Round-Up

Lara Pasutri Lansia Tinggal di Kandang Ayam Bertahun-tahun Lamanya

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 16 Jun 2021 06:07 WIB
Kandang ayam tempat pasutri lansia tinggal 7 tahun di Sumsel
Kondisi kandang ayam tempat pasutri lansia tinggal 7 tahun (Foto: M Syahbana-detikcom)

"Kami tak ada pilihan lain. Jujur saya tak mampu membangun rumah. Ini saja kami numpang di atas tanah milik warga untuk mendirikan rumah sekaligus kandang ayam ini," ujarnya.

Sehari-hari, Sulaiman dan istrinya bekerja dengan menawarkan jasa merawat kebun dan sawah milik orang lain dengan upah yang hanya cukup makan 2-3 kali sehari.

"Alhamdulillah, kalau ada rezekinya kadang dapat Rp 40 ribu cukup untuk makan, kadang tidak sampai segitu dan tidak bisa makan. Kami sudah biasa," jelas Sulaiman.

Pemkab Ogan Ilir Janji Bikinkan Rumah

Pemerintah Kabupaten Ogan Ilir (OI) berjanji membangunkan rumah layak untuk Sulaiman dan Nurhayati. Bupati OI disebut sudah meninjau dan memberi sejumlah bantuan kepada pasutri lansia tersebut.

"Sudah kita rencanakan pembangunan rumah secara gotong-royong dan lahan tempat tinggalnya dipindahkan ke tempat lain. Tidak jauh dari lokasi lahan tempat tinggal semula berjarak sekitar 20 meter," kata Kepala Dinas Sosial Ogan Ilir, Bahrus Syarif, saat dihubungi, Selasa (15/6).

Kandang ayam tempat pasutri lansia tinggal 7 tahun di SumselSulaiman dan Nurhayati sudah 7 tahun tinggal bersama di gubuk yang tak layak tersebut (Foto: M Syahbana-detikcom)

Bahrus menyebut pihaknya bakal memberi bantuan berupa uang pembangunan rumah baru. Sementara, lahan yang digunakan adalah milik warga yang bersedia meminjamkan tanahnya.

"Kita hanya membantu biaya untuk membeli papan dan seng. Pembangunannya di tanah milik warga setempat yang dipinjamkan dan akan dibuktikan dengan persetujuan tertulis," katanya.

Sementara itu, Camat Pemulutan, Muhammad Zen, mengatakan pasutri itu tidak memiliki kartu keluarga. Keduanya juga disebut tidak menikah secara resmi melainkan hanya menikah siri sehingga pemerintah setempat kesulitan dalam pendataan yang berujung keduanya tak dapat bantuan.

"Untuk bantuan PKH memang mereka tidak dapat karena tidak memiliki kartu keluarga yang resmi. Namun, kita tetap akan mencari jalan untuk mengajukan agar mereka bisa dapat bantuan dan kita juga berkoordinasi dengan pemerintah desa untuk bergotong-royong membantu pembangunan tempat tinggal mereka uang layak," kata Zen.


(jbr/eva)