Jangan Sampai Insiden Abepura Terulang di Cepu

Jangan Sampai Insiden Abepura Terulang di Cepu

- detikNews
Minggu, 19 Mar 2006 12:40 WIB
Jakarta - Insiden demonstrasi disertai kekerasan menolak Freeport di depan kampus Universitas Cendrawasih (Uncen), Abepura, Papua, sungguh menampar hati kita. Jangan sampai insiden yang menewaskan 4 aparat, dan berdampak tertembaknya 3 perempuan warga sipil dan sejumlah jurnalis -- korban susulan kemarahan oknum Brimob -- terulang di kawasan Blok Cepu.Kekhawatiran munculnya kekerasan di kawasan Blok Cepu bisa dipahami mengingat ladang minyak itu saat ini tengah jadi buah bibir. Terpilihnya ExxonMobil sebagai lead operator Blok Cepu melahirkan kekecewaan sejumlah tokoh nasional. Tak cuma tokoh di Jakarta saja yang tidak puas. Warga di luar kota Blok Cepu juga gregetan. Bahkan ratusan warga di luar Blok Cepu ini ngeluruk ke Blok Cepu pada Minggu (19/3/2006). Gosip yang beredar, jumlahnya 10.000-an orang. Mereka berasal dari Solo, Semarang, dsb. Mereka menumpang motor dan berangkat dari Solo. Hingga pukul 11.30 WIB, mereka telah sampai di Boyolali. Ketua rombongan, Khalid Saefudin mengklaim, rombongan yang ikut bersamanya ada 250 orang. Saat ini mereka tengah dicegat polisi di depan Polres Boyolali.Mereka bermaksud menduduki Blok Cepu selama tiga hari sebagai bentuk protes atas jatuhnya ladang minyak itu pada ExxonMobil sebagai panglima eksplorasi.Sementara itu, masyarakat di sekitar Blok Cepu -- utamanya di Bojonegoro-- tengah bersiaga. Mereka siap menghadang massa dari luar kota itu. Mereka bergerombol, mendirikan tenda dan siap menumbangkan pepohonan guna memblokir massa luar kota.Saking khawatirnya terjadi bentrokan kedua massa, pengelola kursus Bahasa Inggris dan kursus komputer gratis LSM Garis Tepi bekerjasama dengan ExxonMobil di Kecamatan Kalitidu (Bojonegoro), memutuskan menyimpan plang nama mereka. Mereka khawatir menjadi sasaran amuk massa anti-Exxon.Polisi Bojonegoro juga telah siapa penuh. Sekitar 1.000 polisi disiagakan. Dua SSK di antaranya diterjunkan di kawasan perbatasan Bojonegoro-Blora."Kami sudah bosan dengan kemiskinan. Kami ingin sejahtera. Tolonglah tokoh politik tidak memolitisasi hal ini," pinta Parmani, Ketua Forum Komunikasi Masyarakat Banyuurip (salah satu sumur minyak Blok Cepu) pada detikcom.Di lain pihak, Khalid Saefuddin, pemimpin demonstran anti-Exxon, menjamin aksi demonya takkan memicu anarkisme. "Kami tak mau ditunggangi kelompok politik tertentu. Kami hanya menyuarakan cinta tanah air dan nasionalisme," tegas Khalid. (nrl/)


Berita Terkait