Area Tetangga Zona Merah di Jakarta Bisa Ikut Kena Mikro Lockdown

Tim detikcom - detikNews
Minggu, 27 Jun 2021 18:55 WIB
Sebanyak 80 warga yang bermukim di RT 03 RW 03 Cilangkap, Jakarta Timur, terkonfirmasi positif COVID-19. Gang jalan di permukiman tersebut di-lockdown sementara.
Ilustrasi micro lockdown. (Foto: Rengga Sancaya)
Jakarta -

Pemprov DKI Jakarta telah menyiapkan skenario terburuk untuk pengendalian Corona di Jakarta. Sekda DKI Jakarta Marullah Matali mengatakan salah satunya yakni kemungkinan dilakukan mikro lockdown di kawasan dekat RT zona merah.

Awalnya Marullah memaparkan peta kasus Corona di Jakarta. Dia mengatakan saat ini kondisi pandemi di Jakarta sudah sangat serius.

"Saya ingin menyampaikan situasi Jakarta, tapi saya kira Jakarta sudah dalam kondisi sangat serius sekali. Angka 9271 yang kemarin kita capai mudah-mudahan bisa menurun pada hari-hari mendatang," ujar Marullah dalam diskusi virtual di YouTube BNPB, Minggu (27/6/2021).

Marullah juga menjelaskan soal data BOR di Jakarta yang sudah mencapai 92 persen. Kemudian tempat tidur di ruang ICU yang sudah terisi 87 persen.

Dalam data yang diperlihatkan Marullah, tempat tidur ICU dari 1.255 sudah terisi 1.095. Data ini tercatat per 26 Juni 2021.

Adapun Marullah menerangkan soal Zona merah di sejumlah titik di Jakarta. Dia mengatakan saat ini ada 10 titik zona merah di Jakarta.

Titik-titik itu ada di 10 RT yang masing-masing ada di Jagakarsa, Rawasari, Gandaria Selatan, Kelapa Dua Wetan, Cengkareng Barat, Petogogan, Cililitan, dan Srengseng Jakarta Barat.

"Kalau kita melihat zona merahnya hanya 10 RT tapi RT di Jakarta itu batasnya sangat dekat karena itu perhatiannya ke zona oranye juga ada 313. Jadi saat ini zona oranye 313, zona merah 10 dari 30.482 RT di Jakarta," kata Marullah.

Eks Walkot Jaksel ini juga menjelaskan soal PPKM Mikro di Jakarta yang diberlakukan lebih ketat. Salah satu kegiatan yang diperketat yakni WFH 75 persen di seluruh kantor di Jakarta, termasuk penutupan tempat ibadah.

"Tempat ibadah dengan sangat terpaksa ditutup, beribadah di rumah saja," katanya.

Setelahnya Marullah menjabarkan soal skenario terburuk Jakarta menanggulangi Corona. Dia mengatakan langkah pertama yang dilakukan yakni micro lockdown di tingkat RT.

"Kemudian yang ingin saya sampaikan upaya pengendalian Covid oleh Pemprov DKI Jakarta. Yang pertama menjalankan worst case skenario, pertama adalah kebijakan PPKM dengan ketat pada zona oranye dan zona merah dengan konsep micro lockdown. Perlu saya sampaikan bahwa kondisi RT di Jakarta berimpitan, berbeda dengan Provinsi lain. Makanya mungkin ada zona merah di RT tertentu sementara RT lain yang mungkin berdekatan dengan RT zona merah tersebut terpaksa kita lakukan pembatasan-pembatasan atau prokes yang ketat," kata Marullah.

Lalu skenario kedua yakni penutupan tempat dan jalan di Jakarta yang dimulai pukul 20.00 WIB.

"Kemudian berikutnya penutupan tempat dan jalan yang berpotensi menimbulkan kerumunan pada pukul 20.00 WIB-04.00 WIB. Ada 10 jalan yang kita khawatirkan terjadi penumpukan massa. Dan ini inisiasi yang disampaikan Pak Kapolda dan Jajarannya. Kemudian didukung segenap 3 pilar, didukung oleh masyarakat juga," sambungnya.

Marullah memaparkan 15 poin upaya pengendalian Corona yang dilakukan di Jakarta. Satu di antaranya skenario terburuk. Kemudian penambahan kapasitas ruang perawatan di Rumah Sakit Rujukan COVID.

"Kemudian melakukan rencana intervensi bersama 3 pilar dalam optimalkan PPKM dengan mikro lockdown pada wilayah zona oranye dan merah," kata Marullah.

"Ambulans atau kereta jenazah dari kementerian atau lembaga selain pengembangan perlibatan masjid dan yayasan sosial yang ada. Jadi nanti apabila dalam kondisi yang sangat mendesak kita juga akan meminta bantuan pengerahan ambulans untuk membawa orang sakit ke faskes di Jakarta. Ambulans atau kereta jenazah bisa melibatkan ambulans dari tempat-tempat ibadah dan yayasan sosial di Jakarta," sambung dia.



Simak Video "2 PR Besar DKI Jakarta dalam Penanganan Pandemi COVID-19"
[Gambas:Video 20detik]
(idn/fjp)