Kurangi Impor, Kementan Gagas Kampung Kelengkeng di Jateng

Alfi Kholisdinuka - detikNews
Sabtu, 26 Jun 2021 18:01 WIB
Kampung Kelengkeng
Foto: Kementan
Jakarta -

Kementerian Pertanian (Kementan) menggagas Kampung Hortikultura di di Desa Sumber Agung, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah menjadi tempat wisata baru di tengah pandemi. Lahan seluas 60 hektare itu dulunya lahan yang kurang produktif, kini berubah menjadi kebun petik kelengkeng yang punya daya tarik.

Dirjen Hortikultura Kementan, Prihasto Setyanto menyebut kampung kelengkeng ini adalah contoh nyata pengembangan Kampung Hortikultura yang digagasnya. Pengembangan ini juga sebagai respons prospek agrowisata yang sedang menjadi tren dan sangat menjanjikan.

"Lokasi ini telah mengusung konsep Kampung Hortikultura dan inilah contoh dari kampung buah yang rencananya akan kita kembangkan," ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (26/6/2021).

Dia menuturkan pengembangan kampung kelengkeng bertujuan untuk mengurangi importasi kelengkeng yang setiap tahun datang dari negara Thailand. Ia pun berharap program kampung Hortikultura ini nantinya menjadi pemantik kesejahteraan petani sehingga bisa mandiri dan tidak ketergantungan impor lagi.

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Sumber Rejeki Wasiran mengaku Kebun Kelengkeng-nya tidak pernah sepi pengunjung. "Alhamdulillah banyak yang berkunjung ke sini, baik sekedar berwisata sambil metik sendiri atau sengaja beli untuk dijadikan buah tangan, tapi insyaallah mereka semua mematuhi prokes yang telah ditetapkan oleh pemerintah," tuturnya.

Senada dengan Wasiran, Koordinator PPL Kec. Ngaringan Moh Matamari membeberkan bahwa 30 hektar dari total luasan 60 hektar kebun kelengkeng itu berasal dari alokasi APBN 2021 sedangkan sisanya swadaya petani. Varietas yang ditanam yaitu Itoh Super dengan rata-rata produksi 1 kwintal per pohon.

"Dalam 1 hektar terdapat 300 pohon, maka produksi mencapai 30 ton per hektar dalam satu periode panen," ucapnya.

Diketahui, Kampung Kelengkeng ini disinyalir sangat menguntungkan petani, sebab setiap pengunjung yang masuk ke kawasan agrowisata dikenakan tarif Rp 30 ribu dengan atraksi makan kelengkeng sepuasnya. Tapi jika ingin membawa pulang maka harus membayar Rp 40 ribu/Kg. Tercatat, pengunjung yang datang ke kebun kelengkeng ini baru berasal dari sekitar Kab. Grobogan, Blora, Pati, dan Semarang.

(ncm/ega)