Pertama di Indonesia, Perpustakaan buat Warga Binaan Hadir di Lapas

Alfi Kholisdinuka - detikNews
Rabu, 30 Jun 2021 12:57 WIB
Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasia (BPIP) Yudian Wahyudi meresmikan Perpustakaan Pancasila di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Samarinda, Kalimantan Timur. Perpustakaan di Lapas ini disebut merupakan perpustakaan pertama yang ada di Indonesia yang bertujuan untuk mebudayakan literasi ke warga binaan di Lapas.
Foto: Dok. BPIP
Jakarta -

Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi meresmikan Perpustakaan Pancasila di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Samarinda, Kalimantan Timur. Perpustakaan di Lapas ini disebut merupakan perpustakaan pertama yang ada di Indonesia yang bertujuan untuk membudayakan literasi ke warga binaan di Lapas.

"Salam Pancasila. Penjara bukan akhir perjalanan hidup. Bisa jadi justru tempat transformasi diri, bahkan perubahan bangsa. Seperti yang dialami oleh Proklamator RI Ir Soekarno yang menjadikan penjara sebagai tempat transformasi diri," ujar Direktur Sosialisasi, Komunikasi dan Jaringan BPIP Akbar saat membacakan sambutan Kepala BPIP dalam keterangan tertulis, Selasa (30/6/2021).

Akbar menceritakan pada masanya Bung Karno dipaksa harus mendekam di Lapas Banceuy dan mencicipi sel Lapas Sukamiskin oleh Pemerintahan Belanda. Bung Karno juga dipaksa merasakan pahitnya tempat pengasingan seperti di Ende, Bengkulu, Brastagi, Bangka dan Boven Digoel. Meski getir tetapi Bung Karno, kata dia tetap ikhlas.

"Beliau malah makin rajin beribadah, membaca buku, mempelajari Islam dan Alquran. Di Pulau Ende, Soekarno sukses menggali nilai-nilai luhur Pancasila. Tanpa perenungan Soekarno di tempat pengasingan, tidak akan ada Indonesia," terang mantan Jubir Ditjen PAS dan Karutan Rangkasbitung ini.

Dia lalu merujuk beberapa negara yang mendorong transformasi diri para warga binaan dan mencegah pengulangan tindakan kriminal melalui buku dan sastra. Karena jengah berulang kali bertemu para residivis di ruang pengadilan, seorang hakim di Massachusetts bekerja sama dengan guru sastra untuk memperkenalkan program membaca untuk warga binaan.

"Changing Lives Through Literature. Program itu sukses menurunkan tingkat residivisme hampir tiga kali lebih tinggi dibanding tanpa intervensi," beber Akbar.

Lebih lanjut, kata dia, penelitian oleh Rand Corporation pada 2013, warga binaan yang mendapatkan pendidikan jauh lebih kecil kemungkinannya terjeblos kembali ke penjara dan lebih besar kemungkinan mendapatkan pekerjaan.

Akbar menambahkan begitu besarnya manfaat buku bagi warga binaan tak hanya diakui oleh Amerika Serikat. Di Iran, hakim bisa menjatuhkan hukuman kepada pelanggar hukum dengan memerintahkan mereka untuk membeli lima buku, membuat tulisan review tentang buku-buku itu, dan mengirim buku tersebut ke penjara. Di Italia dan Brazil, warga binaan yang menyelesaikan satu buku bisa mendapatkan remisi beberapa hari.

"Apakah membaca buku bisa diusulkan untuk mengurangi hukuman adalah soal lain. Hal yang ingin saya tekankan membaca memiliki magic yang bisa mengubah diri kita dan warga binaan. Apalagi, salah satu pangkal masalah terbesar dalam sistem peradilan kriminal kita adalah rendahnya literasi," terang Dosen Politeknik Ilmu Pemasyarakatan ini.

Menurutnya, BPIP berharap literasi dan perpustakaan akan mendorong lebih banyak warga binaan yang Pancasilais karena memiliki kemampuan berinteraksi sosial yang semakin baik.

"Saya acungkan dua jempol untuk Pimpinan Kemenkumham Kaltim dan jajaran Lapas Samarinda atas inovasi Perpustakaan Pancasila. Semoga inisiatif perpustakaan bisa menggelinding menjadi gerakan nasional yang bisa ditiru oleh Lapas lain di seluruh Indonesia," jelasnya.

Sementara itu, langkah BPIP tersebut disambut antusias oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Kalimantan Timur, Sofyan. Hal ini dinilai selaras dengan perwujudan visi-misi kebangsaan Presiden Joko Widodo melalui Kemenkumham.

"Saya ingat betul waktu dididik BP7 (Badan Pembinaan Pendidikan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila). Saya juga ingat waktu ikut menyeleksi CPNS. Pada lupa sila-sila Pancasila, ingatnya lagu-lagu Barat. Semoga ide Perpustakaan Pancasila perdana ini bisa masif dan berguna. Bukan hanya di lingkungan kami, juga masyarakat," tandas Sofyan.

Sebagai informasi, dalam acara peresmian, hadir pula Direktur Hubungan Antar Lembaga dan Kerjasama BPIP Elfrida Herawati Siregar, para Kepala Divisi Kanwil Kemenkumham Kaltim, Kepala Lapas Samarinda Muhamad Ilham Agung Setyawan, dan para Kepala UPT Pemasyarakatan Samarinda dan Tenggarong, serta pejabat Dinas Pendidikan Samarinda. Para Warga Binaan juga ikut khidmat menyaksikan di dalam kompleks Lapas yang terlihat rapi, bersih, diiringi hujan rintik-rintik.

(akd/ega)