Ternyata! Ini Penyebab Gempa Maluku Tengah Berkekuatan M 6

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 16 Jun 2021 17:20 WIB
Ilustrasi gempa bumi (iStock)
Foto ilustrasi gempa bumi. (iStock)
Jakarta -

Gempa Maluku Tengah berkekuatan M 6 terjadi siang tadi. Gempa bumi ini ternyata akibat aktivitas sesar lokal, tepatnya sesar Kawa.

"Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat sesar lokal. hal ini sesuai dengan hasil analisis BMKG yang menunjukkan bahwa gempa tersebut memiliki mekanisme sesar turun (normal fault)," kata Kepala BMKG, Dwikorita Karwati, dalam jumpa pers virtual, Rabu (16/6/2021).

Penjelasan itu kemudian dielaborasi lagi oleh Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Bambang Setiyo Prayitno.

"Berdasarkan peta geoteknik Maluku, gempa ini diduga akibat aktivitas tektonik zona sesar kawa," ungkapnya dalam kesempatan yang sama.

Sejarah Gempa dan Tsunami di Maluku

Bambang juga memaparkan sejarah kegempaan yang menimbulkan tsunami di Maluku. Di masa lampau, gempa yang diikuti tsunami kerap terjadi di Maluku.

Sejarah kegempaan yang menimbulkan tsunami di Maluku, ini yang terdekat episenternya dengan kejadian hari ini adalah pada 4 Januari 1854," paparnya.

"Dengan banyaknya kejadian gempa yang diikuti tsunami memang Maluku sangat rawan dengan beberapa kali kejadian yang telah terjadi," sambung Bambang.

Warga Maluku Tengah Diminta Waspada

Kembali pada pernyataan Dwikorita, dia menuturkan masih banyak gempa susulan yang terjadi pascagempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 6 yang mengguncang wilayah Maluku. Oleh sebab itu, warga diminta waspada.

"Hingga hari ini pukul 13.35 WIB, hasil monitoring BMKG telah mencatat adanya 13 kali gempa susulan dengan magnito terbesar (M) 3,5. Oleh karena itu, rekomendasi kami kepada masyarakat terutama di wilayah pantai, wilayah sepanjang Pantai Japutih, Kabupaten Maluku Tengah di Pulau Seram perlu untuk waspada terhadap gempa bumi susulan dan potensi tsunami akibat longsor ke laut ataupun longsor pada tebing di bawah laut," ujar Dwikorita.

(imk/fjp)