Bareskrim: Pinjol Rp Cepat Kerap Sebar Foto Vulgar Nasabah di Medsos

Adhyasta Dirgantara - detikNews
Jumat, 18 Jun 2021 14:47 WIB
Pinjam Online Abal-abal
Foto: Ilustrasi aplikasi pinjam online ilegal (Fauzan Kamil/Infografis detikcom)
Jakarta -

Bareskrim Polri mengungkapkan aplikasi pinjaman online (pinjol) ilegal Rp Cepat kerap menyebarkan foto vulgar untuk menagih para nasabah. Foto tersebut disebar ke teman hingga keluarga nasabah.

"Ada beberapa korban yang hanya meminjam uang beberapa ribu saja, kemudian diteror dengan foto-foto yang vulgar dengan menginformasikan ke teman-teman, keluarganya (melalui medsos)," ujar Wakil Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri, Kombes Whisnu Hermawan Februanto dalam jumpa pers di Mabes Polri, Kamis (17/6/2021).

Whisnu menyampaikan pelaku pinjol bisa mendapatkan foto vulgar nasabah dengan cara mengakses data pribadi milik korban. Data pribadi tersedot ketika nasabah melakukan pendaftaran untuk mengajukan pinjaman di aplikasi.

Lebih lanjut, kata Whisnu, banyak korban yang stres dengan modus tersebut. Terlebih, Rp Cepat mematok bunga yang tinggi terhadap uang yang dipinjam nasabah sehingga mereka kesulitan membayar.

"Ada yang sampai stres akibat pinjaman yang tidak benar ini," ucap Whisnu.

Sementara itu, Kasubdit V Direktorat Tindak Pidana Khusus Bareskrim Polri, Kombes Ma'mun menjelaskan beberapa tindakan yang dilakukan oleh Rp Cepat seringkali berujung pada fitnah terhadap korban. Ma'mun juga heran soal cara pelaku mencuri data pribadi nasabah saat mendaftarkan diri.

"Begitu anda akses, anda 'ya' melakukan pinjaman, anda acc semua ketentuan segala macamnya, itu data anda di dalam HP itu daftar kontak, disedot sama mereka. Secara, saudara-saudara mereka (korban) ini banyak dikasihi tagihannya. Bahkan ada yang lebih kasar lagi, sedang kami selidiki lebih jauh, sudah fitnah sifatnya," kata Ma'mun dalam kesempatan yang sama.

"Mungkin teman-teman juga ada pernah 'nomor gua kok nggak bisa dipakai ya'. Ini berarti mungkin datanya lagi diambil," sambungnya.

Dengan demikian, Ma'mun menyebut kerugian nasabah Rp Cepat justru lebih tinggi secara sosial karena para pelaku mempermalukannya. Menurutnya, kerugian uang yang diderita nasabah tidak sebesar kerugian sosial.

"Jumlah korban secara sosial itu jauh lebih tinggi dibanding jumlah kerugian yang ditimbulkan satu per satu korban itu," imbuh Ma'mun.

Diketahui, Bareskrim Polri menangkap 5 pelaku pinjol ilegal Rp Cepat. Mereka dilaporkan karena melakukan teror terhadap nasabah dengan cara mencuri data pribadi untuk disebarkan.

(aud/aud)