41 Balai Kemensos Siap Rawat Anak yang Orang Tuanya Terpapar Corona

Khoirul Anam - detikNews
Sabtu, 26 Jun 2021 10:29 WIB
Seluruh balai harus siap melayani keluarga yang membutuhkan pertolongan dan menjadi tempat bagi anak yang masih membutuhkan pengasuhan
Foto: Dok Kemensos
Jakarta -

Kementerian Sosial meningkatkan layanan rehabilitasi sosial melalui 41 balai menjadi multifungsi. Balai-balai tersebut siap digunakan untuk menampung anak-anak yang orang tuanya tengah menjalani perawatan COVID-19.

"Sesuai arahan Menteri Sosial bahwa setiap balai rehabilitasi sosial memberikan layanan multifungsi," ujar Dirjen Rehabilitasi Sosial Kemensos, Harry Hikmat, dalam keterangan tertulis, Sabtu (26/6/2021).

Harry mengungkapkan 41 balai itu berfungsi sebagai tempat aduan, termasuk jika ada anggota keluarga anak atau orang tuanya terpapar COVID-19. Oleh karena itu, kata dia, bagi orang tua yang tengah menjalani perawatan COVID-19 anak-anak mereka tetap bisa dalam pengasuhan untuk sementara waktu di balai.

"Seluruh balai harus siap melayani keluarga yang membutuhkan pertolongan dan menjadi tempat bagi anak yang masih membutuhkan pengasuhan," ujarnya.

Sedangkan bagi pasien Orang Tanpa Gejala (OTG) COVID-19, kata Harry, masih bisa dilayani di balai-balai dengan menyiapkan tempat khusus untuk menjalani isolasi. Keputusan untuk isolasi mandiri (isoman) bisa dilihat langsung dari hasil swab yang secara fisik dicek oleh para petugas kesehatan di 41 balai tersebut.

"Isolasi bagi OTG di balai yang ada di Jakarta berkapasitas 38 kamar, sedangkan di balai Bekasi, yaitu di balai Budi Dharma dan Pangudi luhur, masing-masing berkapasitas 10 kamar. Satu orang satu kamar," ungkap Harry.

Sementara itu, Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi menyatakan setiap anak berhak untuk sehat dan bahagia sehingga membutuhkan kurikulum yang tidak membebani mereka. Dalam situasi seperti ini, perlu dibuat program hiburan agar anak-anak yang tengah menjalani perawatan di rumah sakit karena COVID-19 bisa tetap bermain.

"Upaya pendampingan anak-anak itu tidak sekadar fisik, melainkan harus juga dari sisi psikis," tegas Kak Seto, sapaan akrabnya.

"Buatlah anak-anak Indonesia agar tetap gembira dan bahagia, jangan dibebani dengan target kurikulum, terlebih jangan sampai sakit dan stres," kata dia.

(ncm/ega)