Gojek Ciptakan Standar Keberlanjutan Baru di Industri Teknologi RI

Nadhifa Sarah Amalia - detikNews
Kamis, 17 Jun 2021 21:12 WIB
Gojek
Foto: Gojek
Jakarta -

Seiring dengan tantangan sosial dan lingkungan yang kian kompleks seperti pengolahan sampah, permasalahan emisi, pandemi COVID-19 hingga perubahan iklim, perusahaan diharapkan dapat berperan aktif dalam menjaga keseimbangan antara aktivitas bisnis dan upaya menjaga keberlanjutan dengan memperhatikan aspek Environmental, Social and Governance (ESG).

Namun, benarkah ada perusahaan yang sadar serta bertanggung jawab (conscious company) untuk menerapkan prinsip-prinsip tersebut dan menyeimbangkan dengan profitabilitas perusahaan? Webinar yang diusung Gojek bertajuk "The Conscious Company: Shaping the Sustainability Agenda" membahas lebih jauh permasalahan tersebut bersama para ahli di bidangnya.

Salah satu pembicara dalam webinar tersebut yakni Head of ESG Morgan Stanley Capital International (MSCI) Asia Pacific Chitra Hepburn menunjukkan data dari United Nations Principle of Responsible Investment (UNPRI). Chitra memaparkan sebanyak 3.000 perusahaan di seluruh dunia telah menandatangani Principle of Responsible Investment dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mengharuskan lembaga modal ventura untuk meninjau aspek ESG dari sebuah perusahaan.

Artinya, keberadaan conscious company faktanya meningkat dan mulai menjadi perhatian serius perusahaan untuk memastikan bisnisnya bersinergi dengan aspek-aspek ESG.

Executive Vice-President Global Food dan Member of Executive Team Unilever Robbert de Vreede yang juga menjadi salah satu pembicara dalam webinar tersebut mengatakan bahwa Unilever memiliki tujuan untuk menjadikan keberlanjutan sebagai hal yang lumrah bagi masyarakat.

"Sebenarnya, prinsip keberlanjutan sudah kami pegang lebih dari seratus tahun yang lalu ketika salah satu pendiri kami, Lord Lever, memperkenalkan sabun Sunlight ke publik untuk meningkatkan akses terhadap kebersihan dan menjaga kesehatan," kata Robbert, dalam keterangan tertulis, Kamis (17/6/2021).

Robbert menegaskan, memang sudah seharusnya prinsip-prinsip keberlanjutan terintegrasi dengan operasional bisnis. Ia menekankan bagaimana untuk menciptakan dampak yang nyata, prinsip-prinsip tersebut harus menjadi bagian dari model bisnis.

"Kami percaya ketika keberlanjutan menjadi bagian dari model bisnis, maka sudah tercipta bisnis yang bagus; kami sudah ada selama seratus tahun, dan kami ingin tetap hadir untuk ratusan tahun mendatang. Jadi kami harus memastikan untuk tetap mendukung dan menjaga bumi serta populasi di dalamnya tetap sehat karena. mereka merupakan potensi masa depan kita," tambah Robbert.

Komitmen untuk menjaga sinergi antara penerapan aspek ESG dengan pertumbuhan bisnis inilah yang mendorong Gojek untuk melakukan hal serupa. Terbukti, perusahaan karya anak bangsa ini menjadi perusahaan berbasis internet pertama yang menerbitkan laporan Sustainability di Asia Tenggara, yang telah memenuhi aspek ESG sesuai dengan standar dari Global Reporting Initiative (GRI) dan Sustainability Accounting Standards (SASB). Dalam laporan Sustainability pertamanya, Gojek memiliki target untuk mencapai Three Zeros (Zero Emissions, Zero Waste, dan Zero Barriers) pada 2030.

Group Head of Sustainability Gojek, Tanah Sullivan menjelaskan bahwa target Three Zeros dicanangkan setelah melalui proses yang matang dengan melibatkan pihak eksternal dan internal Gojek.

