Kenapa Jokowi Tunjuk Nadiem Jadi Mendiknas? Ini Kata Waket MPR

Yudistira Imandiar - detikNews
Selasa, 29 Jun 2021 20:58 WIB
Fadel Muhammad
Foto: MPR
Jakarta -

Wakil Ketua MPR RI Fadel Muhammad menyebut model birokrasi yang dianut negara-negara di dunia akan berubah mengikuti perkembangan zaman. Negara akan mencari sistem birokrasi yang dianggap paling pas dengan kondisi zaman.

Ia mencontohkan, dahulu public administration dianggap sebagai model birokrasi yang paling bagus. Dalam perjalanannya, sistem ini terus berkembang sehingga kalangan yang sepaham dengan sistem itu menyebutnya dengan istilah Birokrasi Tulen.

Fadel menjabarkan, model Birokrasi Tulen ini lahir di Jerman, lalu tumbuh dan berkembang pesat di Amerika pada era presiden USA ke-28 Thomas Woodrow Wilson. Pada tahun 1993-2001, tepatnya saat Albert Arnold Gore Jr, menjabat Wakil Presiden AS, ia memunculkan ide tentang Reinventing Government, yang berisi pemikiran agar pemerintah tidak hanya memegang prinsip-prinsip birokrasi tulen yang kaku, tetapi mesti berkembang, termasuk menyentuh persoalan entrepreuneurship.

Pembahasan itu disampaikan Fadel di hadapan Civitas Akademika Universitas Negeri Gorontalo (UNG), dalam acara 'Bicara Buku Bersama Wakil Rakyat'. Acara yang membahas buku karya Fadel Muhammad berjudul 'Reinventing Local Government-Pengalaman Dari Daerah', berlangsung di Gedung Rektorat Universitas Negeri Gorontalo, Senin (28/6).

"Kemudian gagasan entrepreneur government itu makin berkembang pesat di Universitas Harvard. Sistem ini menekankan pada prinsip bahwa pemerintah bukan hanya milik satu orang tapi kepunyaan banyak orang," jelas Fadel.

Fadel Muhammad menambahkan, konsep Reinventing Government tampaknya dilakukan pemerintahan Presiden Joko Widodo. Penunjukan Mendiknas dari kalangan entrepreneur pada periode kedua pemerintahan Presiden Joko Widodo, kata Fadel, merupakan bukti adanya keinginan pemerintah untuk mengembangkan pendidikan seperti yang ada pada dunia usaha, yakni memberikan banyak penghasilan, sekaligus melahirkan wirausahawan baru.

Menurutnya, di masa depan pemerintahan yang berorientasi kewirausahaan tidak melulu menghabiskan APBD untuk belanja. Tapi, pemerintahan memanfaatkan anggaran sebagai modal, sehingga memiliki multiefek yang lebih luas.

"Kisah itu menjadi salah satu bagian dalam buku Perjalanan saya memimpin Gorontalo sebagai gubernur pertama selama dua periode. Dalam buku berjudul 'Reinventing Local Government - Pengalaman Dari Daerah', itu saya rangkum seluruh pengalaman empirik, sehingga bisa dijadikan sebagai rujukan para kepala daerah. Apalagi birokrasi yang saya kembangkan telah berhasil mengangkat hajat hidup masyarakat Gorontalo sebagai provinsi ke 32," papar Fadel.

Kepala Biro Humas dan Sistem Informasi MPR RI Siti Fauziah yang turut hadir dalam acara tersebut, berharap kerja sama MPR dengan UNG akan berjalan lebih baik ke depannya. Siti menginginkan civitas akademika UNG bisa memanfaatkan perpustakaan MPR dengan datang langsung ke perpustakaan MPR, atau mengunjunginya melalui website MPR.

"Ada 14 ribu judul buku, sebagian di antaranya tidak dijual di pasaran, dan hanya ada di MPR. Buku-buku itu karya para pakar, baik dalam bentuk ide, aspirasi maupun koreksi terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara," ulas Siti.

Dalam acara tersebut, Selain Fadel yang tampil sebagai penulis, hadir pula dua pembicara yang ikut membahas buku 'Reinventing Local Government - Pengalaman Dari Daerah'. Keduanya adalah Dirjen Dikti Prof. Ir. Nizam,, serta Bupati Gorontalo Prof. Dr. Ir. H. Nelson Pomalingo

(mul/mpr)