Kiprah Pengungsi Ambon di Buru

Kiprah Pengungsi Ambon di Buru

- detikNews
Minggu, 19 Mar 2006 15:00 WIB
Namlea - Siapa bilang para pengungsi hanya menjadi beban bagi warga dan pemerintah daerah penampungnya? Kenyataan yang terjadi di Pulau Buru di Maluku justru membuktikan hal sebaliknya. Para pengungsi korban kerusuhan Ambon justru menjadi motor penggerak kegiatan pemerintahan dan perekonomian di kabupaten-kabupaten baru hasil pemekaran wilayah tersebut. Gelombang pengungsi Ambon yang rata-rata warga pendatang mulai berdatangan pada sekitar pertengahan tahun 2000. Sebagian besar berprofesi sebagai PNS di jajaran pemerintah daerah Maluku, pedagang dan pengusaha lokal. Layaknya 'doktrin' perantauan yang dianutnya, mereka pun pantang kembali ke tanah kelahirannya di Jawa, Sumatera atau Sulawesi dalam keadaan 'kalah'. Mereka memilih membangun kembali keluarganya di Buru dan pulau-pulau lain di sekitarnya. Salah satunya adalah Herwin, yang menjabat Kepala Badan Pengawasan Daerah (Bawasda) Buru. Pria kelahiran Makassar ini minta dipindahtugaskan dari Pemprov Maluku karena tidak lagi merasa aman di Ambon. Permintaannya tersebut langsung diluluskan, karena memang kebetulan ketika itu ada lima kabupaten baru yang dibentuk di wilayah Maluku. Ia pun ditempatkan di Kabupaten Buru, sementara ratusan sejawatnya tersebar di Seram Barat, Seram Timur, Maluku Tengah Barat dan Aru. Berbekal pengalaman menjalankan roda pemerintahan daerah, mereka menjadi pembantu utama bagi para bupati di kabupaten-kabupaten baru di tengah laut Banda itu. "Penduduk sangat welcome pada kami. Di sini aman dari segala hal," ujar Herwin penuh kelegaan. Demikian juga dengan dunia usaha. Berbekal sisa harta yang berhasil diselamatkan, para pengusaha Ambon yang mengungsi ke Buru merintis kembali kerajaan bisnisnya dari nol. Ada yang membuka bengkel, rumah makan, toko kelontong, atau mobil dan sepeda motor untuk difungsikan sebagai angkutan umum. Dalam waktu kurang dari setahun, kegigihan mereka mulai menampakkan hasil. Bisa dikatakan saat ini, praktis mereka telah menguasai jaringan bisnis bidang usahanya masing-masing di Buru dengan pulau lain di sekelilingnya. Mulyani (44) misalnya. Wanita asal Banyuwangi, Jawa Timur, ini sukses menjadikan Citra Wangi yang ia dirikan menjadi salah satu rumah makan paling diburu penggemar ayam goreng di Namlea, ibukota Kabupaten Buru. Juga Basroni, asal Bukit Tinggi, Sumatera Barat. Rumah makan Padangnya yang berada persis di depan Kantor Bupati Buru itu setiap harinya rata-rata menghasilkan pendapatan bersih Rp 1,5 juta. Atau Sigit. Bersama sang adik, pria asal Madura ini mengelola sebuah bengkel sepeda motor dan toko bahan bangunan yang terlihat ramai pelanggan. "Ya memang belum jadi juragan gede, tapi ya ini sudah lumayan, Mas," ujarnya bangga. Melihat optimisme yang terpancar, tidak berlebihan bila kerja keras para pengungsi ini akan membawa Buru menjadi kekuatan ekonomi baru di Indonesia Timur. (nrl/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads