kesan seram dan sangar.Tiba-tiba muncul seorang pria kebapakan dan berkumis. "Ini Pak Bakhtiar Abdullah," kata seorang penerima tamu memperkenalkan juru bicara GAM Swedia itu. Para jurnalis pun bergantian salaman."Ini memang kantor baru. Kita sudah 6 bulan menempati kantor ini," cerita Bakhtiar menjawab rasa penasaran jurnalis.Obrolan pun berlanjut seputar aplikasi MoU RI-GAM di Aceh, RUU Pemerintahan Aceh, pilkada, kandidat independen, maupun jagoan dari GAM untuk jadi gubernur yang dikatakan Bakhtiar masih dalam perbincangan.Jadi sudah benar-benar damai atau ada udang di balik batu? "Kita sudah 30 tahun berkonflik. Setelah kejadian tsunami, ada keikhlasan mencoba membina kepercayaan dan mencari penyelesaian. Senjata yang sudah seperti istri kita, sudah diserahkan untuk dipotong tiga. Semoga damai di Aceh akan kekal," harap bapak dua anak yang masih jadi warga negara Swedia ini mengunci pembicaraan.Setelah bersalaman dan kembali memakai sepatu tentunya, para jurnalis yang diundang Tim Sosialisasi Aceh Damai dan Aceh Monitoring Mission (AMM) ini pun melaju dengan kendaraan meninggalkan bangunan megah dengan halaman parkir luas itu.Decak kagum dan rasa terpana masih terus terbawa hingga sosok bangunan yang diberikan oleh Pemprov NAD kepada GAM itu tak terlihat lagi dari kejauhan. (sss/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads