Pulau Buru Yang Baru
Minggu, 19 Mar 2006 02:22 WIB
Buru - Bumi Untuk Rakyat Maju, demikian akronim yang diberikan oleh Presiden Susilo B. Yudhoyono (SBY) untuk nama Buru. Sebuah pulau yang kita kenal dalam sejarah sebagai tempat pengasingan bagi tahanan politik (tapol). "Kita ingin menghapus kesan sejarah lama. Ini tanah harapan. Ini tanah masa depan," kata Presiden di sela acara panen raya di Pulau Buru, Maluku, Sabtu (18/3/2006). Langkah yang dirintis mengubah "kesan lama" adalah menjadikan salah satu terbesar di kepulauan Maluku sebagai lumbung beras Indonesia Timur. Pemerintah sendiri sudah membuka dua ribu hektar sawah baru di Buru. Areal seluas itu merupakan 45 persen dari total luas lahan persawahan yang ada. Kini setiap kali panen raya, petani Buru menghasilkan 29 ribu ton beras. Hingga lima tahun mendatang, diharapkan jumlah beras yang dihasilkan mencapai 130 ribu ton. Ini bukan target yang mustahil, sepanjang rencana pembukaan lahan persawahan baru dan pembangunan jaringan irigasi teknis termasuk bendungan berjalan sesuai jadwal. "Ini tempat dimulainya pembangunan kembali ekonomi di Maluku pasca konflik," kata SBY dengan nada optimis akan tercapainya target itu. Berkat Tapol Tidak bisa dipungkiri perubahan wajah Buru dari sebuah pulau yang bukitnya melulu dihampari savanna menjadi lahan produktif, merupakan buah dari cucuran keringat dan darah para tapol. Para "kaum buangan" inilah yang justru layak menyandang predikat pahlawan perintis pembangunan Buru. Sepanjang akhir tahun 60-an sampai akhir 70-an, merekalah yang mengolah rawa-rawa dan tanah kering di punggung-pungung bukit menjadi sawah dan ladang. Misalnya saja Desa Mako Kec. Waeapo, yang menjadi tempat dipusatkannya acara panen raya. Semulah desa ini merupakan salah satu dari 32 unit tempat pemukiman bagi para tapol. Nama Mako itu sendiri merupakan kependekan dari Markas Komando yang dulu berdiri di sana untuk "membina" para tapol. Para tapol pula yang ditengah segala macam keterbatasan, membangun infrastruktur jalan, produksi pangan, kesehatan dan pendikan. Fasilitas sederhana yang semula untuk penuhi kebutuhan sendiri, di kemudian hari ternyata amat berjasa membantu tingkatkan kualitas hidup keluarga penduduk asli dan tranmigran yang datang di era 80-an. Saat pemerintah membebaskan tapol, banyak diantara mereka menolak kembali ke Jawa. Selain karena sanak keluarga yang telah tercerai berai tak tahu rimbanya, mereka rupanya punya ikatakan bathin lebih kuat dengan Buru dibanding dengan tanah kelahirannya. Mereka yang memilih menetap dan membangun keluarga baru, kemudian membentuk komunitas di sebuah desa baru yang dinamakan Savana Jaya. Desa para tapol ini justru paling yang paling produktif di antara desa-desa lainnya di 8 kecamatan di Buru. Bukan hanya dari segi hasil pertanian, tapi juga sumber daya manusia. Memang anak keturunan para tapol tidak ada yang berkarier sebagai PNS. Tapi menjadi petani atau pedagang yang sukses menggerakkan roda ekonomi Buru. Banyak pula yang telah menempuh pendidikan tinggi dan kini bekerja di berbagai perusahaan besar multinasional.
(ddn/)











































