Jasmev-Relawan Ganti Presiden Bertemu di Studio Partai Gelora

Tim detikcom - detikNews
Minggu, 27 Jun 2021 10:05 WIB
penggerak Jokowi Ahok Social Media Volunteers (Jasmev) Dyah Kartika Rini dan penggerak Relawan Ganti Presiden (RGP) Ari Saptono.
Penggerak Jokowi Ahok Social Media Volunteers (Jasmev) Dyah Kartika Rini dan penggerak Relawan Ganti Presiden (RGP) Ari Saptono. (Dok. Humas DPN)
Jakarta -

Partai Gelora mempertemukan penggerak Jokowi Ahok Social Media Volunteers (Jasmev), Dyah Kartika Rini, dan penggerak Relawan Ganti Presiden (RGP), Ari Saptono. Diketahui Jasmev dan RGP merupakan kelompok yang bertentangan pada Pilpres 2019.

Pertemuan itu dilakukan di forum diskusi Gelora Talk 4 dengan tema 'Pembelahan Politik di Jagat Media Sosial: Residu Pemilu yang Tak Kunjung Usai' di Studio Partai Gelora pada Selasa (22/6/2021).

"Namanya relawan terus tempur dari dulu, nah sekarang mereka bertemu di Studio Gelora. Yang satunya sudah menjadi Ketua Bidang Komunikasi di Partai Gelora (Ari Saptono), saya khawatir mbak DeeDee (Dyah Kartika Rini) juga bakal gabung nanti," kata Ketum Partai Gelora Anis Matta dalam keterangan tertulis, Minggu (27/6).

Anis Matta mengatakan tidak selamanya orang yang bertentangan akan terus menjadi musuh. Menurutnya, pengalaman pada pilpres lalu bisa dijadikan pelajaran.

"Dari cara seperti ini, kita belajar. Dan mereka yang terus belajar akan menjadi bangsa pembelajar dan lebih gampang membuat kita bersatu, bukan gampang merusak," tegas Anis Matta.

Sementara Sekretaris Jenderal Partai Gelora, Mahfuz Sidik, berharap bukan hanya relawan Jasmev dan RGP saja yang berdamai, tapi juga 'cebong' dan 'kampret', karena residu pembelahan politik pada Pilpres 2019 masih ada dan mulai menunjukkan eskalasi peningkatan menjelang Pemilu 2024.

"Kandidatnya sudah bersatu, relawannya juga sudah, cuman yang di bawah tidak serta-merta ikut, masih ada cebong dan kampret. Kita ingin satukan, cuma kita tidak tahu siapa pimpinan cebong dan kampret-nya," kata Mahfuz.

Dyah Kartika Rini selaku penggerak Jasmev mengatakan kondisi pembelahan politik saat ini menjadi warning bagi partai politik. Sebab, kelompok-kelompok di masyarakat saat ini telah menciptakan kekuatan politik tersendiri sebagai elemen oposisi nonpartai.

"Ini harus menjadi pemikiran bersama tentang persoalan ini,. Ini menjadi warning, ya lampu kuning bagi partai politik," kata Dyah.

Lebih lanjut, Ketua Bidang Komunikasi Partai Gelora yang juga penggerak RGP, Ari Saptono, mengakui adanya pergeseran peran partai politik yang bisa dilihat dari mulai maraknya calon independen dalam Pilkada Serentak 2020.

"Lebih dari 50 persen calon independen dalam pilkada menang. Masyarakat sudah apatis dan jenuh dengan partai politik, lalu memilih calon alternatif yang relatif masih murni," ujarnya.

Ari Saptono berharap kondisi pembelahan di masyarakat harus segera diakhiri dan tidak bisa dibiarkan terus karena kesadaran politik masyarakat saat ini semakin meningkat. "Kita perlu membuat forum-forum semacam ini, kita sampaikan meskipun pelik. Tetapi harus bisa dipahami masyarakat, tidak boleh pecah belah seperti ini lagi," tuturnya.

(eva/gbr)