3 Bandar Sabu Puluhan Kg di Banjarmasin Lolos Hukuman Mati

Andi Saputra - detikNews
Kamis, 01 Jul 2021 13:07 WIB
Ilustrasi sabu (Sitti Harlina/detikcom)
Foto: Ilustrasi sabu (Dok: detikcom)
Jakarta -

Tiga bandar sabu puluhan kilogram (kg) dan ribuan butir pil ekstasi lolos dari hukuman mati sebagaimana amanat UU Narkotika. Ketiga bandar sabu dimaksud, yakni Robin Andriawan (24), Rizki Aldi Putra (26) dan Muhammad Solehuddin (25).

Hal itu tertuang dalam putusan Pengadilan Negeri (PN) Banjarmasin yang dilansir di website-nya, Kamis (1/7/2021). Untuk Robin, ia mendapatkan paket narkotika dari seorang bandar di sebuah hotel di Banjarmasin pada 2 November 2020.

Tas berisi narkoba itu kemudian dibawa pulang ke rumahnya di Jalan Pramuka, Banjarmasin, dan ditangkap anggota polisi dari Sat Narkoba Polresta Banjarmasin. Dari tangan Robin didapati 21 kg sabu dan 15 ribu butir pil ekstasi. Robin harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di pengadilan.

Robin didakwa dengan Pasal 114 UU Narkotika yang mengancam hukuman mati. Namun ternyata jaksa hanya menuntut penjara seumur hidup. Lalu apa kata majelis hakim?

"Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa dengan pidana seumur hidup," kata ketua majelis Aris Bawono Langgeng dengan anggota Moh Fatkan dan Heru Kuntjoro. Majelis beralasan Robin tidak dihukum mati karena menyesali perbuatannya.

Dari mana narkoba yang didapat Robin? Ternyata didapat dari Rizki dan Muhammad Solehuddin yang membawa narkoba dari Surabaya ke Banjarmasin menggunakan kapal laut pada November 2020. Mereka membawa tas berisi narkoba jenis sabu dan pil ekstasi.

Sesaat setelah serah terima paket ke Robin, keduanya ditangkap polisi Sat Narkoba Polresta Banjarmasin di kamar hotel. Rizki dan Muhammad Solehuddin juga harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Sama dengan Robin, Rizki dan Muhammad Solehuddin juga hanya dituntut penjara seumur hidup. Padahal, UU Narkotika mengamanatkan agar bandar narkoba dengan berat lebih dari 5 gram untuk dihukum mati. Lalu apa kata hakim?

"Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa dengan pidana penjara seumur hidup," kata ketua majelis Aris Bawono Langgeng dengan anggota Moh Fatkan dan Heru Kuntjoro.

Majelis menyatakan penyalahgunaan narkotika merupakan ancaman global yang bersifat serius, terutama dari segi prevelensi pengguna yang selalu meningkat dari tahun ke tahun. Ancaman narkotika bersifat komplek dan menimbulkan polarisasi tanpa mengenal strata social maupun tingkatan usia.

Akibatnya narkotika ada di mana- mana, dan sudah didapat para pelaku kejahatan narkotika adalah para sindikat yang sangat professional, yang kegiatannya dilakukan secara terorganisir dan rapi, sistematis serta menggunakan modus operandi yang berubah-ubah, didukung oleh dana yang tidak sedikit dan dilengkapi peralatan yang berteknologi tinggi.

"Terdakwa hanyalah satu di antara sindikat peredaran narkotika yang bergerak di bagian bawah, yaitu mengedarkan narkotika," demikian bunyi pertimbangan majelis hakim.

(asp/zak)