Bocah di Solo Rusak Makam, PBNU Ingatkan Hargai Perbedaan Keyakinan

Isal Mawardi - detikNews
Rabu, 23 Jun 2021 05:45 WIB
Sekjen Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Helmy Faishal Zaini
Sekjen Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Ahmad Helmy Faishal (Foto: Jefrie Nandy/detikcom)
Solo -

Sekjen Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Ahmad Helmy Faishal angkat bicara soal kasus perusakan makam di Solo, Jawa Tengah. Menurutnya, masyarakat perlu mengedepankan toleransi sesuai yang diajarkan oleh para pendiri bangsa sebagaimana tercermin dalam bhinneka tunggal ika.

"Pada prinsipnya segala aktivitas yang memiliki dampak merugikan pihak lain dilarang oleh agama. Agama mengajarkan kita untuk menghormati perbedaan keyakinan," terang Helmy, Selasa (22/6/2021).

"Terhadap hal-hal yang berbeda, agama mengajarkan dialog. Bukan menghakimi, menyerang, dan berlaku kasar. Apalagi berbuat yang bisa merugikan pihak lain. Intinya ajaran agama tidak membenarkan sikap intoleran," lanjutnya.

Helmy menyerahkan sepenuhnya proses hukum kasus perusakan makam di Solo itu kepada aparat. PBNU menghormati segala proses hukum.

"Kami juga secara khusus meminta masyarakat untuk tetap tenang, tidak terprovokasi dan berbuat hal yang di luar koridor hukum," pungkas Helmy.

10 Bocah Rusak 12 Makam

Seperti diketahui, perusakan makam diduga dilakukan oleh sekitar 10 anak di TPU Cemoro Kembar, Kelurahan Mojo, Kecamatan Pasar Kliwon, Solo, pada 16 Juni 2021. Mereka merusak batu nisan pada 12 makam. Anak-anak tersebut diketahui sebagai anak didik sebuah rumah belajar yang tak jauh dari makam.

Wali Kota Solo Gibran Rakabuming mengatakan proses hukum bakal dilakukan kepada guru dan anak-anak tersebut.

"Nanti kita proses. Nggak bisa dibiarkan seperti itu. Apalagi pendidikan ke anak yang masih kecil. Ya semua (diproses hukum), pembina dan anak-anaknya harus dibina. Ini sudah kurang ajar sekali," kata Gibran saat meninjau lokasi makam, Senin (21/6/2021).

Sementara itu polisi telah memeriksa 6 pengasuh rumah belajar tersebut. Dari hasil asesmen, polisi merekomendasikan bahwa 39 siswa yang selama ini belajar di kuttab (rumah belajar) untuk dilakukan konseling.

"Mengembalikan pada ajaran-ajaran yang disyariatkan oleh agama, tidak melenceng bisa menyikapi dengan baik. Agar semuanya bisa berjalan dengan baik," ujar Kapolresta Solo Kombes Ade Safri Simanjuntak.

Simak video 'Gibran Geram Belasan Makam di Solo Dirusak, Pelaku di Bawah Umur':

[Gambas:Video 20detik]



(isa/knv)