Sosiolog: Peran Keluarga Penting bagi Penderita COVID agar Tak Depresi

Eva Safitri - detikNews
Senin, 21 Jun 2021 06:53 WIB
Ilustrasi bunuh diri dari atas gedung
Ilustrasi (Mindra Purnomo/detikcom)
Jakarta -

Seorang wanita melompat dari lantai 3 rumahnya di Tambora karena diduga stres terpapar COVID-19. Sosiolog bicara pentingnya peran keluarga bagi penderita COVID.

Guru besar bidang sosiologi bencana dari Universitas Teknologi Nanyang Singapura, Prof Sulfikar Amir, mengatakan depresi memang menjadi dampak sampingan dari COVID-19 di seluruh negara. Meskipun penanganan COVID-19 di suatu negara itu baik.

"Memang kalau kita lihat depresi salah satu dampak sampingan dari COVID ini terjadi di mana-mana, meski penanganan pandemi yang baik tetap saja ada dampak psikologis yang dialami masyarakat," kata Amir kepada wartawan, Minggu (20/6/2021).

Dia mengatakan depresi terjadi karena kurangnya dukungan sosial dari orang terdekat. Sehingga suasana batin seseorang itu akan merasakan kesepian dan terasingkan di tengah penyakit yang dideritanya.

"Ini bisa terjadi karena kurangnya atau tidak adanya dukungan sosial dari orang terdekat. Jadi ini masalah sosial karena individu yang rentan yang membutuhkan sokongan dari kerabat tapi tidak mendapatkan itu dan akhirnya depresi menjadi parah dan bisa berakhir dengan suasana batin yang sangat putus asa, sudah kehilangan makna hidup, ya bunuh diri adalah satu satunya jalan," ujarnya.

"Biasanya pikiran bunuh diri itu terjadi ketika seorang individu sudah benar-benar putus asa dan sudah merasa sendiri sudah tidak punya teman, sudah merasa terasingkan, dan itu bisa jadi karena dirinya sendiri juga karena itu butuh intervensi dari orang sekitar, jadi peran komunitas dan keluarga itu sangat krusial," lanjut Amir.

Amir mengatakan berdasarkan penelitian yang ada, keinginan bunuh diri dapat menular bagi sesama penderita depresi. Salah satu yang terpenting untuk mencegah yakni harus ada dukungan sosial dari keluarga atau kerabat terdekat.

"Jadi memang ini bisa menjadi nular juga, jadi bunuh diri itu suatu perilaku yang bisa menular. Satu-satunya cara untuk menghindari ini adalah mendorong adanya dukungan sosial yang diberikan orang sekitar," ujarnya.

Lebih lanjut, menurut Amir, dukungan lain juga bisa dilakukan oleh pemerintah setempat. Amir mengatakan pemerintah bisa menyediakan layanan khusus bagi penderita depresi.

"Tapi dia bisa difasilitasi oleh pemerintah, jadi pemerintah bisa menyediakan layanan khusus kepada warga negara yang mengalami depresi karena COVID, dan mereka bisa memberikan bimbingan konseling atau bantuan medis supaya depresi ini bisa dikurangi atau dimitigasi," ujarnya.

Simak video 'Ini yang Dialami Pasien Usai Sembuh dari COVID-19':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2