Round-Up

Buka-bukaan Novel Baswedan soal Isu Taliban hingga Anies Baswedan

Tim detikcom - detikNews
Senin, 21 Jun 2021 06:05 WIB
Tentang Novel Baswedan, Penyidik Top KPK tapi Dibuang Gara-gara TWK
Novel Baswedan (Foto: Ari Saputra/detikcom)

Novel Tuding Firli Paksakan TWK karena di KPK Banyak Taliban

Novel Baswedan membeberkan kronologis awal mula adanya TWK pegawai KPK. Novel menyebut Ketua KPK Firli Bahuri memaksakan agar TWK ini dilakukan sebagai syarat pegawai KPK beralih status menjadi ASN.

Novel mengatakan sebetulnya Firli tidak memakai istilah TWK dalam rapat pertemuan dengan beberapa pimpinan. Menurutnya, kala itu Filri menggunakan istilah asesmen oleh psikologi TNI AD untuk semua pegawai yang akan alih status ASN.

"Bahkan Pak Firli mengatakan dalam pertemuan itu, dalam pertemuan rapat dengan pimpinan, meminta agar dilakukan istilahnya bukan TWK, waktu itu belum nyebut TWK, dilakukan asesmen di psikologi TNI AD, itu permintaannya Pak Firli sendiri," ucapnya.

Menurut Novel, ada tanya jawab mengapa harus ada TWK dalam proses peralihan status pegawai KPK menjadi ASN. Kemudian, lanjut Novel, Firli pun menjawab bahwa TWK perlu dilakukan karena pegawai KPK banyak yang Taliban.

"Dan kemudian diminta agar, kenapa perlu dilakukan itu, Pak Firli mengatakan karena di KPK banyak 'Taliban'. Jadi pertanyaannya kenapa Pak Firli ngomong gitu ini," ujarnya.

Novel Ungkap Keluh Kesah 4 Pimpinan KPK

Novel Baswedan secara terang-terang membuka keluh kesah 4 pimpinan KPK yang merasa terganggu dengan sikap satu pimpinan. Novel pun mengatakan siap mempertanggungjawabkan ucapannya itu.

"Masalahnya gini, di KPK, itu beberapa pimpinan sering berkeluh kesah dengan kami termasuk dengan saya, itu fakta, saya bicara fakta dan saya siap bertanggung jawab dengan yang saya katakan, bertemu dengan yang bersangkutan pun saya berani katakan karena saya sedang tidak mengada-ngada," kata Novel dalam siaran langsung di kanal YouTube Public Virtue Institute, Minggu (20/6).

Novel mengungkap ada pula tokoh di luar KPK yang berkeluh kesah mengenai adanya sosok pemimpin KPK yang dominan. Dia mengatakan yang terjadi di KPK, kata 4 pimpinan itu, seringkali ingin melakukan sesuatu tapi karena satu pimpinan itu menolak maka tidak bisa terlaksana.

Saat ditanya oleh moderator perihal siapa satu pimpinan itu, Novel tidak mau menyebutkan secara gamblang. Namun, Novel memberikan satu bocoran bahwa pimpinan itu adalah orang yang belakang ini sering disebutkan dalam beberapa pemberitaan.

"Yang sering disebut orang belakangan ini lah," katanya.

Novel mengatakan 4 pimpinan KPK ini berkeluh kesah sulitnya mengambil keputusan di KPK. Dia menyebut 4 pimpinan KPK itu pun seringkali merasa terganggu karena dinamika pengambilan keputusan.