Muhammadiyah Sesalkan Perusakan Makam di Solo: Hormati Simbol Agama Lain

Isal Mawardi - detikNews
Rabu, 23 Jun 2021 07:18 WIB
Ketua PP Muhammadiyah Prof. Dr. H Dadang Kahmad
Foto: dok. Muhammadiyah
Solo -

Sebuah rumah belajar di Solo, Jawa Tengah, diduga mengajarkan intoleransi dengan merusak sejumlah makam yang berbeda keyakinan. Ketua PP Muhammadiyah, Dadang Kahmad, sangat menyayangkan aksi intoleran tersebut.

"Anak-anak ini (entah) ada yang nyuruh atau inisiatif sendiri tetapi itu juga harus diberi pengertian tentang kerukunan hidup beragama, menghormati simbol-simbol agama lain," ujar Dadang Kahmad ketika dihubungi detikcom, Selasa (22/6/2021).

Dadang tak menginginkan kasus ini berlanjut ke kepolisian. Menurutnya, para guru dan bocah perusak makam tersebut cukup diberi pengertian.

"Kita perlu pendidikan masyarakat tentang kerukunan hidup beragama itu penting. Mereka jangan menganggap benar sendiri lalu melakukan intimidasi perlakuan diskriminasi termasuk perusakan simbol-simbol agama lain," terang Dadang.

Gibran Rakabuming Raka saat meninjau lokasi makam yang dirusak.Gibran Rakabuming Raka saat meninjau lokasi makam yang dirusak. Foto: Dok. Pemkot Solo

10 Bocah Rusak 12 Makam

Seperti diketahui, perusakan dilakukan sekitar 10 anak di TPU Cemoro Kembar, Kelurahan Mojo, Kecamatan Pasar Kliwon, Solo, pada 16 Juni 2021. Mereka merusak batu nisan pada 12 makam. Anak-anak tersebut diketahui sebagai anak didik sebuah rumah belajar yang tak jauh dari makam.

Wali Kota Solo Gibran Rakabuming mengatakan proses hukum bakal dilakukan kepada guru dan anak-anak tersebut.

"Nanti kita proses. Nggak bisa dibiarkan seperti itu. Apalagi pendidikan ke anak yang masih kecil. Ya semua (diproses hukum), pembina dan anak-anaknya harus dibina. Ini sudah kurang ajar sekali," kata Gibran saat meninjau lokasi makam, Senin (21/6/2021).

Sementara itu polisi telah memeriksa 6 pengasuh rumah belajar tersebut. Dari hasil asesmen, polisi merekomendasikan bahwa 39 siswa yang selama ini belajar di kuttab (rumah belajar) untuk dilakukan konseling.

"Mengembalikan pada ajaran-ajaran yang disyariatkan oleh agama, tidak melenceng bisa menyikapi dengan baik. Agar semuanya bisa berjalan dengan baik," ujar Kapolresta Solo Kombes Ade Safri Simanjuntak.

Simak video 'Gibran Geram Belasan Makam di Solo Dirusak, Pelaku di Bawah Umur':

[Gambas:Video 20detik]



(isa/knv)