HNW Dorong Kemenag Optimalkan Program Bantuan bagi Santri-Tokoh Agama

Inkana Putri - detikNews
Kamis, 24 Jun 2021 21:33 WIB
Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid
Foto: MPR
Jakarta -

Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid mendorong Kementerian Agama untuk memaksimalkan pelaksanaan program bantuan dan perlindungan bagi santri, kiai, serta tokoh agama di Indonesia. Terlebih saat ini korban kasus COVID-19 telah menembus angka 2 juta dan lebih dari 55 ribu di antaranya meninggal dunia.

Dari 55 ribu korban meninggal, sebagian di antaranya merupakan santri, kiai, dan tokoh agama. Oleh karena itu, HNW meminta agar Kemenag bersinergi dengan Kementerian Kesehatan, Kemendagri dan Satgas Penanganan COVID-19 untuk meningkatkan bantuan.

Selain itu, ia juga mengimbau agar seluruh instansi di daerah bekerja sama dengan Pemerintah Daerah guna mengoptimalkan cakupan bantuan dan vaksinasi bagi santri, kiai, serta tokoh agama.

"Santri, Kiai, dan Tokoh Agama adalah aset pendidikan moral dan keagamaan. Peran mereka dalam perjalanan pembangunan bangsa Indonesia sangat besar. Saat ini banyak diantara santri, kyai dan tokoh agama yang terpapar bahkan meninggal akibat COVID-19. Sewajarnya bila Kementerian Agama lebih serius membantu mereka mengawal pelaksanaan program atasi COVID-19 termasuk vaksinasi dan layanan kesehatan lainnya bagi mereka," ujar Hidayat dalam keterangannya, Kamis (24/6/2021).

Lebih lanjut Wakil Ketua Majelis Syuro PKS ini mengingatkan bahwa paparan COVID-19 di lingkungan santri dan tokoh agama cukup tinggi. Berdasarkan data dari Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag, hingga Desember 2020 setidaknya hampir 5.000 santri dan kiai positif COVID-19.

Sementara itu, data Rabithah Ma'ahid Islamiyah NU menyebutkan setidaknya ada 333 kiai wafat selama pandemi COVID-19 hingga Januari 2021. Bahkan, terdapat juga beberapa ulama yang wafat dari organisasi Muhammadiyah maupun ormas Islam lainnya.

Di samping persoalan bansos, Hidayat juga menyoroti terkait Surat Edaran Menteri Agama yang memperbolehkan memperbolehkan pembelajaran tatap muka terbatas bagi madrasah di selain zona merah. Padahal, menurut Hidayat, zona oranye dan kuning juga memiliki tingkat risiko yang cukup tinggi, terlebih di tengah merebaknya varian Delta saat ini.

Meskipun demikian, Hidayat menyebut hingga saat ini masih belum ada edaran khusus untuk Pondok Pesantren, para santri, kiai dan tokoh-tokoh agama. Padahal kondisi mereka, kata Hidayat, juga serupa dengan kondisi di madrasah.

"Program mengatasi COVID-19 termasuk vaksinasi, mestinya dilakukan tidak hanya bagi madrasah dengan guru dan muridnya, namun juga bagi para santri, siswa, kiai, dan tokoh agama. Karena kondisi mereka serupa dengan madrasah. Apalagi jumlah kiai, santri dan pesantren lebih banyak dari madrasah dan murid-muridnya, ditambah dengan fakta bahwa pesantren, kiai dan santri mempunyai jasa besar bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia, dan turut membantu pemerintah dengan kontribusi nyata dalam pengamalan dan pengawalan Pancasila melalui kehidupan beragama, berpendidikan dan bermasyarakat," ungkapnya.

Terkait hal ini, Hidayat mengimbau Kemenag dapat mengoptimalkan pelaksanaan program bantuan bagi pesantren, kiai dan santri. Adapun program tersebut meliputi program sosial, pendidikan, dan kesehatan melalui penyuluhan, pendampingan, akses ke rumah sakit, dan vaksinasi.

Soal vaksinasi, berdasarkan data Kemenkes, pelaksanaan vaksinasi harian di Indonesia masih di angka 700 ribuan per hari. Angka tersebut masih jauh berada di bawah target Presiden Jokowi, yakni sebesar 1 juta vaksinasi per hari.

Oleh karena itu, Hidayat menilai Kemenag seharusnya dapat bersinergi dengan Kemenkes untuk memprioritaskan vaksinasi bagi santri, kiai, dan tokoh agama. Adapun sinergi ini sebelumnya juga pernah dilakukan oleh Kemenag saat memprioritaskan vaksinasi bagi calon jamaah haji tahun 2021.

"Kemenag pernah sukses menjalin kerja sama dengan Kemenkes saat program vaksinasi calon jamaah haji. Harusnya hal itu dilakukan kembali dalam rangka vaksinasi yang sudah dibenarkan oleh MUI dan Ormas-Ormas Islam seperti NU dan Muhammadiyah, untuk kesehatan santri, kiai, dan tokoh agama,serta keselamatan mereka yang merupakan ajaran penting dalam Agama Islam. Sehingga para kiai dan santri yang sehat dan selamat dari COVID-19 akan dapat melanjutkan peran dan perjuangan dari para ulama dan kiai yang sudah wafat di era COVID-19 ini, untuk makin menguatkan paham Islam yang rahmatan lil alamin, melalui para Ulama dan kadernya yakni Santri yang sehat wal afiat dan selamat," pungkasnya.

(ega/ega)