"Sebelum kami mengumumkan target Three Zeros pada bulan April lalu, kami telah melalui proses yang panjang dan kompleks. Rangkaian konsultasi yang melibatkan berbagai pihak yang kompeten dalam bidang ESG, termasuk mendengarkan masukan dari pelanggan, mitra driver dan mitra usaha serta para investor dan pembuat kebijakan. Proses ini sangat penting bagi kami untuk memastikan yang kami lakukan bukan sekedar slogan, tetapi menjadi langkah untuk memastikan prinsip ESG terintegrasi dalam lini bisnis kami,"

"Berbagai upaya yang sudah dilakukan oleh Gojek untuk mencapai target Three Zeros yang mendukung praktik ESG, antara lain bergabung dengan komite pengarah National Plastic Action Partnership for Indonesia yang dikelola di bawah Kemitraan Aksi Plastik Global Forum Ekonomi Dunia,"

Selain itu, Gojek juga sudah meluncurkan inovasi seperti GoGreener Carbon Offset bagi pelanggan untuk memulai peduli terhadap lingkungan dengan menyerap jejak karbon, berkomitmen untuk melakukan transisi menggunakan kendaraan listrik, program paid cutleries GoFood hingga serangkaian program untuk internal perusahaan seperti membuat Kelompok Sumber Daya Karyawan, untuk memastikan tempat kerja yang inklusif dan kolaboratif.

Pada kesempatan yang sama, Deputy Head, Platform for Global Public Goods, World Economic Forum, Antonia Gawel menjelaskan tiga elemen yang mendorong perusahaan untuk menjadi conscious company, yakni risiko, peluang dan ekspektasi.

"Pertama, kita telah melihat selama beberapa tahun lalu, isu lingkungan dan risiko keberlanjutan lainnya mulai dianggap sebagai risiko utama bagi perusahaan. Sehingga, untuk merencanakan ketahanan perusahaan, risiko ini harus dipertimbangkan dan diintegrasikan ke dalam praktik dan model bisnis perusahaan."

Antonia menambahkan, keperluan untuk memitigasi risiko tersebut juga dapat membuka peluang yang luar biasa bagi perusahaan.

"Perusahaan akan melihat bahwa keperluan untuk memitigasi risiko ini bisa membuka peluang baru yang luar biasa bagi bisnis, seperti jenis investasi dan model bisnis baru. Contohnya seperti Gojek, yang telah berkomitmen untuk berinvestasi di kendaraan listrik. Mungkin sebelumnya dilihat sebagai pengeluaran (cost), memperhatikan aspek lingkungan dan keberlanjutan bahkan dapat mengembangkan bisnis." ujar Antonia.

Elemen ketiga yang dipaparkan oleh Antonia adalah ekspektasi. Ekspektasi dari pemegang saham mengharapkan perusahaan dapat mempertimbangkan peluang dan risiko dalam perencanaan bisnis.

"Kita melihat adanya dorongan besar dan ekspektasi dari pemegang saham yang mengharapkan perusahaan mempertimbangkan peluang dan risiko ini dalam perencanaan bisnis. Jika perusahaan melakukan ini, semakin banyak pemegang saham yang mendukung. Namun jika tidak, semakin banyak pula pemegang saham yang akan turun tangan dan menekankan ekspektasi ini kepada dewan perusahaan."

Gojek pun diprediksi akan meraup banyak investor jika konsisten dalam menganut prinsip ini. Faktanya, beberapa tahun terakhir, banyak investor luar negeri yang mulai melakukan investasi kepada mereka.

"Selama beberapa tahun terakhir, mulai banyak investor yang mencari bisnis ramah lingkungan dengan prinsip ini," tambah Chitra.

Ia mengungkapkan banyak investor yang saat ini ingin mulai berkontribusi dalam menjaga lingkungan. Oleh karena itu, ke depannya, prinsip ESG menjadi kunci penting dalam menjalankan bisnis.

"Para investor banyak yang mulai mempedulikan tentang lingkungan. Banyak diantara mereka yang tidak mentoleransi apa yang dilakukan oleh perusahaan korporat yang belum menerapkan prinsip ini," pungkas Chitra.

"Maka dari itu, conscious company memang ada, karena bisnis apapun tidak dapat tumbuh dan berkembang jika tidak ada bumi dan masyarakat tidak memiliki daya beli. Kesuksesan bisnis, perkembangan masyarakat dan pelestarian lingkungan harus jalan beriringan dan saling menguatkan," pungkas Tanah.

(mul/ega)