Membedah Fenomena Pengantar Jenazah Bertindak Arogan

Eva Safitri - detikNews
Senin, 21 Jun 2021 07:56 WIB
Sejumlah tenaga medis mengantar pasien COVID-19 dengan ambulans di kawasan Rumah Sakit Darurat COVID-19 Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta, Rabu (2/6).
Ilustrasi ambulans (Pradita Utama/detikcom)
Jakarta -

Fenomena pengantar jenazah bertindak arogan berujung kekerasan bukan hanya sekali terjadi. Fenomena ini kerap terjadi beberapa kali, bahkan hingga merugikan pengendara lain di jalan.

Sosiolog Universitas Nasional, Sigit Rohadi, pada umumnya pengiring jenazah itu umumnya merasakan suasana duka atas kepergian orang yang ditinggalkan. Sikap emosional sudah terjadi ketika dari rumah, sehingga ketika ada sesuatu yang tidak diinginkan di jalan, emosinya pun memuncak menjadi amarah.

"Mereka dalam suasana duka maka mereka tak bisa mengendalikan diri, perubahan sikap menjadi emosional itu karena emosinya sejak sudah dari rumah, sejak ditinggal sama orang dihormati itu sudah emosi, ketika ada sesuatu di jalan itu menjadi pemicu kemarahan," kata Sigit, kepada wartawan, Minggu (20/6/2021).

Menurut Sigit, mengantar jenazah itu merupakan penghormatan terakhir atas kepergian seseorang. Ada yang beranggapan mengantar jenazah itu ibarat memanjatkan doa. Jadi, mereka yang mengantar jenazah itu berharap prosesnya berjalan baik sampai ke liang kubur.

"Jadi membawa jenazah ke liang kubur itu merupakan penghormatan terakhir terhadap almarhum atau almarhumah, semua orang yang membawa jenazah ke kubur baik itu jalan kaki maupun naik kendaraan. Mereka menyebutkan atau mereka melakukan doa-doa sesuai dengan ajaran dan kepercayaan mereka, jadi mereka ingin karena sedang berdoa karena melakukan penghormatan terakhir mereka ingin diprioritaskan di jalanan," ujarnya.

"Kalau ada kendaraan atau apa pun yang dianggap mengganggu perjalanan jenazah itu pasti terjadi perkelahian pasti terjadi kekerasan, karena dianggap kesakralan dia membawa jenazah itu terganggu," lanjut Sigit.

Lebih lanjut, Sigit berharap masyarakat juga harus mengerti jika ada ambulans pengantar jenazah segera membuka jalan. Hal itu, menurutnya, sudah menjadi etika di jalan.

"Saya kira masyarakat kita semuanya menghormati almarhum atau almarhumah atas kepergiannya. Itu yang terjadi dimana-mana, jadi kenapa marah ya karena perjalanannya diganggu, meskipun yang mengganggu itu nggak sengaja. Jadi kalau ada ambulans semuanya harus minggir ini memang etika berkendara di jalan," ucapnya.

Sopir Truk Dianiaya

Peristiwa merugikan para pengantar jenazah itu terhadap pengendara lain memang kerap terjadi. Seperti baru-baru ini beredar video di media sosial memperlihatkan sebuah truk kontainer di Marunda, Cilincing, Jakarta Utara (Jakut), dirusak dan sopirnya dianiaya oleh sekelompok orang pengiring jenazah. Polisi turun tangan menyelidiki peristiwa tersebut.

Dalam video, terlihat bahwa sekelompok orang tersebut menghentikan laju kontainer yang dianggap menghalangi jalan. Gerombolan pengantar jenazah itu marah-marah hingga melakukan pemukulan terhadap sopir kontainer.

Sekelompok pengantar jenazah itu tampak mengerubungi truk sambil menggebrak-gebrak mobil bagian depan. Tiba-tiba ada seseorang memukul bagian kaca depan truk hingga pecah.

Polisi telah menerima laporan terkait adanya perusakan serta penganiayaan terhadap sopir kontainer di Jakut. Kapolsek Cilincing Kompol Eko Setio menyebut pihaknya tengah melakukan penyelidikan.

"Petugas kita, Reskrim langsung melakukan penyelidikan untuk mencari tahu segerombolan orang ini yang melakukan perusakan atau pemukulan terhadap supir tersebut," ujar Eko Setio saat dihubungi detikcom, Minggu (20/6/2021).

Simak video 'Blak-blakan, Ugal-ugalan Mobil Mewah & Pengantar Jenazah':

[Gambas:Video 20detik]



(eva/isa)