Arti Akad Menurut Bahasa dalam Hukum Islam

Kristina - detikNews
Rabu, 23 Jun 2021 06:05 WIB
Akad nikah is Islamic prenuptial agreement. Indonesian’s weddingAkad nikah is Islamic prenuptial agreement. Indonesian’s wedding (Islamic marriage)
Foto: Getty Images/iStockphoto/Nanang Sholahudin
Jakarta -

Dalam Islam, seringkali terdengar kata akad. Baik dalam kegiatan jual beli maupun dalam acara pernikahan. Apa artinya akad?

Akad tidak lepas dari pembahasan fikih muamalah. Allah SWT telah memerintahkan hamba-Nya untuk memenuhi akad sebagaimana termaktub dalam QS. Al Maidah ayat 1 sebagai berikut:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَوْفُوا۟ بِٱلْعُقُودِ ۚ أُحِلَّتْ لَكُم بَهِيمَةُ ٱلْأَنْعَٰمِ إِلَّا مَا يُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ غَيْرَ مُحِلِّى ٱلصَّيْدِ وَأَنتُمْ حُرُمٌ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ يَحْكُمُ مَا يُرِيدُ

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu. Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya." (QS. Al Maidah: 1).

Akad berasal dari kata al-'Aqd yang merupakan bentuk masdar dari kata 'Aqada dan jamaknya adalah al-'Uqud yang artinya perjanjian (yang tercatat) atau kontrak. Menurut Ensiklopedi Hukum Islam, kata al-'aqd artinya perikatan, perjanjian, dan permufakatan (al-ittifaq).

Dalam Jual Beli Online Ibnu Taimiyah oleh Ariyadi dijelaskan, akad menurut bahasa adalah pertalian yang mengikat. Adapun, menurut istilah, Wahbah Zuhailiy dalam kitabnya al-Fiqh al-Islami wa Ad'illatuh menerangkan, akad adalah hubungan atau keterikatan antara ijab dan qabul atas diskursus yang dibenarkan oleh syara' dan berimplikasi pada hukum tertentu.

Para fuqaha mendefinisikan akad sebagai perikatan antara ijab dan qabul yang dibenarkan syara', yang menetapkan persetujuan kedua belah pihak. Ijab merupakan permulaan penjelasan yang keluar dari salah seorang yang berakad. Sedangkan, qabul adalah jawaban dari pihak lain (pihak kedua) setelah adanya ijab.

Rukun Akad

Dalam fikih muamalah dijelaskan bahwa rukun adalah salah satu unsur yang membentuk terjadinya akad. Dikutip dari buku Pendidikan Agama Islam Fikih untuk MA kelas X oleh Djedjen Zainuddin, rukun akad terdiri dari 5 hal.

1. Aqid

Aqid yaitu orang yang melakukan akad. Seorang akid haruslah memenuhi keempat syarat yang telah ditetapkan, di antaranya balig, berakal, kedua belah pihak cakap berbuat, dan atas kehendaknya (tidak dipaksa).

2. Benda yang menjadi objek akad.

Objek akad harus nyata. Benda tersebut juga bukanlah benda terlarang oleh syara' dan bukan milik pihak lain.

3. Tujuan dan maksud pokok akad

Dalam akad, harus ada tujuan dan maksud yang jelas. Apakah akad tersebut untuk jual beli, hibah, atau yang lainnya.

4. Ijab

5. Qabul

Dalam ijab dan qabul ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Di antaranya harus terang pengertiannya menurut 'urf (kebiasaan), harus sesuai antara ijab dan qabul, dan memperhatikan kesungguhan dari pihak-pihak yang bersangkutan (tidak ragu-ragu).

Adapun, jumhur ulama berpendapat bahwa rukun akad mencakup tiga hal, yaitu Al-'Aqidain (pihak-pihak yang berakad), Ma'qud 'Alaih (objek akad), dan Sighat al-'Aqd (pernyataan untuk mengikatkan diri).

Simak juga 'Bertemu Sekjen IIFA, PBNU Bahas Soal Fatwa-Islam Moderat':

[Gambas:Video 20detik]



(nwy/nwy)