Satgas Apresiasi Depok Larang Bumil, Lansia hingga Balita ke Mal

Khoirul Anam - detikNews
Jumat, 02 Jul 2021 07:41 WIB
Hari Terakhir Libur Lebaran, Warga Ramai Kunjungi Mal Kokas
Foto: Hari Terakhir Libur Lebaran, Warga Ramai Kunjungi Mal Kokas
Jakarta -

Rata-rata kematian yang terjadi pada puncak pandemi COVID-19 kedua di Indonesia mencapai lebih dari 400%. Koordinator Tim Pakar dan Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Prof Wiku Adisasmito mengungkapkan kenaikan kematian yang tinggi seharusnya dapat segera diperbaiki dengan menghindari potensi kematian pada pasien COVID-19.

"Angka kematian yang terus meningkat ini tentunya tidak dapat ditoleransi, karena satu kematian saja terbilang nyawa," tegas Wiku dalam keterangan tertulis, Kamis (1/7/2021).

Saat ini, provinsi yang menyumbangkan kasus aktif tertinggi adalah DKI Jakarta, dengan 57.295 kasus, disusul Jawa Barat 43.436 kasus, Jawa Tengah 33.805 kasus, Yogyakarta 8.917 kasus, dan Jawa Timur 7.488 kasus. Dengan banyaknya kasus aktif saat ini, kata Wiku, belum terlambat untuk menjaga agar kematian tidak semakin bertambah.

Wiku memaparkan, fokus utama dalam menekan angka kematian adalah memastikan penanganan pasien COVID-19 sebaik mungkin, terutama pada pasien gejala sedang-berat. Namun dia menyayangkan, saat ini kelima provinsi tersebut memiliki keterisian tempat tidur Isolasi dan ICU di atas 70%, bahkan DKI mencapai lebih dari 90%.

Oleh karena itu, lanjut Wiku, keadaan ini akan mempersulit penanganan pada pasien gejala berat. Dia juga menegaskan, fokus pencegahan kematian dapat dilakukan berdasarkan kelompok usia yang paling rentan. Adapun di kelima provinsi tersebut, persentase kematian yang paling tinggi terjadi pada kelompok usia lansia.

Sementara itu, meski kematian yang terjadi di kelompok anak tidak setinggi kelompok dewasa dan lansia, kelompok anak dapat menjadi rentan apabila luput dari pengawasan. Hampir di kelima provinsi ini, kematian pada kelompok anak didominasi oleh balita, yaitu sekitar 30-50% dari total kematian anak.

"Untuk itu, dimohon kepada seluruh pemerintah provinsi untuk melihat lebih dalam pada kematian akibat COVID-19, dengan memastikan data kematian menjadi salah satu yang harus dipantau secara berkala. Khusus pada lima provinsi ini, kenaikan kematian yang tinggi ini harus segera dimitigasi dengan tindakan-tindakan konkret," ungkap Wiku.

Selanjutnya, Satgas juga meminta kepada pemerintah daerah untuk memastikan rumah sakit rujukan COVID-19 agar lebih memadai, dan jika diperlukan segera melakukan konversi tempat tidur. Selain itu, pemerintah daerah juga harus meningkatkan tracing, terutama pada pasien lansia dan dengan kondisi komorbid.

Hal yang perlu juga dilakukan, kata Wiku, adalah membatasi aktivitas lansia, anak-anak khususnya balita, dan kelompok rentan lainnya di ruang publik. Dalam kondisi seperti ini, peran keluarga atau orang-orang terdekat menjadi sangat penting untuk mengurangi risiko kematian pada kelompok rentan.

"Saya mengapresiasi tindakan Satgas COVID-19 Depok yang secara konkret melarang ibu hamil, lansia, dan balita untuk masuk ke dalam mal atau pusat perbelanjaan. Diharapkan daerah-daerah lain juga bisa mengikuti tindakan tegas ini" tutur Wiku.

Untuk itu, dia memohon kepada seluruh masyarakat yang tinggal bersama lansia agar lebih waspada dan terus melaksanakan protokol Kesehatan, bahkan di dalam rumah.

Terakhir, Satgas mengingatkan bahwa melindungi anak-anak, terutama balita juga menjadi hal penting yang harus dilakukan oleh orangtua. Hal ini tidak lepas karena aktivitas anak-anak tentunya memerlukan pengawasan orang tua.

Di tengah kenaikan kasus yang tengah melonjak ini, Satgas minta kepada masyarakat untuk tidak lagi menerapkan proteksi diri yang biasa-biasa saja.

"Proteksi ekstra sangat dibutuhkan mengingat penularan saat ini lebih tinggi, dan kuncinya adalah pelaksanaan protokol kesehatan seperti memakai masker dan mencuci tangan dengan cara yang benar," pungkas Wiku.

Tonton video 'Catat! Ini 14 Poin Aturan PPKM Darurat di Jawa-Bali':

[Gambas:Video 20detik]



(mul/mpr)