Gimana Biar Royalti Musik Naik? Ini Jawaban LMKN

Khoirul Anam - detikNews
Kamis, 17 Jun 2021 23:48 WIB
DJKI
Foto: DJKI
Jakarta -

Perolehan royalti lagu dan/atau musik sebagai bagian dari ekosistem industri musik dinilai bukan perkara mudah. Komisioner Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN), Adi Adrian, mengungkapkan bahwa potensi perolehan royalti lagu dan/atau musik dalam negeri saat ini cukup besar. Menurutnya, pencapaian royalti lagu dan/atau musik sejak tahun 2016-2019 menunjukkan peningkatan yang signifikan sejak LMKN menjalankan tugasnya.

"Bila kita bandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia misalnya, lembaga serupa di negeri Jiran tersebut telah berhasil mengumpulkan royalti hingga Rp 350 miliar. Demikian juga dengan Jepang, di mana Lembaga pengumpul royaltinya telah berhasil meraup pembayaran royalti hingga mencapai Rp 2 triliun," terang Adi dalam keterangan tertulis, Kamis (17/6/2021).

Adi menambahkan bahwa pihaknya harus bekerja keras agar potensi perolehan royalti dapat menyamai negara-negara tetangga.

"Pada hari ini terdapat delapan LMK di Indonesia yang menaungi para anggotanya, di antaranya adalah KCI, RAI, WAMI, SELMI, PAPPRI, ARDI, ARMINDO, dan SMI," katanya.

Sebagai informasi, pendapatan/perolehan royalti lagu dan/atau musik didasarkan pada tarif royalti yang telah ditetapkan pemerintah melalui Keputusan Menteri Hukum dan HAM Nomor HKI.2-OT.03.01-02 Tahun 2016 Tentang Pengesahan Tarif Royalti untuk Pengguna yang melakukan Pemanfaatan Komersial Ciptaan dan/atau Produk Hak Terkait Musik dan Lagu. Besaran tarif royalti dalam keputusan ini ditetapkan secara proporsional dan didasarkan pada best practice yang telah berlaku di Indonesia. Adapun besaran tarif tersebut dapat dikatakan paling rendah jika dibandingkan dengan praktik di negara lain.

"Seperti di India misalnya, pemerintah menetapkan tarif royalti atas penggunaan karya lagu dan/atau musik pada sebuah hotel dihitung per kamar per hari sebesar 2,25 rupe (Rp 438) kemudian dikalikan 365 hari. Satu kamar hotel dengan harga sewa per malam 3000 rupee akan dikenakan beban royalti sebesar Rp 159.870 per kamar per hari. Kemudian tinggal dikalikan, berapa hotel tersebut memiliki kamar hotel," papar Adi.

Lebih lanjut, kata Adi, bila kamar hotel mencapai 25 kamar, maka per tahun pengusaha hotel di India akan dikenakan beban royalti sebesar Rp 3.996.750. Sementara di Indonesia, menurutnya, untuk tarif royalti lagu dan/atau musik bagi hotel dengan jumlah kamar 1-50, hanya Rp 2.000.000 per tahun.

Di sisi lain, Adi juga menyatakan bahwa perkembangan dunia digital membawa dampak positif, khususnya bagi ekosistem royalti dan industri lagu dan/atau musik pada umumnya.

"Etalase musik digital seperti YouTube, Spotify, iTunes, Audiomax, Pandora dan lainnya merupakan platform digital yang seharusnya menjadi potensi dalam perolehan hak cipta atas karya lagu dan/atau musik," lanjut dia.

Berkenaan dengan hal tersebut, kata Adi, pihaknya akan mengambil inisiatif dalam hal penetapan tarif digital dan pengumpulan royalti agar terjadi peningkatan pendapatan royalti pada akhir tahun 2021.

Adi mengakui bahwa LMKN ke depan tentunya penuh dengan tantangan. Oleh karena itu, pihaknya berupaya menggandeng seluruh pemangku kepentingan royalti lagu dan/atau musik baik dari dalam maupun luar negeri agar para Pencipta, Pemegang Hak Cipta dan Pemilik Hak Terkait dapat merasakan manfaat dari karya cipta lagu dan/atau musiknya.

Menurutnya, LMKN sangat memerlukan dukungan bersama dari seluruh pihak agar kegiatan pengumpulan dan pendistribusian dapat berjalan berdasarkan prinsip-prinsip yang benar dalam pengelolaan (manajemen) royalti lagu dan/atau musik.

(mul/mpr)