Haedar Nashir Kritik Kaum Antivaksin dan Penyebar Teori Konspirasi Corona

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 25 Jun 2021 10:23 WIB
Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, Jumat (6/3/2020).
Haedar Nashir (Foto: Sayoto Ashwan/detikcom)
Jakarta -

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir mengkritik sejumlah pihak yang mempromosikan keyakinan pseudo-ilmiah dan spekulatifnya kepada masyarakat bahwa pandemi Covid-19 adalah konspirasi. Haedar khawatir pernyataan mereka justru turut memperburuk penanganan pandemi di Indonesia.

"Masih ada. Baik karena ketidaktahuannya, atau juga karena ketahuannya, artinya karena ilmunya yang salah kaprah. Atau merasa tahu di bidangnya tetapi tidak diuji dengan pandangan lain. Muncul teori konspirasi, muncul teori-teori politik yang macam-macam bahwa Covid ini adalah buatan untuk menciptakan berbagai hal, pembunuhan manusia secara masif. Pandangan-pandangan ini kalau bagi mereka yang masih awam Insyaallah masih bisa dipahamkan. Yang paling repot itu mereka yang merasa tahu padahal sesungguhnya tidak tahu atau sok tahu," kata Haedar seperti dikutip di situs Muhammadiyah, Jumat (25/6/2021).

Haedar juga menyoroti sejumlah pihak yang mengutip ayat Al-Qur'an secara keliru. Mereka berdalih takut hanya kepada Allah, bukan kepada Covid-19.

"Bahkan ada yang ngutip-ngutip ilmu, agama, menggunakan ayat-ayat yang sejatinya juga tidak pas. 'Kenapa sih takut Covid, takut itu kepada Allah, inna shalati wa nusuki wa maa yahya lillahi rabbil alamin', menggunakan ayat tidak pas itu, tidak di situ tempatnya," imbuh Haedar.

Kritik juga disampaikan Haedar kepada pihak yang terus mempromosikan antivaksin. Haedar menyesalkan ada orang yang menuduh ribuan ahli vaksin di dunia dan tenaga kesehatan sedang bersekongkol melakukan kejahatan.

"Masa ada ratusan bahkan ribuan yang ahli vaksin itu bersekutu untuk kejahatan, itu kan ndak mungkin. Di mana sih rasa tanggungjawab? Karena kalau terus-terusan dikembangkan pandangan anti Covid, anti vaksin itu masyarakat lengah, kemudian mereka yang kerja di rumah sakit tambah berat beban kerjanya dan itu kan tidak mustahil menciptakan disharmoni di kalangan masyarakat," ujar Haedar.

Haedar juga mengkritik pihak-pihak yang melanggengkan kepercayaan konspirasi. Itu didasarkan hanya karena satu dua kesalahan tenaga medis lalu menggeneralisasi kesimpulan dengan stigma pasien-pasien yang sakit atau meninggal dengan status 'dicovidkan'.

"Itu sudah muncul kan? dan itu juga berkembang di lingkungan persyarikatan dan dibeli (ditelan mentah-mentah) itu informasi-informasi yang seperti itu," tutur Haedar.

"Tentu rumah sakit, dokter, tenaga kesehatan punya kelemahan jadi harus terus seksama, tapi juga stigma covidisasi itu harus dihentikan menurut saya karena itu tidak bertanggungjawab," sambung dia.

Dia pun berpesan kepada seluruh dai, tokoh dan pimpinan di Muhammadiyah untuk lebih mencerahkan masyarakat.

"Nah para mubaligh Muhammadiyah dan pimpinan berusaha harus menjadi pencerah dan pencerdas. Jangan ikut-ikutan, menjadi ikut aktivistik stigmatisasi dan covidisasi karena nanti malah tak bertanggungjawab," tegasnya.

Simak video 'Grafik Lonjakan Covid-19 di RI dalam 2 Pekan Terakhir':

[Gambas:Video 20detik]



(knv/imk)